my secret love

my secret love
Bab 38



Malam yang di nanti pun tiba. Sepasang suami istri di dalam kamar pengantin yang sudah di hias sedemikian rupa. Serta taburan bunga mawar yang menghiasi ranjang pengantin mereka. Lampu yang sudah temaram menjadikan suasana semakin romantis.


"Sini duduk!" Pinta Darren menepuk ranjang di sebelah tempat duduk nya.


Mauren mendekat, jika saja suara detak jantung nya bisa terdengar sampai luar pasti sudah sangat nyaring.


"Kamu gugup ya?" tanya Darren dengan pandangan tak lepas dari Mauren.


"Ngga kok." Jawab Mauren berbohong.


"Masa sih?" goda Darren. Ia semakin mendekat ke arah sang istri.


Dahi mereka bertemu hingga napas keduanya saling di rasakan satu dengan yang lainnya. Mata mereka terpejam saling merasakan sensasi yang luar biasa.


"Boleh, aku cium kamu?" tanya Darren dengan napas yang berat.


Mauren mengangguk. Beberapa menit kemudian mata nya terpejam merasakan sentuhan yang Darren lakukan. Mulai dari dahi, pipi lalu bibir. Ia merasakan sensasi yang berbeda dari sebelumnya yang ia rasakan dengan Thomas. Kalau Darren penuh dengan kelembutan, dan ada pemanasan dulu dengan sentuhan-sentuhan. Kalau dulu, ia langsung ke inti dan tanpa merasakan apapun. Lebih tepat nya hanya menjalankan kewajiban nya sebagai seorang istri tanpa tahu bagaimana rasanya di cintai.


"Iya," Mauren mulai menunjukkan aksinya. Ia mencium bibir Darren dengan lembut sambil mata terpejam.


"Sayang," panggil Darren di sela ciuman nya.


Tangan kanan Darren sudah menjamah ke setiap inci tubuh Mauren. Bahkan gaun yang istrinya kenakan sudah terbuka seutuhnya. Kini hanya menyisakan kain segitiga berwarna merah dan juga bra dengan warna senada. Bentuk tubuh Mauren yang ramping serta dada yang bulat berisi semakin membuat Darren ingin segera membuka kain merah penghalang tersebut.


Ciuman yang tadinya lembut, lama-lama menuntut lebih dan semakin lebih. Saling bertukar saliva dan sesekali terdengar lenguhan dari keduanya. Malam ini mereka sedang merajuk asa menyalurkan rasa cinta yang sudah di bangun di atas janji setia dihadapkan Tuhan. Berharap mereka bisa bersama menua dan hanya maut mah yang memisahkan mereka.


Lain hal nya, di tempat lain. Thomas sedang duduk di lantai kamar nya. Ia meratapi kebodohan dan semua sekarang sia-sia. Dulu rumah megah nya selalu ramai celoteh sang buah hati. Bahkan suara Mauren yang membangun kan dirinya dengan nada lembut masih terngiang di telinga. Masakan yang Mauren hidangkan sesekali ia hanya makan. Dengan alasan ia buru-buru ke kantor. Padahal ia sedang sarapan bersama Saina di apartemen.


Sungguh penyesalan yang tiada guna. Buat apa punya harta yang berlimpah tapi merasa kesepian. Itulah yang di rasakan Thomas. Bahkan sang putri pun sudah lebih dekat dengan Darren. Semua karena kesalahan nya. Jadi sekarang waktunya ia menerima karma itu. Ia hidup sendiri tanpa ada yang menemani.


"Dulu, rumah kita ramai. Tapi aku selalu beranggapan sepi. Ku pikir tak ada cinta dulu, tapi kenyataannya di sini ada banyak cinta. Sepertinya aku terlalu jahat menjadi manusia. Dan aku adalah suami dan ayah yang buruk untuk kalian. Maafkan aku! Maafkan aku, maaf, maaf untuk semua nya. " Ucap Thomas pada dirinya sendiri.