My student is my wife

My student is my wife
Ini Salahku



======Rail Yamamoto=====


 


Tubuhku sakit dan kepalaku pusing... kubuka mataku perlahan dan memandang langit-langit ruangan yang sedang ku tempati ini,  Ruangan nya putih semua.... udah kayak ruang mayat aja, Aku mencoba untuk berdiri, tapi badanku gak sanggup... nyeri banget rasanya... sebelum akhirnya aku merasa ada yang menempel di tanganku, sakit kayak ketusuk...


 


 


Segera ku alihkan tatapanku pada tangan kiriku... bangke, ini infus... pantes sakit, ketusuk jarumnya,,,, eh??? aku di rumah sakit??? kok bisa ya???... kutekuk daguku menunjukkan kebingunganku.... helooo, ada apa dengan dunia?? kok bisa aku di rumah sakit, mana pake infus segala lagi.... dah tau orang takut jarum, masih aja di tempeli jarum.


 


 


"eh?? udah sadar kau ternyata bro.... gimana?? ada yang sakit??.. apa perlu aku panggil dokter??..." ucap seseorang berjalan masuk. Takamaru, salah satu teman dekat ku di kampus... eits, bentar... kok bisa nih tuyul disini. aku kenapa sih??,kok bisa sampai di rumah sakit?? gak habis pikir deh .


 


 


 


"kenapa??? kok muka mu bingung gitu?? jangan bilang kau lupa alasan kenapa kau sampai di rumah sakit??.."


"memang nggak??.." sahutku menaikkan alis.


"palamu peang... masa gak ingat alasan kau sampai bisa di rumah sakit... gak usah drama lah.... gak usah malu juga, setiap orang pasti pernah menyerah, gak terkecuali untuk orang hebat sepertimu... yang populer dan berwibawa.." jawabnya panjang lebar.


 


 


ini orang ngomong apa dah, sumpah aku gak paham... nyerah?? malu?? apaan sih...gak jelas banget.


" kau itu ngomong apa sih... datang-datang ngomong gak jelas, aku tanya kenapa aku disini??.."


"ya kan aku dah bilang.."


"kapan??"


"tuh barusan... "


"mana ada, yang ada kau ngomong ngacok..."


"ck... tau ah, susah ngomong sama orang pintar.... tapi ngomong-ngomong, aku salut samamu... kau tuh dah berhasil curi perhatian media tau gak?.."  semakin ku tautka wajahku yang benar-benar tak paham dengan apa yang di ucapkannya.


 


 


kayaknya sih semalam dia kesamber petir... terus palanya error gitu, sampai gak bisa ngomong jelas... curi perhatian?? media??... gak jelas ah.


"iya... Aksi bunuh diri putra kedua dari keluarga Yamamoto... tidak di ketahui alasan pastinya, namun banyak yang berkata, bahwa itu di karenakan patah hati... dan bla..bla..bla..bla.. gak tau banyak deh di omongin, ntah apalah... kalau kau mau tau, nanti tanya aja sama kakak mu..." ucapnya panjang lebar.


 


 


 


"gak... gak perlu ku tanya... kau ngomongnya ngaco.. yang ada ada aja, masa aku mencoba bunuh diri???... dunia runtuh pun aku gak bakalan mau bunuh diri... aku tuh bukan pecundang yang suka lari dari masalah sob.."


"buktinya sekarang, kau berbaring di brankar rumah sakit... terus ini gegara apa coba??"


"ya mungkin aku belum ingat karna shock, tapi aku yakin bukan karna percobaan bunuh diri... gila aja aku bunuh diri... nggak..nggak... nggak mungkin banget..." tolak ku tak percaya.


 


 


 


gak tau aja dia... gak ada kata menyerah, apa lagi bunuh diri di dalam kamusku... yang benar aja, aku mencoba bunuh diri.


"gak percaya yaudah... toh keluar dari rumah sakit, kau juga bakalan tau kok... orang semua media tau kok..."


"iya.. lah iya, terserah kau aja.... tapi ngomong-ngomong, kok kau tau aku di rumah sakit??."


"taulah... kan aku yang bawa.." ketusnya jengkel.


"kau yang bawa aku?? kok bisa??"


"ya elah... aku kebetulan lewat hari itu, Ya karna aku kenal kau yang berbaring disitu, jadi aku bilang mereka biar aku yang bawa... terus si gadis itu udah di bawa duluan sama teman-temannya itu."


 


 


"berbaring?? dimana?? terus gadis siapa??... terus kau bilang hari itu, emang udah berapa hari aku dirumah sakit??" tanyaku masih tak paham.


"kau tuh dah tiga hari di rumah sakit... aku lihat kemaren, banyak orang kerumunan gitu, karna penasaran aku ikut nyosor, beberapa orang mulai mengangkatmu... tapi aku minta  mereka masukkan kau ke mobil.." ucapnya datar.


 


 


 


"oh?? kok bisa ya? aneh banget.." ucapku mengelus daguku.


"ya mana aku tau... kau tuh yang aneh, masa gak ada ingat sih... aku dengar, kau tuh coba bunuh diri, dengan jalan di tengah jalan pas lampunya udah hijau... terus, ada anak sekolah yang nolong kau.. jadi dia yang ketabrak, dan kau selamat..." ketusnya menatapku tajam, soakkk.. aku benar-benar gak ingat.


 


 


 


"eh?? anak sekolah??.. baik banget dia bantu aku... yahhhh, jadi punya hutang budi deh.." ucap ku malas.


"apa sih kau ini, di bantu in juga, gak tau makasih banget... dasar manusia munafik."


"suka ku.. memang manusia munafik dan egois kok.."


"iya deh kau menang, tapi serius... masa kau gak ingat apapun pas kecelakaannya??" tanyanya masih ragu kelihatannya.


 


 


 


Ku gelengkan kepalaku mengiyakan... memang gak ingat pun.


"kalau gitu aku tanyak... apa yang kau ingat terakhir kali... sebelum kau bangun tadi..." tanya nya menimpali... aku diam berfikir sejenak. Hingga terlintas semua kejadian di hotel, pengkhianatan Yuka yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri dan rekaman yang ku dengar.


 


 


"bacottt.. emang apaan yang kau lihat.." ketusnya meledek


"aku lihat Yuka sama selingkuhannya di kanar hotel..."


"hah?? kau seriusss?? belahan jiwamu yang sempurna itu selingkuh... hahaha, Rail Yamamoto, mencoba bunuh diri karena patah hati... ternyata berita itu benar..  hahaha.." tawanya pecah membuatku ingin menggoloknya... kampret kau.. bukannya bilang sesuatu kayak baik-baikin, malah di ketawain, dasar kawan bangs*t..


 


 


 


"aku gak bunuh diri njerrt... aku dah bilang, dunia runtuh pun ,aku gak bakalan bunuh diri sialan..."


"lah... kalau gak bakalan bunuh diri, kenapa kau disini coba??" ucapnya tersenyum miring... pengen ku bacok lah pala anak satu ini.. kesal kali aku.


"itu yang nggak aku tau... kau bilang aku berbaring di kerumuni orang... terus ada anak sekolah yang jadi korban kecelakaan, gegara bantu aku... aku aja gak paham ini..."


"yaudah... ingat-ingat lagi lah... habis kau lihat dia, kau kemana coba?? kasihan yang nolongin kau, kalau kau sampe gak ingat dia... hutang nyawa kau sama dia.." sewotnya membuatku jengkel... dah kayak cewek cerewetnya.


 


 


 


"oh ya... kata orang-orang yang aku tanya... kelihatannya anak itu kenal kau... soalnya dia teriak namamu keras banget... coba dwh ingat-ingat, siapa terakhir kali yang manggil namamu sampai keras banget.."


"namaku ya.... bentar ya.. habis dari hotelll... hmm" aku berpikir keras mengingatnya... hingga serpihan memori itu muncul perlahan... meski kepala ku sedikit sakit, tapi karna ini bukan amnesia..  ya, jadi aku masih bisa tahan sakitnya.


 


 


Saat itu hatiku hancur... aku keluar hotel dengan langkah kesal, dan menghubungi salah satu pelayan kami, untuk menjemput mobilku... dan kuncinya kukasih sama manager hotel.....lalu aku jalan kaki entah sampai mana... aku gak sadar karna aku masih gak percaya dengan apa yang kulihat.


 


 


 


 


lalu... lalu setelah itu...


"akh... lalu setelah dari hotel aku jalan tanpa perhati in jalan... tiba-tiba ada yang manggil namaku keras banget... aku kenal banget suara itu... pas aku noleh,ada mobil yang melaju cepat, tiba-tiba badanku udah sampai di trotoar dan badanku sakit... banyak orang kerumunan di depanku.. lalu..."


 


 


 


"lalu?? lalu apa??.." tanyanya menaikkan alisnya.


"aku gak lihat wajahnya, hanya tangannya yang terlihat di antara kerumunan itu... tapi aku kenal suaranya... lalu aku lihat... aku lihat banyak darah mengalir di tangannya... banyak banget, merah banget..." entah kenapa tubuhku bergetar mengingatnya... suara itu... suara itu tak asing, suara yang selalu berlari kearahku setiap kali melihatku... suara itu milik si setan kecil.


 


 


 


aku menarik infusku hingga lepas,dan menggerakkan kaki ku untuk turun dari brankar.


"eh?? mau kemana kau... jangan sembarang gerak dulu.. itu lengan kananmu masih cedera.." bentak Takamaru menahanku.


"gadis itu... apa gadis itu selamat?? apa dia baik-baik aja..." seru ku menatap mantap padanya.


"eh??? kau kenal gadis itu??"


"aku tanya.. apa dia baik-baik aja..." teriakku tak sabaran.


 


 


 


 


"sabarlah bro, jangan main nyerocos aja... tenang dulu oke..."


"cepetannn... aku tanya dia baik-baik aja atau nggak??... mana bisa tenang saat aku tau, ada yang jadi korban kecelakaan gara-gara aku .."


"i.. itu, katanya lukanya parah... cukup parah maksudnya..." ucapnya membuatku terduduk... nggak, aku nggak percaya ini... jangan bilang yang nolong aku saat itu benar-benar si setan gentayangan... gimana aku bakal jelasin sama paman Akihiko dan kedua kakaknya nanti... lalu kakak, dia pasti bakalan benci aku...


 


 


 


"lalu.. bagaimana keadaannya.." ucapku putus asa.. sial, ini salahku.


"di..dia,... dia belum sadar, kata dokter, kecil kemungkinan dia selamat, luka pada kepalanya cukup parah, begitupun dengan benturan di tangannya  dan pendarahan hebat pada kepalanya... aku gak tau dia bakal selamat atau nggak..." nada Takamaru begitu ragu... aku tau dia nggak berbohong... sialan, kenapa juga saat itu dia menolongku, gadis bodoh... benar-benar bodoh, kenapa masih menolongku, disaata ku sudah menghinanya dan memper malukannya.


 


 


"bawa aku melihatnya..." ucapku pelan


"apa??"


"aku bilang...bawa aku melihatnya.." ucapku mengulangi kata-kataku