
Di sisi lain
Mauren dan Thomas tertawa dalam perjalanan menuju kantor. Hari ini Mauren tidak berangkat sendiri, ia diantar sang suami. Suaminya sudah mulai membuka hati dan ingin mengulang hari ya g telah lama mereka lewati. Dan semoga hal itu tidak terlambat.
"Aku masuk dulu. Makasih, ya daddy," ujar Mauren saat hendak turun dari mobil yang di kemudikan Thomas.
"Tunggu!" Thomas menarik tangan kanan Mauren. Lalu sedetik kemudian ia kecup bibir tipis sang istri.
"Semangat ya, kerjanya!" Ujar Thomas.
"Daddy juga, bye bye." Jawab Mauren.
Saat Mauren sudah masuk ke kantor nya. Thomas dengan cepat melajukan kendaraan ke tempat Saina. Rasanya terlalu kejam kalau ia hanya berpisah hanya lewat pesan singkat.
Tak butuh waktu lama ia sudah sampai di sebuah apartemen mewah di Jakarta. Ia sengaja mengabaikan semua pesan Saina bahkan, telepon pun ia tidak mau mengangkat.
Ia sudah sampai di depan pintu apartemen. Memencet tombol password lalu ia masuk.
Thomas menghela napas panjang. Ia tahu kalau akan jadi seperti ini. Pasti Saina tidak akan terima dan nekat, tapi ini jauh di luar dugaan. Saina yang tenang dan sabar bisa juga menghancurkan barang-barang uang yang ada di apartemen nya. Langkah nya langsung menuju ke kamar. Melihat apa ya g akan di lakukan Saina.
"Aku hitung sampai tiga, kalau kau masih tidak mau membuka akan aku dobrak pintu nya!" Ancam Thomas.
Saina yang berjongkok melipat kedua kakinya akhirnya bangun. Suara yang ingin ia peluk sekaligus ingin ia maki.
Ceklek... Terlihat wajah Saina dengan mata sembab dan rambut acak-acakan. Air matanya masih terus menetes tanpa henti.
Hati Thomas terasa nyeri. Ia tidak menyangka akan mengambil keputusan yang melukai wanita yang pernah ia cintai. Thomas beberapa hari lalu bertemu dengan kakek tua yang memberinya nasihat. Kakek itu bilang kalau cinta nya pada Saina hanya mah berdasarkan rasa kasihan. Dulu, iya memang cinta. Tapi setelah menikah dengan Mauren serta melihat Saina yang menderita kehilangan anak mereka berdua itu hanya sebuah rasa simpati bukan cinta.
Thomas berpikir dengan keras bahkan ia sengaja mengajak Saina pergi ke Jakarta bersama. Dan pada akhirnya ia tetap ingin segera pulang dan kembali ke Mauren dan Miska.
"Sekarang kamu puas? Iya, ini kan yang kamu mau. Dua kali hidupku kamu hancurkan. Inikan yang kamu mau Thomas Wijaya?" Teriak Saina dengan keras.
Tangan kanan nya terkepal rasa nya ingin membeberkan pukulan pada pria yang sangat ia cintai tersebut.
"Saina, maaf," Thomas memeluk Saina. Hanya kata itu yang mampu ia ucapkan. Bahkan ia tak tahu harus berucap apa lagi. Wanita yang di dekap nya meronta menolak pelukan Thomas.
Bahkan pukulan bertubi-tubi Saina daratan di dada bidang Thomas. Teriakan cacian dan makian keluar. Semua Keluh kesahnya ia utarakan pada pria yang sudah membuatnya bahagia sekaligus menderita. Jika ada jam waktu, wanita ini tidak akan mengenal pria yang bernama Thomas. Karena ia hanya memberi luka dan dengan bodohnya Saina masih saja mencintai pria itu dengan setulus hati. Saina di buta kan oleh cinta.