
Setelah membersihkan diri. Thomas dan Mauren bersama keluar dari dalam kamar. Langkah mereka beriringan dan Thomas tak mau melepas rangkulannya pada pinggang ramping Mauren. Serta sesekali mereka tertawa.
"Selamat pagi, anak mommy!" Sapa Mauren saat tiba di ruang makan.
"Pagi mommy dan daddy." Jawab Miska.
"Pintar sekali anak daddy. Makan saja sudah sendiri." Puji Thomas.
Ia duduk di dekat sang putri. Pandangan nya tak lepas dari gadis kecil nya tersebut. Mungkin Thomas adalah pria brengseek yang dengan sadar menyakiti istrinya. Tapi ia tidak pernah sekalipun membentak Miska. Waktunya kurang untuk sang buah hati, tapi saat ia sedang di rumah semenit pun ia tidak bisa berpaling dari Miska.
"Mom, sepertinya dia siap punya adik," Bisik Thomas di telinga Mauren.
Bukan jawaban tapi sebuah cubitan mendarat di paha sang suami. Usia Miska masih tiga tahun dan sekarang membicarakan adik. Sepertinya Thomas perlu di beri pelajaran lagi. Buat nya enak, tapi apakah para pria tidak berpikir kalau hamil dan melahirkan itu butuh perjuangan.
"Daddy bisik-bisik apa sama mommy?" tanya Miska penasaran.
"Itu, kamu mau aduk bayi tidak?" Bukannya menjawab pertanyaan sang putri, ia malah bertanya balik.
"Adik? Seperti kaka Rio yang punya adik perempuan? Iya, Miska mau daddy. Ayo beli adik di mana?" Bocah berusia tiga tahun ini malah memberikan pertanyaan kepada sang daddy.
"Iya, nanti mommy dan daddy beli dulu, di indoapril ya!" Jawab Thomas.
Mauren tak habis pikir dengan ide sang suami. Memang benar iya belum bisa menjelaskan secara detail bagaimana proses punya aduk bayi. Tapi, setidaknya sang suami jangan berbohong kepada Miska. Bisa jadi nanti Miska akan mengajak bicara li adik di indoapril.
Di tempat lain.
Tak terhitung Saina berapa kali bolak-balik ke kamar mandi. Setelah sarapan tadi ia me muntah kan isi perut nya beberapa kali. Bau makanan yang ia pesan lewat online tersebut terasa menusuk. Badannya tiba-tiba lemas karena semalam ia begadang.
"Ah, apa jangan-jangan aku sedang hamil ya? Kalau ia, pasti Thomas akan sangat senang sekali. Tapi, jika tidak?" tanya Saina pada dirinya sendiri.
Wanita itu beralih memegang perut rata nya. Ada rasa senang sekaligus sedih. Senang mengandung buah hati dengan orang yang ia cintai. Dan juga sedih status Thomas masih suami orang.
" Aku lebih baik periksa ke dokter. Biar aku dapat vitamin dan juga bisa berhati-hati tidak seperti dulu. Aku pergi sekarang saja."
Saina bergegas ganti pakaian. Ia mengambil tas dan segera memesan taksi online. Tak lupa ia menghubungi Thomas untuk memberitahukan kabar kalau dirinya sedang tidak enak badan dan di perkirakan hamil.
Thomas mengirim pesan pada Saina. Sejak tadi malam ia sudah bertekad bulat untuk mengakhiri hubungan terlarang mereka. Karena semua demi kebaikan keduanya. Hubungan terlarang berdasarkan cinta itu salah. Jika cinta itu harusnya menjaga bukan merusak. Dan Thomas sudah merusak Saina. Mereka sama-sama gelap mata dan tidak peduli dengan orang yang mereka sayangi.
Thomas punya anak perempuan, ia tidak ingin Miska di permainan laki-laki saat dia dewasa kelak. Bukan kah, karma itu selalu ada? Dan Thomas sudah ingin mengakhiri cinta terlarang nya.