my secret love

my secret love
Bab 18



Beberapa hari kemudian.


Hubungan Mauren dan Thomas semakin lama semakin romantis. Tentu saja hal itu membuat Darren ikut senang. Dia bisa ikut bahagia kalau wanita yang ia cintai juga bahagia. Biarlah rahasia cinta nya ia kubur dalam-dalam. Cukup melihat wanita yang ia cintai bahagia.


"Hai, ini titipan dari mama buat Miska," ucap Darren saat bertemu Mauren di sebuah restoran.


Mereka seperti sebelumnya sering makan bersama dan pergi bersama. Hingga kini pun hal itu masih terjadi.


"Apa ini? Kenapa tante repot-repot segala sih." Ucap Mauren tak enak hati.


"Ngga apa-apa, mama bilang udah anggap Miska cucunya sendiri. Ini buatan mama sendiri lo."


"Iya, puding bikinan tante yang terlezat."


"Idih, peres lo."


"Mana ada gue peres."


"Ada, itu buktinya."


"Iya, deh peres. Besok bawain lagi ya!"


Akhirnya mereka tertawa bersama. Rasanya sudah lama sekalian dua sahabat itu tak saling bercengkrama dan tertawa bersama. Dan Darren lah di sini yang paling bahagia melihat senyum Mauren yang lepas.


"Cantik, jangan sampai surut lagi senyum nya. Kalau butuh sandaran gue selalu ada." Ujar Darren.


"Tampan, jangan berharap pada manusia. Karena nanti kau akan kecewa."


"Iya, ngga berharap. Aku hanya ingin kau bahagia, dan kalau kau sedih aku siap jadi pundak. Serta kemeja ku yang mahal siap untuk jadi tampungan ingus mu."


"Gue ngga kayak gitu. Enak aja ingus gue." Mauren tidak terima dengan apa yang di ucapkan Darren.


Thomas yang melihat itu langsung mendekat ke arah istrinya. Tangan nya terkepal erat menahan emosi. Tadi ia menerima pesan dari Mauren untuk makan siang bersama ternyata ia lihat sang istri dengan santai dan tertawa gembira dengan pria lain.


"Tunggu dulu, kita sudah lama tidak makan bertiga seperti ini. Ayo, duduk dulu!" Pinta Mauren.


"Aku ada rapat nanti jam satu siang." Jawab Thomas yang sengaja berbohong.


"Rapat? Benar kah? Aku telepon sekretaris kamu biar batalin rapat nya gimana?" Tanya Mauren.


Wanita ini memang beda. Ia tidak takut dengan penolakan sang suami. Tidak kuat tapi juga tidak lemah. Lembut tapi tetap tegas.


"Oke kita makan siang dulu." Jawab Thomas yang tidak bisa berkutik di depan Mauren.


Darren tertawa melihat tingkah Thomas. Ia tidak menyangka kalau seorang Thomas bisa takut juga dengan Istrinya.


"Kenapa ketawa?" tanya Mauren pada Darren dengan pandangan yang tajam.


"Ngga ada, sungguh aku hanya kagum sama kamu."


"Kenapa kagum?"


"Karena kamu galak."


"Kamu mau aku galak in sekalian?" tanya Mauren sambil berkacak pinggang.


"Ngga usah, ampun nyonya."


"Wanita itu makhluk paling benar di muka bumi dan ngga bisa kita lawan bro." Ujar Thomas.


"Jangan lawan, habis kita ntar." Celetuk Darren.


Akhirnya mereka bertiga makan bersama. Dengan perasaan gembira Mauren meladeni suami. Sementara Darren hanya mampu melihat dan hatinya terasa nyeri. Makanan yang ia makan pun terasa hambar di lidah.


Sementara itu Saina masih diam di kamar tanpa suara. Ia menghabiskan harinya dengan nonton tv yang acaranya itu-itu saja dan tidak ia ganti. Mandi pun ia hanya di pagi hari. Itupun saat di suruh asisten rumah tangga nya. Dan tanpa Saina ketahui orang itu adalah suruhan Thomas.