
Lihat siapa yang datang bi! " Pinta Saina.
Siti langsung membuka pintu apartemen. Ia begitu terkejut saat melihat seseorang yang sudah ada di depan pintu.
"Siapa, yang datang bi?" tanya Saina.
"Em, ini, tu-"
"Jangan menghalangi jalan saya!" Thomas langsung memotong ucapan Siti.
Siti membungkukkan badan, lalu bergeser sedikit memberikan jalan pada Thomas agar leluasa lewat.
"Saina, maksud kamu apa datang ke rumah bicara seperti itu tadi?" tanya Thomas dengan nada yang di tekan serendah mungkin.
Thomas sedang di lingkup emosi. Tapi ia tahu kalau Saina hamil, jadi tidak ingin memberikan efek buruk pada kandungan Saina. Bagaimana pun juga anak yang Saina kandung adalah darah daging nya.
" Maaf kan aku." Jawab Saina.
Wanita itu tak mencari pembelaan atas apa yang ia lakukan tadi pagi di rumah Thomas. Semua salah nya, ia yang terlalu gegabah dan pada akhirnya ia yang harus rela untuk melepaskan semua nya.
Thomas memijat pelan kepalanya yang sedikit terasa nyeri. Satu sisi ia tidak mau lepas dari Mauren satu sisi masih ada rasa yang tertinggal untuk Saina. Dan yang lebih membuat nya bingung adalah saat ini Saina sedang hamil. Luka di wajah nya ia biarkan begitu saja. Darah nya sudah mulai kering.
"Eh, ini wajah kamu kenapa?" tanya Saina yang mendekat ke arah Thomas. Tangan kanan nya memegang dagu Thomas.
Ia memejamkan mata saat Saina menyentuh wajah nya dan juga tak ada penolakan. Ia biarkan Saina melihat lukanya.
"Aku obati luka nya dulu," Saina berjalan meninggalkan Thomas untuk mengambil kotak obat.
Dengan telaten Saina membersihkan luka dan mengobati nya. Sesekali Thomas memejamkan mata karena terasa sedikit perih.
"Sudah selesai," ucap Saina lalu beranjak dari hadapan Thomas.
Masih enggan menatap wanita yang ada di hadapan nya. Thomas masih memejamkan mata dengan kepala yang di sandar kan di sofa. Bahkan ia enggan untuk mengucapkan kata terima kasih. Bukan sepenuh nya salah Saina, ia lah yang patut di salahkan akan hal ini. Saat ia melepas Saina dengan sengaja ia masih mengawasi Saina masih mengkhawatirkan keadaan wanita itu dan betapa ia terkejut saat mengetahui Saina hamil. Dan di waktu bersamaan pula sang istri Mauren mengetahui hal itu.
Saina berjalan ke kamar, rasa mual nya sudah tak terlalu di bandingkan kemarin. Tapi, ia sangat ngantuk dan merasa badan nya sangat lelah. Ia memutuskan untuk istirahat di kamar.
"Bibi, aku istirahat di kamar dulu. Siapkan kopi dan sarapan untuk tuan. Roti panggang dengan selai kacang!" perintah Saina pada Siti.
Wanita itu masih hafal betul sarapan Thomas. Jika biasanya ia akan dengan senang hati menyiapkan itu semua. Berbeda dengan hari ini, ia tidak akan menyiapkan itu semua. Pagi tadi mata hati Saina terbuka. Betapa ia telah di buta kan cinta dan dengan tega melukai hati Mauren dan Miska. Kini Saina akan menjadi seorang ibu ia tidak mau karma buruk kelak menimpa anak nya.
"Baik, non. Akan bibi siapkan segera," Situ segera meninggalkan cucian piring nya yang belum selesai untuk membuatkan roti panggang dan kopi untuk Thomas.
Dengan cekatan tangan wanita hampir separuh baya itu menyeduh kopi dan memanggang beberapa kembar roti tawar sambil terus bernyanyi mengikuti lagu dangdut kesukaan nya.