
=======Rail Yamamoto=======
Ruanganku sunyi seolah tak ada orang di dalamnya.... Aku menatap intens terhadap Akira yang menepis kuat tangan Yuka. entah pemahaman apa yang di tangkap Akira dari pandanganku.
"Maaf kan saya nona Yuka, saya tak bermaksud menyakiti anda.... saya hanya tidak suka bersentuhan dengan orang asing..." ia membungkukkan badannya, membuatku dan Yuka terdiam seribu bahasa karna tertegun.
Akira yang aku kenal, tak akan pernah meminta maaf pada Yuka, bahkan jika aku memaksanya sekalipun... dia akan selalu berkata lebih baik mati daripada minta maaf.
"oh.. Akira, tidak apa-apa.. aku senang hanya melihatmu baik-baik saja..." ucap Yuka memandang Akira bersikap acuh. ada niat terselubung dari nada bicaranya, tapi aku hanya diam saja... biarkan saja , terserah dia.
"oh iya Akira... aku juga berterima kasih loh, terima kasih sudah mencium Rail saat itu... berkat insident hebat itu, aku jadi sadar, kalau aku sangat mencintai Rail... terutama saat aku tau dia tidak terluka parah, aku bahagaia sekali..." Astaga, bicara apa wanita ini. aku memandang Akira yang semakin terlihat tak acuh.
"Yuka... bukan kah kau datang untukku, jangan mengganggu mahasiswaku.."ucapku seraya memandang tajam Yuka..
"tentu saja sayang, aku datang hanya untukmu... tapi aku terkejut saat melihatmu bersama gadis ini... sedang apa dia disini.." suara manja Yuka bergema di ruanganku, dan dirinya yang duduk di pangkuanku sambil mengusap pipiku... sekarang ini, dia lebih terliihat seperti penggoda dengan sikap manjanya.
Aku mengalihkan pandanganku pada Akira yang hanya memandang dingin ke arah kami sambil menekuk dagunya,tatapannya mengatakan bahwa dia merasa jijik.... sungguh berubah sudah dia. Aku masih ingat dulu, setiap kali Yuka bersikap manja atau menggoda di hadapanku... dia akan langsung menghina dan menyebut Yuka wanita murahan... atau bahkan mengerjai Yuka dengan cara liciknya, hingga membuatku marah dan memakinya, atau mengusir paksa dirinya dari hadapanku.
"Sayang... aku mencintaimu.." ucap Yuka lembut, seraya mengecup bibirku... tak biasanya aku antusias, tapi entah kenapa aku justru ingin membalasnya saat ini.
"Aku tau sayang... aku juga sama" ucapku setelah mengakhiri ciuman kami.
"oh Akira, kau dengarkan yang dikatakan Rail... dia masih mencintaiku... jadi menyerahlah mendekatinya, kau tak punya ruang di hatinya.. dan kau tak pantas untuknya" ucap Yuka yang membuatku hanya diam saja.
Sedari tadi, Akira hanya diam saja... ia memandang kearah kami berdua sejenak... lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.
"Aku tak menginginkannya.... kau boleh memilikinya, aku tak peduli," ucapnya santai, membuat Yuka tertegun
" Kau tau nona Yuka... aku juga berterima kasih padamu... berkat penghianatanmu padanya dan kecelakaan itu, aku berhasil menuntaskan ketulusan cintaku padanya.... dan berkat kau, aku menyadari satu hal.." bicaranya sangat tenang dan dingin.
"Aku menyadari bahwa dia tak layak untukku... kami tak sepantarant dan dia tak pantas untukku.."
"Kau!!.. apa yang kau katakan?!!" pekik Yuka emosi, aku hanya diam tanpa kata-kata.
"kenapa?? ada yang salah?? bukankah kata-kataku benar??... Kau mungkin pantas untuknya, tapi dia tak pantas untukku... kau menyukainya karna dia tampan dan kaya bukan?? lalu menurutmu,,, apa yang bisa aku kagumi darinya??" kata-kata itu berhasil menyulut api kekesalan Yuka, aku menahannya sebisaku, agar Yuka tak terbawa emosi.
"Hei... lihat aku ini,... Aku cucu dari pebisnis terbesar di eropa, dan Ayahku pengusaha sukses di jepang... Aku si gadis multi talenta, yang hidupnya hancur karna dengan bodohnya mencintai lelaki yang tak pantas untuknya...kaya?? harta kakekku seratus kali lipat lebih banyak dari kekayaan mereka, dan ayahku adalah anak tunggal, kami bertiga bahkan punya mansion masing-masing di jerman dan inggris... tampan?? Aku mengenal orang yang seribu kali lebih tampan darinya di berbagai belahan dunia.... aku sadar hal itu setelah kecelakaan itu... hebat bukan??.. setelah di pikir-pikir, aku baru sadar kalau aku begitu bodoh, karna selalu bahagia melihat ayahku dan ayahnya bekerja sama, seandainya saja aku sadar dari dulu, bahwa mereka itu hanya parasit yang hanya menggunakan kekuasaan ayah dan kakekku untuk memperbersar perusahaannya..." tak pernah kubayangkan bahwa Akira sanggup berbicar seperti ini.
walau dulu dia selalu bicara asal-asal, tapi tak pernah ia bicara se tajam ini. Kata-katanya berhasil menyulut emosiku.. aku mengepal kuat tanganku..
"Akira Itsuuu..." geramku menatap tajam ke arahanya.
"Jangan menyebut namaku dengan nada seperti itu... itu membuatku jijik melihatmu dan wanita itu... jika ini bukan di kampus, mungkin aku akan lebih senang di panggil nona muda Itsu olehmu... dan ya, entah kenapa, aku benar-benar muak dan jijik melihat kalian... aku bahkan tak ingin bernafas di ruangan yanh sama dengan kalian" ucapnya membuat ku semakin emosi... ingin rasanya ku cakar mulut nya itu.
padahal ia mengucapkan itu dengan tenang dan dingin... tapi aku merasa seolah dia berbicara kasar dan meneriakinya.... dadaku menggebu-gebu penuh emosi.
"Yuka... keluarlah..." pintaku pada Yuka.
"tapi Rail.."
"keluarlah sebelum emosiku ter tumpahkan padamu..." ucapku mendengus kesal.
Setelah Yuka keluar, aku berdiri tepat dihadapannya.
"apa-apaan dengan kata-katamu itu???" ucapku emosi dan mengepal kuat tanganku.
"ada apa?? kau keberatan?? apa ada kata-kataku yang salah??" santai betul dia berucap... membuatku semakin jengkel, hingga lupa bahwa ini di kampus.
"kauuuu!!!.." pekik ku emosi dan mengepal tanganku di depan wajahnya... sebelum akhirnya aku melepas kepalan tanganku saat melihat wajahnya.
"Akh... sial, keluar lagi ternyata..." ucapnya santai... tanganku refleks ingin membantunya memposisikan kepalanya, agar darahnya tak banyak keluar, sebelum akhirnya dia menepis tanganku.
"bukan kah sudah kukatakan aku tidak suka di sentuh??... " ucapnya menekan hidungnya.
"dari pada sok perhatian dan kasihan... lebih baik anda katakan semua yang perlu anda katakan, dan biarkan saya meninggalkan ruangan yang memuakkan ini segera..." ketusnya membuatku diam