
========Rail Yamamoto===========
"Astaga Akira.... kenapa bisa sampai begini???.. ada apa denganmu???" tanya lelaki itu memeluk erat Akira dan memposisikan kepala Akira menghadap atas, dan darah di hidungnyapun mulai berhenti... gak tau kenapa, geram lihatnya... orang udah sakit gitu, masih aja modus meluk.
"Hei... kau ini siapanya, kenapa main peluk aja sih..."ketusku menarik lengannya.
Tunggu.. bukan hanya dia, Akira pun membalas pelukannya.... jadi ceritanya mereka ini lagi ngukir kisah kasih drama korea nih.... Jonggol, orang khawatir setengah nyawa, mereka malah asik pelukan... dasar manusia sialan kalian dua.
"kak Shouta...??" ucap Akira lirih... entah kenapa, baru kali ini aku merasa iba melihatnya.
"ya?? kenapa Akira-chan??? apa darahnya belum berhenti??.." ucapnya memandang hidung Akira.
"ke... kepalaku sakit.." suaranya terdengar letih dan lemah.
Hei... ada apa ini, tubuhnya langsung lemas dan matanya tertutup.... tanganku sigap untuk mengangkatnya, namun lelaki bernama Shouta itu sudah lebih dulu membawanya.
"apa yang kalian lihat sialan... minggir semuanya atau aku akan melempar kalian.." bentaknya penuh emosi... terdengar ke khawatiran yang begitu dalam.
"naik mobilmu dan aku akan mengahtar kalian.." tawarku yang langsung di iyakan lelaki itu dengan cepat. Sampai di rumah sakit, Akira langsung di tangani dokter... Aku dan Shouta hanya menunggu di luar.
" Halo kak..." ucap Shouta Khawatir.... lah, nih anak.. perasaan barusan masih muter-muter kayak gasing deh... kapan nelfonnya, terus dia nelfon siapa coba???"
"kak Haru... kakak di dimana... kita lagi dirumah sakit ini, tadi penyakit Akira kambuh," Tunggu dulu.. dia kenal Haru?? bagaimana bisa??. siapa sih anak ini??.
"iya... tadi hidungnya keluarin banyak darah, terus tiba-tiba dia bilang kepalanya sakit... lalu dia pingsan gitu aja, jadi aku bawa dia kerumah sakit deh.." Jelasnya nyerocos... ntar, yang bawa mereka ke rumah sakit perasaan aku deh... kok dia bilang dia yang bawa... modus banget nih anak.
Beberapa saat kemudian, aku melihat Haru muncul dan berjalan dengan cepat... dilihat dari pakaiannya, kelihatannya dia memang sedang berada di rumah sakit ini tadi.
" Shouta... dimana Akira?? apa yang terjadi padanya?? kenapa bisa begini??" tanya nya menyerang lelaki itu dengan pertanyaan beruntun. untung bukan aku yang di tanya... setajam-tajamnya Ryu bicara, anak ini jauh lebih tajam dan lebih pedas saat menghina orang.
" A... aku kurang tau kak, tadi saat aku mendapat pesan darinya, aku langsung berlari ke tempatnya, pas aku lihat dia... dia udah kayak gitu, lalu tiba-tiba pingsan gitu aja.." jelasnya sedikit takut... gimana gak takut, nih orang natapnya kayak mau bunuh aja.
"ta...tapi pak Rail sudah berada disana saat aku datang... kakak lebih baik bertanya pada kak Rail," tangan nya menunjuk kearahku, membuat tatapan tajam Haru berpindah padaku... bersengs*k kau bocah, kenapa bawa-bawa namku segala sih.
"oh.. ada kau juga rupanya??... " ucapnya sinis. memang nih anak sama kakaknya itu selalu aja nganggap aku tuh kayak musuh bebuyutannya... terutama sejak insident kecelakaan itu... aku bahkan akan di usir dari rumahnya, jika kebetulan datang untuk berdikusi bisnis dengan paman Akihiko.
"kenapa?? apa kali ini juga ada hubungannya denganmu??"
"apa??" tanyaku spontan..iyalah, aku gak paham dia lagi ngocehin apa, kok tiba-tiba jadi aku pulak yang salah disini.
"maksudmu apa?? aku tidak ada hubungannya dengan keadaannya yang seperti ini... aku hanya lewat saat ada kerumunan, dan aku bertanya ada apa... saat salah satu mahasiswa menjawabnya, aku hanya melihatnya karna khawatir, siapa sangka akan ada Akira disana.." jelasku dengan nada ketus.
"oh?? seriusan?? sejak kapan Tuan muda Rail kita yang agung ini mengkhawatirkan seseorang??? sejak ia menjadi dosenkah..."ucapnya sinis... ya ampun, pengen ku hantam mulutnya itu.
"ah iya, tuan muda Rail... bukan kah kau selalu berkata bahwa kau benci keributan??... siapa sangka, setelah adik ku meninggalkan negara ini, ternyata kau menjadi dosen... bukan kampus itu berisik??...cih, munafik" lanjutnya memalingkah tubuhnya,
"Karna kau tak ada hubungannya dengan ini, maka kau boleh pergi sekarang... tapi jika sampai aku tau kau menyiksa atau menyakiti adikku di kampus dengan wewenangmu sebagai dosen... jangan salahkan aku, jika aku menghancurkan keluargamu.. kekasihmu dan terutama KAU.." ancamnya menekan kata Kau tepat di hadapanku