
Dengan cekatan tangan wanita hampir separuh baya itu menyeduh kopi dan memanggang beberapa kembar roti tawar sambil terus bernyanyi mengikuti lagu dangdut kesukaan nya.
"Ini tuan, sarapan nya! Roti panggang dan secangkir kopi hangat," Situ meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas meja.
"Makasih," jawab Thomas.
Pria itu masih enggan membuka matanya. Ingin ia menemui Saina, tapi hati nya terasa berat. Jika saja, Saina tak hamil mungkin ia tidak akan bisa mengendalikan emosi nya. Pikiran nya melayang ke beberapa tahun lalu yang di mana Saina keguguran sesaat setelah putus dengan nya. Dan kali ini ia tak mau terulang lagi.
"Iya, sama-sama tuan."
Di tempat lain.
Mauren masih diam di dalam mobil bersama Darren. Hanya diam dan sesekali air matanya jatuh. Pandangan nya menatap ke luar jendela. Tanpa kata, Darren pun hanya melihat Mauren. Hanya akan menyediakan pundak untuk wanita itu bersandar. Terkadang pelukan itu lebih di butuhkan dari pada sebuah kata. Karena orang sedih itu tak butuh di tenangkan dengan kata , tapi cukup di siapkan pundak untuk bersandar.
"Sekarang mau nya gimana?" tanya Darren memecah keheningan di antara mereka.
"Entahlah, aku bingung. Miska masih kecil, dan baru saja kami berdamai dengan keadaan tapi-" Mauren tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Lepaskan dia!"
"Miska masih kecil."
"Lalu kenapa kalau masih kecil? Mau sampai kapan rumah tangga kalian seperti itu? Pernikahan kalian dari awal tidak ada cinta, kalian itu saling menyakiti diri sendiri. Dan hubungan kalian hanya sebatas status di atas kertas yang hanya sah di mata hukum dan agama. Kalian mesra dan harmonis di luar. Tapi, di dalam kalian dingin. Apa hubungan yang seperti itu sehat? " Darren berpendapat tentang rumah tangga Mauren.
" Iya, tapi bagaimana kalau Miska terluka? Aku ngga siap itu semua. Kasian Miska, " Suara Mauren bergetar, tangis nya kembali pecah.
" Lebih kasian mana, hubungan sebuah keluarga tapi palsu? Atau kau hidup sendiri bersama Miska tapi bahagia?" Bukan nya menjawab pertanyaan dari Mauren, Darren malah bertanya balik.
Mauren diam dengan pertanyaan Darren. Apa yang di katakan sahabat nya itu benar. Selama ini ia hanya pura-pura bahagia. Mencintai tapi tidak di cintai. Memberi tak di beri. Tulus nya tak berbalas hubungan nya nyata tapi di rasa seperti maya. Sungguh ironis tapi inilah yang di alami Mauren. Bahkan saat ia mengetahui suami nya selingkuh pun masih menganggap nya baik-baik saja pada akhirnya semua terkuak saat di Paris beberapa hari yang lalu. Wanita simpanan sang suami sedang mengandung.
"Kalau seandainya bisa, aku ingin merebut mu dari dulu. Aku ingin membawa mu pergi jauh dari hubungan kalian yang palsu. Aku ingin menghajar Thomas tanpa ampun. Bahkan aku menganggap Miska seperti putri kandung ku sendiri." Ucap Darren.
"Kita sahabat Ren,"
"Justru kita sahabat aku ngga rela kamu di mainin kayak gitu. Sebenarnya terbuat dari apa sih hati kamu? Bahkan Thomas jarang ada waktu dengan mu ataupun Miska. Aku seperti orang gila yang selalu mencari alasan untuk ke mall hanya untuk mengejar kalian. Aku ingin menjaga kalian. Aku tidak mengganggu hubungan kalian karena aku mencintaimu pakai hati tidak pakai nafsu." Jelas Darren panjang lebar.
Mauren tak kaget sama sekali dengan penuturan Darren. Jauh sebelum sahabat nya bilang ini, dua sudah bisa merasakan hal itu. Dari tatapan nya, sikap dan perhatian nya. Mungkin orang lain yang melihat Darren lah suami dan papa dari Miska.
"Ren, jangan ngawur kalau ngomong deh!" Protes Mauren.
"Aku ngga ngawur, aku dengan sadar berucap seperti ini. Aku ngga mau kamu terluka lagi Mauren. Harus berapa lama kamu bersabar sama dia? Yang padahal dari awal kamu tahu dia ngga cinta sama kamu. Udah, ngga mau nasihati orang kayak kamu lagi, pikirkan saja. Keputusan di tangan lu mu. Aku ngga berhak ikut campur atas apa yang menjadi tujuan hidupmu. "
Darren sengaja berucap demikian, agar Mauren sadar apa yang harus ia ambil untuk langkah selanjutnya. Bagaimana Darren bisa mengabaikan Mauren, saat sahabat nya tersebut ada masalah dia tentu saja harus mendampingi sahabat nya. Ucapannya tadi hanya sebuah cambukan kecil untuk menyadarkan Mauren.
"Ayo, kita pulang! Kasian Miska, pasti nyariin kamu. Aku juga lapar belum makan dari semalam. Mau makan dulu aku," Darren mengajak Mauren untuk pulang karena sudah cukup lama mereka pergi.
Darren segera melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang. Lapar hanyalah alasan saja agar Mauren mau pulang. Kalau soal Miska anaknya bersama dengan sang nenek pasti lah keadaan nya baik-baik saja. Darren hanya tidak mau membuat Mauren hanyut dalam kesedihan nya seorang diri. Wanita itu harus mengambil sikap atas apa yang di perbuat suami nya.
"Oma, mommy kemana ya?" tanya Miska yang sudah pulang dari minimarket.
Gadis kecil itu membawa beberapa kantong plastik berisi beberapa camilan.
"Oh, iya, kemana mommy ya? Coba oma telepon dulu ya! Mungkin mommy sedang keluar sebentar," Jawab oma.
"Kalau pergi kenapa Miska ngga di ajak Oma? Kan bisa pergi berdua kita." Protes Miska.
Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya. Baru saja ketemu sang mommy, sudah di tinggal pergi lagi.
"Halo sayang, udah pulang ya?" Sapa Mauren.
"Mommy udah pulang? Eh, ada Om Darren. Apa kabar Om?"
"Baik tuan putri." Jawab Darren.
"Ini mommy bawakan ayam goreng kesukaan kamu '. Ayo, kita sarapan bersama!" Ajak Mauren.
"Hore! Ayo Mommy."
Dengan berceloteh Miska menggandeng tangan Mauren. Mereka bersama berjalan menuju ruang makan. Diikuti Darren dan mama Mauren dari belakang.
"Makasih ya, Darren." Ucap mam Mauren.
"Untuk apa tante?" Tanya Darren.
"Makasih sudah mau selalu di sisi Mauren. Tante tahu kamu suka dia dari lama kan?"
"Dari dulu sampai detik ini tante. Masih sama ngga berubah sedikit pun."
"Seandainya dulu, kami tidak menjodohkan Mauren. Mungkin kah, kalian sudah bersama?"
"Belum tentu, kan anak tante keras kepala."
"Keras kepala kau tetap suka kan?" Ledek Mama Mauren.
"Sangat suka tante. Tapi, Darren ngga akan melaksanakan kehendak pada Mauren. Cinta itu tak harus berbalas. Aku lihat dia bahagia aja, udah lebih dari cukup tante. Bersama saja, tanpa ada kata bersatu. Karena kita sahabat." Jelas Darren.
"Iya, tante paham."
Mereka menyantap makanan bersama, celotehan dari Miska mampu sedikit mengobati luka Mauren. Setidaknya sang putri bisa menjadi sumber kebahagiaan nya. Pernikahan nya tanpa cinta, tapi hadir nya Miska adalah anugerah terindah.