
"Pikirkan baik-baik non! Bukan kah istrinya tuan Thomas wanita baik. Apa tidak akan menjadi bumerang buat nona Saina sendiri? Dan Pasti akan banyak hati yang terluka. Dan pada akhirnya nona lah yang akan di salahkan dan saya takut nona menderita." Siti kembali menasihati sang majikan agar tidak buru-buru mengambil keputusan.
" Ngga bi, aku sudah pikirkan ini baik-baik. Kalau Thomas ngga mau ngakuin anak nya sendiri, yasudah aku akan besarin dia sendiri."
Saina yang keras kepala. Ia tak mau mendengar nasihat Siti. Tanpa ia tahu Mauren sudah tahu segalanya. Bahkan seolah Saina lah yang merasa menjadi korban dalam hal ini.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir empat puluh menit karena macet. Saina tiba di depan sebuah rumah mewah bak istana. Tangan nya menggenggam dress hijau yang ia kenalan. Jantung nya berdecak dengan kencang.
"Tuhan, semoga aku bisa melakukannya." Ucap Saina lirih.
Dengan mantap ia melangkah menuju gerbang berwarna putih yang menjulang tinggi tersebut. Langkah nya sedikit berat tapi, demi hak anak yang di kandung nya ia harus berani. Ia tekan bel yang ada di dinding tembok pembatas rumah. Beberapa menit kemudian keluarlah satpam rumah Thomas.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya pak satpam.
"Saya mau bertemu dengan tuan Thomas dan nyonya Mauren pak." Jawab Saina.
Satpam tersebut nampak berpikir sejenak. Ia melihat Saina dari atas sampai bawah. Dari cara pakaian nya ia seperti orang kantoran. Apakah ini sekretaris baru pak Thomas? Itulah yang di pikir pak satpam.
" Saya teman dekat pak Thomas. Sampaikan saja, Saina datang." Lanjut Saina kemudian.
"Oh, teman bapak. Oke sebentar ya!" Pak Satpam berlalu meninggalkan Saina. Ia segera menuju pos satpam dan melakukan panggilan telepon.
"Silahkan masuk, nona!" Pak satpam itu membuka gerbang dengan lebar agar Saina bisa masuk.
"Silahkan masuk, nona Saina!" Sambut seorang wanita dengan lantang. Wajah nya sudah di rias make up natural dan dress hitam tanpa lengan menambah kecantikan Mauren. Kulitnya yang putih kontras dengan pakaian nya.
"Mari duduk!" Mauren mempersilahkan Saina untuk duduk.
Lagi-lagi tidak ada getaran emosi ataupun kesedihan yang terpancar di wajah Mauren. Sepertinya wanita itu sudah mempersiapkan semuanya. Sedih dan sakit nya mampu ia tepis dengan sebuah senyum.
"Aku ingin bertemu dengan Thomas," ucap Saina lirih.
"Oh, mau ketemu calon mantan suami ku? Dia ada di kamar. Tunggu sebentar, ya!" Ujar Mauren.
Saina tercengang akan perkataan Mauren. Apakah ia tidak salah dengar? Calon mantan suami?
"Apa maksudnya calon mantan suami?" tanya Saina.
"Iya, calon mantan suami. Karena kami akan bercerai. Dan kau bebas bersama dengan dia. Ku rasa aku tak butuh pria seperti Thomas."
Mauren tersenyum licik. Pandangan nya tajam seperti ingin melahap lawan bicaranya tersebut. Percuma juga ber manis kata dengan wanita perusak rumah tangga orang bukan?
" Iya, kau bisa mengambil nya. Aku tak butuh." Mauren mengulang ucapannya.
" Apa maksudnya itu? Aku tak merebut nya dari mu. Aku hanya ingin minta dia untuk akui anak yang aku kandung. Aku... aku rela jadi yang kedua. Kalau kau mau," Ucap Saina sambil menunduk.