My student is my wife

My student is my wife
Episode 2



Akira berjalan di lorong sekolah dengan langkah kaki pincang.... tak heran...aksi menerebos jalan yang di lakukannya semalam, berujung pada rem sepeda yang putus...hingga membuatnya terlempar ke semak-semak dan merasa malu di hadapan pujaan hatinya.


"Akira-chan..... " panggil seorang pria dari belakang Akira, sosok lelaki tampan dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya, datang menghampiri Akira dengan senyum tulus. Yups... seorang ketua osis tampan yang menyukai Akira sejak kecil, namun tak pernah mendapat balasan dari Akira.


" Shouta- senpai??? ada apa...???" tanya Akira bingung.


"Hari ini pengumpulan formulir pendaftaran club siswa... Kamu sudah pilih mau masuk club apa???..." Sigap kepala Akira menggeleng. "loh kenapa??? kamu juga harus isi lo... itu wajib, saat tahun pertama kamu gak masuk club apapun... jadi di tahun kedua itu di wajibkan..."


"Sungguh...??? Tapi aku belum tau mau masuk club apa???"


"eh?? gak tau?? gimana bisa??..." pandangan tak percaya Shouta yang di balas anggukan sigap dari Akira.


 


"Kamu ada sesuatu yang di suka???" tanya Shouta memandang Akira.


"Ada..."


" Apa?? Apa yang kamu suka.."


" Kak Rail..." sahutnya singkat...


Shouta mendongak tak percaya... bagaimana bisa dia menyukai gadis kadaluarsa begini... orang bicara tentang club siswa, tapi dia justru bicara tentang lelaki yang di sukainya...


Belum ia menyatakan rasa sukanya... dan bahkan belum berencana menyatakannya, tapi ternyata gadis yang di sukainya sudah lebih dulu menolaknya, walau tak secara langsung dan tanpa di sadari juga.


"ehemmm.... apa itu sejenis olahraga???.." tanya Shouta sok polos, walau sejujurnya ia ingin cepat lari dan membenturkan kepala tercintanya ke tembok belakang sekolah.


"eh?? olahraga??... bukan... dia orang yang ku sukai..." sahut Akira dengan polosnya.


"Astaga Akira-chan...kita sedang bicara tentang club siswa... bukan tentang kekasih... bisakah kamu sedikit serius.   aku tanya apa yang kamu suka...bukan siapa yang kamu suka.... jadi, kamu bisa apa aja" Ketus Shouta kesal bercampur cemburu.


"oh?? Aku suka bermain basket... karate juga bisa..Volly...piano...gitar..Biola...dan masih banyak..." Akira mengacungkan satu persatu jariny, menghitung segala hal yang ia bisa.


"lupakan...aku salah bertanya... harusnya aku gak bertanya hal seperti itu pada manusia multi guna sepertimu..." potong Shouta mengakhiri kata-kata Akira.


 


" Kau bisa menggambar bukan???.." kembali Shouta bertanya.


"ya..."


"kalau begitu...kau boleh ikut club menggambar..."


" baiklah..aku akan bergabung club menggambar...oh iya. aku lupa formulirnya masih di tas... aku akan pergi dan mengisinya... sampai jumpa Shouta-senpai.." Akira berlari menuju kelasnya... menutupi luka dan pincang kakinya.


gadis yang ceria dan polos... tak terlihat sedikitpun kesan anggun di dalam dirinya.


jauh berbeda dari anak keluarga konglomerat lainnya. yang lebih dominan dengan sikap sombong nan angkuh mereka.


Shouta tersenyum memandang Akira yang berlari layaknya anak kecil... Dia masih ingat betul saat mereka duduk di bangku sekolah dasar.. Akira yang terlambat datang ke sekolah, mencoba melompat dari jendela, saat gurunya sedang menjelaskan... Shouta yang melihatnya langsung menariknya hingga membuatnya terjatuh.


Saat Shouta membuka matanya dan mendapati dirinya di tempat yang setengah samar... ia mengedipkan matanya berulang kali ketika melihat CD bergambar bunga di hadapannya... yupss.. kepalanya tertutupi oleh rok gadis kecil yang baru saja di tariknya.


Shouta menarik kepalanya dengan cepat sampai mengangkat rok Akira naik dan memperlihatkan CD bergambar bunga.. persis seperti yang dilihatnya tadi.


Tak berujung di situ.. Shouta pun pernah mendapati Akira sedang memanjat pagar sekolah di tahun pertama ia memasuki Sekolah menengah pertama.... dan tak jauh berbeda, Shouta pun kembali menyaksikan hal yang tak seharusnya di lihatnya... ya, kali ini berwarna merah muda.


Tapi sedikit beda cerita saat di sekolah menengah atas... Akira terlihat lebih rajin ke sekolah dan selalu datang tepat waktu ,atau bahkan lebih awal.


**Di rumah ke diaman Itsu**


Rail berjalan menulusuri halaman rumah keluarga Itsu... pekarangannya yang luas, membuat orang lelah untuk sekedar berjalan dari gerbang menuju rumah... tapi jujur saja, rumah keluarga Rail jauh lebih luas dan besar. berbeda dengan keluarga Rail yang berpusat di jepang... keluarga Itsu justru memiliki rumah utama di Jerman, tempat dimana kakek dan nenek Akira menetap.


" Tuan muda Rail?? anda berkunjung hari ini??..." kepala pelayan rumah Itsu mempersilahkan Rail.


"ya... aku perlu bicara dengan Tuan mu... apa paman Itsu dirumah???" tanya Rail dingin... tak perlu heran atau pun bingung. semua pelayan di keluarga Itsu dan keluarga Yamamoto tau betul dengan sikap dingin dan sombong Rail.


Meski kepala pelayan itu jauh lebih tua darinya... namun jika di bandingkan, Akihiko justru lebih sopan memangilnya paman di bandingkan  Rail yang dengan pasti memanggilnya pelayan tua. Rail memasuki rumah keluarga Itsu dan menunggu Akihiko.


"Ada apa Rail??? kenapa tiba-tiba berkunjung??? apa ayah mu butuh sesuatu... atau ada yang lain???" tanya Akihiko mendekati Rail.


"Paman memang selalu tau apa yang ayah pikirkan..."


"tentu...kami bersama sejak Sekolah... tapi sebelum itu.. kenapa kau yang datang.. kenapa bukan ayahmu atau Ray..."


Sungguh ekspresi yang dingin... tidak terlihat seperti seorang yang butuh bantuan... tapi apapun itu, Akihiko akan tetap membantunya.. karna ini bukan antara hubungannya dengan Rail. tapi untuk pertemanannya dengan ayah Rail.


"Kami butuh bantuan paman untuk projek besar dari jerman...."  Suara Rail terdengar jelas dan mantap. Ya... anak itu selalu bicara to the point.. tak ada basa-basi... bahkan saat butuh bantuan sekalipun.


 


Akihiko menanggapinya cukup baik... pembicaraan mereka cukup serius, sampai si pembuat onar tiba-tiba muncul dan memeluk Rail... "kak Railllll...." serunya menghamburkan diri memeluk Rail.