My student is my wife

My student is my wife
Realita hidup Akira



=========Rail Yamamoto=========


 


 


Besok nya, setelah dari kantor... aku berangkat ke kampus, aku punya kelas siang hari ini... tapi memang masih ada waktu dua jam lagi sebelum kelasnya di mulai...


 


Saat berjalan di sekitar taman kampus,,, mataku menangkap sesosok gadis yang ku kenal, sedang tidur di kursi taman dengan kepala yang bersandar ke meja.. yups, akan kubalas ulah mu semalam... hehehe, aksi balas dendam pun di mulai.


 


 


Belum aku menyentuhnya, aku melihat segumpalan tissu menyumpat di hidungnya, dengan noda merah yang hampir memenuhi... dan entah kenapa, aku jadi merasa bersalah melihatnya.


"ini benda apaan Akira??.." tanyaku yang ternyata berhasil mengejutkan nya.


 


Brughhh..


Shit, buku di tangannya menghantam wajahku hingga membuat hidungku ikut mengeluarkan darah.


"aw... sakit Akira.." Aku meringis kesakitan dan melihat darah yang menetes, itu buku atau batu sih..


"ups... maaf pak... lagian bapak ngejutin sih... datang udah kayak mahkluk halus aja, muncul tiba-tiba.." ck, dingin banget ngomongnya... ini dia lagi minta maaf atau ngatain aku sih.


 


 


"iya..iya... tadinya saya mau nanya, itu di hidung kamu apa?? kok merah-merah gitu.." sejujurnya aku udah tau sih, tapi entah kenapa aku masih ingin bertanya.


"ya tissu yang kena darah lah pak.." sahutnya datar.


"kok bisa??" Aku mulai duduk di kursi tepat di sebelah dia.


"ya bisa lah.." apa sih anak ini, gak jelas banget, jelasin dikit kek.


 


 


"ini... hidung bapak berdarah..." ucapnya menawarkan tissu dari kantongnya, dia ini memang selalu bawa tissu ya.


"itu apa???" aku menunjuk tiga botol kecil yang berisi sesuatu seperti obat pill dengan sebotol air mineral yang cukup besar, dan juga kotak makanan... kelihatannya dia baru selesai makan. dan meminum obat, tapi malah lupa menyimpan karna efek ngantuk dari obatnya... kurasa sih.


"obat penyakit kepala saya, penambah darah dan juga pill vitamin.." jelasnya singkat padat dan jelas....


 


 


"emang kepala kamu sakit apa??..." bodoh, bodoh... kenapa malah bahas ini sih, pasti di kira aku ini goblok karna sok gak tau... Rail bodoh.


"Obat sakit kepala saya yang mengalami komplikasi akibat dari kecelakaan tiga tahun lalu..." masih dengan nada yang datar dan tatapan yang dingin.


 


 


"oh ya pak... bisakah anda duduk di depan sana saja... maksud saya, bisakah anda sedikit memberi jarak??" hah?? aku gak paham maksud dia.


"maksudnya?? memangnya kenapa kalau saya duduk di samping kamu" tanya ku santai.


"saya gak mau kalau orang-orang berpikir, saya dekatin bapak padahal saya udah punya seseorang... saya juga gak mau kalau kak Shouta sampai salah paham melihat kita duduk sebelahan... dan yang paling saya tak ingini... saya tak mau kalau sampai, kekasih anda melihat saya bersama anda seperti tiga tahun lalu, dan saya berakhir dengan penghinaan dan perendahan martabat yang anda lakukan.."


 


Deg..


Aku terdiam kehabisan kata-kata...


"Aku tak peduli.. " sahutku setelahnya, meski aku tetap berjalan ke kursi yang itu maksud.


"aku bilang aku gak peduli.." ucapku mengulangi.


"maksudnya??.."


 


 


 


"hei Akira... kurasa aku mulai paham maksud dari kata-katamu tiga tahun lalu... cinta itu didasari oleh kepercayaan... jika ia tak percaya denganku, bagaimana aku bisa berharga untuknya... jika dia tak percaya denganku, bukan kah itu sama saja dia hanya takut kehilanganku karna alasan tertentu??... cinta yang tulus tak akan pernah mencurigai kekasihnya bukan?? benarkan??" Entah kenapa aku berharap dia akan menanggapinya.


 


"aku tidak tau.... aku tak pernah tau arti cinta... persis seperti dulu yang bapak katakan... anak kecil sepertiku bisa paham apa... Aku hanya mengagumi seseorang aja sampai membuat masalah." sahutnya dengan tenang, membuatku terdiam dan sedikit kecewa.


 


 


"Akira... apa kau pernah menyesal karena menolongku saat tragedi itu???.." pertanyaan itu akhirnya berhasil membuatnya memalingkan pandangannya padaku.


"jika mengingat semua kecacatan dan kekurangan saya saat ini... jelas saya menyesal, bahkan sangat menyesal... tapi. melihat bapak yang masih bisa berdiri dan hidup normal, itu membuat saya bersyukur juga." Aku terdiam dan hanya mendengarnya.


 


 


"Setelah kecelakaan itu, saya merasa bangga pada diri saya. Ada yang bilang, cinta itu butuh pengorbanan,,,, sebelumnya, semua pengorbanan yang saya lakukan adalah nol untuk bapak. hingga hari itu, saya mengorbankan cinta tulus saya itu... dan bersamaan dengan kecelakaan itu, cinta itupun berakhir,,, persis seperti yang anda harapkan..." sungguh aku terbukam dan tak tau harus berkata apa.


 


 


"selama setahun setelah kecelakaan itu, saya mulai sadar... tak ada yang benar-benar menginginkan saya... Ayah dan ibu saya ,, ribuan cara saya lakukan untuk mendapat kasih sayang mereka, saya berusaha menjadi yang terbaik dalam segala perlombaan dan kompetisi, agar mereka memuji saya... hasilnya tetap nol, saya membuat ulah agar mereka sedikit memperhatikan saya, pada akhirnya mereka meminta kak Ryu yang mengurus saya... lalu, saya berjuang untuk bapak... agar sekali saja bapak memandang saya, membuat masalah dan selalu berlari kepada bapak, berharap bapak mau menemani saya untuk sekali saja... tapi tetap saja nol."


 


Entah kenapa hatiku sedih mendengar, seberapa besar penderitaan yang di tanggung anak ini.


"tapi apa yang membuat saya lebih kecewa, sejak saya sadar dari coma selama tiga bulan itu, ayah saya bahkan tak datang menemui saya ke Jerman... dan ya, saya juga mendengar dari kak Ray, bahwa bapak kembali dengan kak Yuka... saat itu saya memutuskan untuk mengubah hidup saya, dan berhenti mengejar apa yang tak seharusnya saya miliki... selama ini saya hanya menyia-nyiakan hidup saya... saya juga ingin hidup bahagia, bahkan jika itu tanpa kalian... karna itu lah saya memulai sesuatu yang baru dan membunuh Akira yang dulu..."


 


 


"kau memiliki kontak dengan  kak Ray???.." tanyaku tak percaya,,, bukan kah dia bilang dia tak tahu kabar Akira.


"ya... karna dia teman baik kak Ryu..."aku terbungkam mendengarnya... bukan kah itu berarti dia membantu Ryu menjauhkan Akira dariku.


 


"sayang... maaf ya lama.." ucap Shouta yang tiba-tiba muncul dan mengecup kepala Akira.


"gakpapa kok kak.." sahutnya tersenyum membuatku kesal... selama bersmaku, dia hanya menunjukkan tatapan dingin nya, tapi berubah bahagia begitu melihat bocah culun ini.


"Yaudah... kita pergi sekarang yuk.." kayaknya nih anak gak sadar aku duduk di depan Akira.


"kalian mau kemana??" tanyaku penasaran.


 


"loh bapak?? bapak di sini juga toh..." memang iya, mata mu yang sedeng, bisa gak sadar orang se gede gajah gini.


"Ini jadwal therapy Akira... tadi saya bilang biar dia tunggu sebentar, saya ingin menemaninya therapy.. duluan ya pak..." Aku hanya dia memandang punggung kedua anak itu... tangan nya saling menggenggam.


sakit ya...


 


🙀🙀🙀


bacottt si Rail, kita bantai yuk dia...


manusia satu itu, munafik😤😤