my secret love

my secret love
Bab 31



Saina bersiap ingin pulang ke Yogyakarta. Ia sudah memikirkan baik-baik akan meninggalkan Jakarta. Karena usahanya untuk merebut hati Thomas tidak membuahkan hasil. Kehamilan nya sudah memasuki usia bulan ke seembilan. Ia harus ekstra hati-hati karena kandungan nya lemah. Sebelum pulang ke Yogyakarta rencana nya ia akan menemui Mauren terlebih dulu. Ingin meminta maaf atas semua kesalahan nya.


"Sudah siap semua bi?" tanya Saina pada Siti yang masih sibuk memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper.


"Tinggal masukin baju di koper ini non." Jawab Siti.


"Sore ini aku mau menemui Mauren. Ingin minta maaf walaupun itu percuma. Dia juga ngga akan mau ketemu aku mungkin." Ujar Saina. Ia menerka seolah Mauren tak sudi bertemu dengan orang seperti dirinya.


"Belum tentu bu Mauren menolak bertemu non Saina lo."


"Iya, aku menyesal Siti, telah menyakiti wanita yang baik seperti dia. Aku di buta kan oleh cinta. Yang ku pikir tulus dan dia ku anggap rumah yang ramah, ternyata hanya kasian saja padaku. Cinta nya semu dan aku yang lagi-lagi harus terpuruk. Tak apa, inilah konsekuensi yang harus aku ambil.


Segala sesuatu yang kita perbuat akan menuai hasil nya. Tanamlah kebaikan kalian akan dapat baik juga. Tanamlah keburukan maka kalian akan mendapat keburukan pula.


"Selama ada waktu, akan ada kesempatan untuk memperbaiki diri non. Bukan kah, manusia itu ada dua sisi, yaitu buruk dan baik. Tak ada yang sempurna dan tak ada yang abadi. Kesalahan itu adalah bentuk pembelajaran diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kalau benar terus nanti malah nilai jua seratus terus non."


" Iya bibi benar. Makasih ya, karena bibi ngga menghakimi saya."


" Saya kan juga manusia yang banyak salah, ngapain saya harus menghakimi kesalahan orang lain non. Hidup nona adalah nona sendiri dengan berbagai ceritanya. Begitupun dengan saya. Kita sudah punya skenario masing-masing. " Jelas Siti.


Saina meneteskan air mata saat mendengar ucapan Siti. Ia masih bersyukur memiliki Siti. Seseorang yang di pilih oleh Thomas sendiri untuk menjaga dirinya.


----------------


Beberapa bulan lalu palu di ketuk tanda Mauren sudah resmi berpisah dengan Thomas. Langkah kaki wanita itu terasa ringan saat ia keluar dari ruang sidang. Berbeda dengan Thomas yang tertunduk lesu. Seolah ada yang hilang dari hidupnya.


"Ayo, kita pulang!" Ajak Ratna. Yang tidak main adalah sahabat yang juga menjadi pengacara Mauren.


"Ayo," Mauren pun mengikuti langkah kaki Ratna.


Thomas memandang Mauren dengan tatapan sendu. Rasa rindu tiba-tiba memenuhi rongga dadanya. Beberapa bulan ia tidak serumah dengan Mauren dan putrinya sudah membuat pola hidupnya berbeda. Benar apa yang di katakan orang. Kamu, akan merasa kehilangan saat orang itu sudah pergi dari hidup mu. Dan saat itu kamu akan menghargai bagaimana suatu kehadiran.


***


"Kamu yakin mau nemuin wanita itu?" tanya Darren pada Mauren.


Wanita yang di sebut itu adalah Saina. Ia ingin menemui Mauren sekedar ingin meminta maaf.


"Yakin dong , lagian ngapain aku ngga mau nemuin dia? Toh, aku dan Thomas sudah resmi cerai." Jawab Mauren.


"Takutnya kamu emosi lagi seperti waktu itu."


"Kayaknya yang emosi bukan aku deh, tapi kamu," Mauren tertawa mendengar perkataan Darren.


Ia ingat betul saat Mauren rapuh dan pergi dari rumah, Darren lah yang paling marah. Pria itu tidak terima kalau dirinya di sakiti. Bahkan Darren dengan senang hati selalu datang ke rumah orang tua Mauren untuk menghibur Miska. Satu bukti bahwa persahabatan dan cinta yang tulus itu ada. Darren memberi tanpa mengharapkan kembali.


"Tentu saja aku emosi. Kalau membunuh itu di perbolehkan, akan aku bunuh dia saat itu juga."


"Lantas, setelah kamu membunuh apakah puas?"


"Aku tidak puas, tapi setidaknya orang yang menyakiti wanita yang aku cintai sudah tak ada di sisi nya lagi."


"Untung lah, kau masih punya iman yang kuat jadi kau tidak nekat. Kalau kau sampai buat onar, ku pastikan aku ngga mau kenal kamu lagi."


"Tentu saja aku tak sebodoh itu sayang."


"Kau panggil apa?" tanya Mauren memastikan dirinya tak salah dengar.


"Sayang," jawabnya sambil menoleh ke arah Mauren.


"Iya, Bee,"


Citttt... Suara gesekan ban mobil dan aspal seketika berbunyi nyaring.


"Hati-hati, Darren!" Teriak Mauren.


"Sorry, kamu ngga terluka kan?" tanya Darren memastikan keadaan Mauren.


"Tadi aku ngga salah dengar kan?"


"Apa?" tanya balik Mauren pura-pura tidak tahu apa yang di maksud Darren.


"Manggil aku Bee? Kamu udah terima cinta aku ya?"


"Ngga, juga. Belum genap satu tahun aku bercerai. Jadi, butuh waktu lagi lebih lama. Agar aku tak di cap janda gatal,"


"Satu tahun dua, atau bahkan tiga tahun ataupun sepuluh tahun lagi aku akan menunggu kamu. Sampai benar-benar siap. Tak ada paksaan sedikit pun. Aku akan menunggu kamu!" Ujar Darren.


"Semoga saja ya, kamu ngga bosan nunggu. Yuk jalan lagi! Takut nya Saina menunggu lama."


Darren pun melanjutkan berjalan nya menuju cafe di mana Mauren ingin bertemu dengan Saina.


Mauren menarik napas panjang saat ia hendak masuk ke dalam cafe. Ingatan nya muncul beberapa adegan sekitar hampir delapan bulan yang lalu. Dimana ia bertemu dengan wanita yang datang ke rumah nya dengan mengaku sedang hamil anak suaminya dan dengan rela mau di jadikan istri kedua. Pandangan nya menyapu segala arah, melihat satu per satu pengunjung untuk mencari keberadaan Saina. Pandangan nya berhenti ke arah perempuan cantik dengan rambut di kuncir kuda serta perut nya yang sudah besar tanda ia akan melahirkan.


Mauren mendekat ke tempat duduk tersebut. Setelah sampai, ia langsung duduk dengan elegan.


"Kau sudah sampai, apa kabar?" tanya Saina.


"Baik," jawab Mauren sambil tersenyum.


Saina sedikit kikuk dan takut. Ia bingung harus memulai semua nya dari mana dulu.


"Em, aku mau minta maaf." Ucap Saina dengan menunduk.


"Untuk apa? Masalah yang lalu itu?"


"Iya, maaf aku merusak rumah tangga mu," kini air mata Saina sudah luruh.


"Iya, luka nya tak terlihat tapi, sungguh membekas. Rumah tangga yang aku jaga runtuh seketika. Kau tahu saat itu aku ingin mencakar wajah mu, menjambak rambut dan... mungkin aku bisa melakukan lebih dari itu. Tapi, aku ingat kau sedang hamil."


"Iya, aku bodoh dan dengan tidak tahu malunya datang ke sana."


"Sudah selesai aku dan Thomas. Kini hidupku baik-baik saja. Masa terpuruk ku sudah lewat. Dan yang paling penting aku dan buah hatiku bahagia sekarang. Jauh, lebih bahagia saat aku bersama dengan Thomas dulu."


"Seandainya aku tidak memalukan hal itu."


"Tak apa, dengan kau lakukan itu. Aku jadi tahu, bahwa Thomas tak layak menjadi pasangan ku. Ku pikir aku terlalu baik dan cantik untuk pria seperti itu."


Mauren sengaja berucap seperti itu. Ia bukan lah perempuan yang lembek. Ia cerdas, mandiri dan tidak akan semudah itu merendah di hadapan orang lain. Mungkin akan beda ceritanya kalau yang di hadapannya bukan lah wanita yang menjadi perusak rumah tangga nya. Mauren tak akan terlihat lemah di depan wanita seperti Saina.


"Kau benar, kau terlalu berharga untuk Thomas."


Saina pun membenarkan ucapan Mauren. Rasanya ia terintimidasi oleh perkataan Mauren tapi ia layak mendapatkan hal itu. Sedikitpun Saina tak membantah karena hal itu benar.


"Belajar lah dari kesalahan mu. Jangan lakukan lagi dengan yang lainnya! Cukup aku yang jadi korban." Ucap Mauren pelan tapi mengisyaratkan sebuah ancaman.


"Ngga akan, aku ngga mau lagi. Cukup ini yang pertama dan terakhir kalinya. Aku juga mau pamit, aku akan pulang ke Yogyakarta mungkin, tidak akan kembali ke Jakarta."


"Mau kau kembali atau tidak bukan urusan ku. Pilih lah jalan hidup mu, kau bebas tinggal di manapun tanpa kita saling memberi kabar dan kita tak saling kenal baik bukan?"


Sungguh perkataan Mauren begitu menohok. Tapi Saina tak masalah akan hal itu. Dua tulus meminta maaf dan dia layak di salahkan.


" Bagaimanapun anak yang aku kandung adalah saudara dari anakmu."


" Iya, mereka saudara tapi kita tidak, bukan? "


"Lalu kenapa kalau mereka saudara? Kau mau kita jadi saudara juga, atau jangan-jangan kau mau aku yang merawat nya juga?" lanjut Mauren.


"Bukan begitu, aku hanya mau setelah ini kita bisa berteman, walaupun itu sangat sulit untuk mu."


"Kau sudah tahu kalau sulit, jadi aku tidak perlu menjawab bukan? Butuh waktu untuk aku menerima semua nya. Bukan aku yang belum sembuh dari luka. Tapi, anakku lah yang sebenarnya menjadi korban perbuatan kalian. Kau juga akan jadi ibu, ku harap kau mengerti. Dan aku permisi, kalau tak ada lagi yang ingin kau katakan," Mauren beranjak dari tempat duduknya lalu meninggalkan Saina begitu saja.


Tangis Saina pecah, usahanya sia-sia dan ia terima semua nya. Karena kesalahan nya tidak lah kecil jadi Saina terima itu semua.