
" Apa maksudnya itu? Aku tak merebut nya dari mu. Aku hanya ingin minta dia untuk akui anak yang aku kandung. Aku... aku rela jadi yang kedua. Kalau kau mau," Ucap Saina sambil menunduk.
Plak... Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Saina.
"Apa maksudnya ini! Aku datang baik-baik ke sini. Kenapa kau menampar aku?" Saina tak terima dengan apa yang di lakukan Mauren padanya.
Mauren tertawa, lalu ia berkata. " Kau bilang datang baik-baik? Apakah ada seorang wanita simpanan datang baik-baik ke rumah istri sah? Apakah ada? Dan dengan mudah nya bilang dengan rela mau di jadikan yang ke dua."
"Kamu saling mencintai. Seandainya mama nya setuju, mungkin saat ini kami sudah menikah."
"Dan kalau kau tidak hadir dalam hidup kami, mungkin semua nya akan baik-baik saja. Apa kau tahu apa yang kau katakan itu wanita simpanan?" Teriak Mauren.
Thomas yang menuruni tangga samar-samar mendengar teriakan Mauren. Lalu dengan cepat ia mengarah ke sumber suara tersebut. Thomas kaget saat melihat Saina sedang memegang pipi kanan nya sambil menangis.
" Aku tahu, aku tahu dengan sadar. Aku tahu aku salah, dia suamimu tapi aku mencintai dia. Kau itu orang kaya, bagaimana tahu susah nya jadi aku. Bagaimana kau tahu, Mauren," Teriak Saina.
Saina tak mau kalah dengan Mauren. Ia tidak terima dengan ucapan istri Thomas yang bilang ia adalah simpanan. Terkadang ini yang membuat kita tidak habis pikir. Ibarat maling teriak maling. Sudah tahu apa yang di lakukan salah, masih saja menjalin hubungan. Bukan kah cinta dan nafsu itu beda tipis? Antara memang peduli atau hanya kasian semata. Dan semua nya pada akhirnya terluka. Entah itu Thomas, Saina ataupun Mauren.
Entah apa yang membuat pria itu berani membentak Saina untuk pertama kalinya. Bahkan biasanya ia selalu mendahulukan Saina dari pada Mauren. Tapi hari ini untuk pertama kali, ia membela sang istri. Apakah hatinya sudah sadar? Atau hanya sekedar mencari simpati dari Mauren agar mau memaafkan dirinya.
Plok... Plok...
Mauren tepuk tangan. Ia tersenyum sinis memandang Thomas dan Saina bergantian. Entah keberanian dari mana ia bertindak sejauh ini. Seperti nya wanita itu ingin melampiaskan semuanya hari ini. Rumah tangga nya sudah tidak bisa di selamatkan. Akhir yang tragis yang ia tanggung, menikah hampir lima tahun mencintai sepenuh hati, tapi tak di cintai oleh suami. Bahkan simpanan suaminya sampai hamil. Hati wanita mana yang tidak tercabik. Janji suci pernikahan hanya sebuah kata tanpa makna. Kecantikan yang Mauren miliki juga tak mampu membuat suaminya tak berpaling.
"Oh, ceritanya suamiku lagi pura-pura belain aku di depan selingkuhan nya ya? Hm, lumayan lah sedikit dapat pembelaan. Biasanya kan selingkuhan yang di bela," Lanjut Mauren. Kalimat yang terlantar dari bibirnya sangat menohok.
"Kami sudah mengakhiri hubungan, sayang. Jadi tolong beri aku kesempatan lagi!" Pinta Thomas.
Dengan memohon ia berharap bisa menjalin hubungan lagi dengan Mauren. Mungkin hubungan nya dengan Saina yang awalnya cinta berubah menjadi rasa kasian. Tapi Thomas tak menyadari hal itu.
Saina tertunduk. Ia mendengar kata-kata Thomas yang memanggil Mauren dengan panggilan yang sama dengan nya.
"Lalu, bagaimana dengan kandungan nya? Apa kau mau menyuruh nya untuk menggugurkan kandungan nya?"