
Tolong ya readers.... baca itu dari awal, saya bukan penyabar yang mau ceritain ulang lagi... jangan bilang ceritanya bikin bingung, kalo sampean sendiri gak ada baca dari awal... mata saya sakit liatnya... saya cukup sayang sama kakak" sebelumnya yang rajin baca, jadi buat yang baru nongol, jangan koment kalo belum baca semua.plis lah ya... baca, jangan lompat-lompat kayak katak... saya menghargai koment, tapi tolong yang bermutu dan jelas alasannya. saya ini orang yang kasar loh... tapi saya juga berlogika.
\=========Rail Yamamoto===========
Aku melirik Akira yang berdiri di altar pernikah bersamaku... tubuhnya disini, namun jiwanya melayang entah kemana.
"Akira.. ayo turun..." ucapku menggenggam tangannya.
Sungguh munafik diriku ini,yang menerima permintaan nenek tanpa ada usaha penolakan... aku bahkan mengabaikan kata-kata Yuka yang memaksaku untuk menolaknya.
Sulit untuk ku pahami... namun, saat nenek memintaku menikah dengan Akira, hatiku merasa senang tanpa alasan,, dan bercampur juga dengan rasa bersalah dan khawatir.
"Hei..." ucap Akira pelan, membuatku spontan memandangnya.
"ya???.." aku meliriknya penuh tanya.
"Apa kau puas sekarang???.. apa rasanya menyenangkan merebut kekasih orang??..dan menghancurkan kebahagiannya?" entah kenapa, pertanyaan itu menusuk bagiku... serendah itu lah diriku dimatanya.
"maaf..." hanya itu yang terucap.
Kulihat dia berjalan menuruni altar menuju gerbang taman... ya, pernikahan kami diadakan di sebuah taman mewah di Osaka... tak banyak tamu di undang,,, permintaan Akira yang tidak ingin pernikahan kami di umbar-umbar.... ku ikuti dia untuk menyalami para tamu yang datang.
Aku melihat beberapa orang bule menyalami kami, mungkin teman-teman Akira yang dari Jerman... seorang dari mereka menepuk lembut kepala Akira dan memintanya tersenyum... Setelah mereka berlalu, Akira terus memandang ke luar taman... aku tau siapa yang di tunggunya,,,, namun aku berharap agar yang di tunggunya tak datang. Entah karna aku tak ingin melihatnya bersama Akira, atau aku takut mereka akan semakin terluka...
Rasanya sesak melihat Akira yang berdiri di sampingku sebagai pengantinku, namun hatinya melayang pada kekasihnya yang berada di Tokyo.... ingin aku menghentikan pernikahan ini, dan menarik Shouta untuk menggantikan posisiku... namun, kulirik nenekku yang duduk di kursi roda, dengan selang infus yang bergantung disisinya, juga kantong oksigen yang berada di balik kursi rodanya... membuatku semakin dilema.
Setelah resepsi pernikahan selesai... Aku membawa Akira ke rumah yang dulu kubeli untuk aku dan Yuka, malam itu juga kami kembali ke Tokyo... di sepanjang perjalanan, Akira hanya diam... bahkan tak memandangku sama sekali.
"Akira... kamu masuk duluan... aku mau ke perusahaan bentar, ada yang mau ku ambil..." ucapku berbohong, sungguh miris bukan?? biasanya pengantin baru akan berada di rumah menikmati malam pertama mereka... tapi aku justru ke kantor karna takut melihat kebencian di matanya.
Pernikahan ini... hanya sebuah kecurangan yang kulakukan untuk merusak kebahagiaan seorang gadis kecil.
Kulajukan mobilku menuju sebuah taman di pusat kota... belum aku turun dari mobil, kulihat Shouta yang duduk tertunduk di salah satu kursi panjang...
Malam yang indah, namun dia kemari bukan untuk menikmatinya... melainkan melepas kesedihannya yang menghancurkan hatinya... mencoba mencabut duri yang menancap begitu dalam di hatinya.
Sungguh tak sanggup dan tak berani aku bertemu dengannya... ku putar mobilku dan kubawa ke kelab, malam ini aku akan memakai ruang VIP nya untuk menginap. Besok.. aku harus mencari cara untuk bicara dengan Akira, bagaimanapun juga.. kami sudah sah menjadi suami istri.
Aku tak tau kehidupan apa yang nanti akan kami alami... namun dapat ku tebak, dihatinya... akan selalu tergores kebencian terhadapku. Baru aku bisa dekat dengannya setelah kembali dia kembali dari Jerman... namun mungkin, kisah kami yang dulu akan kembali terulang... meski akan dengan cerita yang berbeda, karna disini... aku yang menjadi orang yang dibenci.
"Hei... sediakan satu ruang VIP untukku... dan kirim minuman juga," ucapku pada manajer kelab dan berjalan cepat menuju toilet... sebelum akhirnya aku terhenti. ck... sungguh murahan dirinya, dan sungguh bodoh diriku yang menerimanya kembali...
mataku menatap dingin pada Yuka... ya, Yuka.. kulihat dirinya yang berciuman dengan kekasihnya di sisi pintu toilet yang sepi... bukan marah atau sakit... aku justru tak peduli.
ku putar balik tubuhku, dan kembali pada manajer... kubatalkan pesanan ruang VIP nya... aku ingin melihat Akira, meski aku akan mendapat tatapan jijik dan memuakkan yang ia tujukan padaku... tapi itu akan lebih baik, dari pada memandang gadis murahan yang berada di sudut sana.
Kukirim pesan padanya.
"Yuka... hubungan kita berakhir... ambil apartement dan mobil itu... itu menjadi milikmu.. tapi jangan pernah muncul dihadapanku lagi..." berakhir sudah... aku pun muak melihatnya.
" Akira... aku ingin bersamamu malam ini.. menemani kesedihamu karna kesalahanku dalam diam." ucapku lirih melajukan mobilku dengan cepat.
🙀🙀🙀
ini baru ceritanya gak nyambung... puas sudah??? saya jadi malas nulis dibuatnya😑😑😑