
Mauren diam tanpa kata, ia membenarkan semua ucapan Darren. Dirinya lah yang tak peka selama ini. Terlepas dari itu semua, sekarang ia sudah lepas dari pernikahan yang tidak ada cinta di dalamnya.
"Yuk, pulang!" Ajak Mauren. Ia tak mau memperpanjang perdebatan dengan Darren. Percuma ia tidak akan menang melawan Darren.
"Mengalihkan pembicaraan," ujar Darren, ia segera melajukan mobil nya.
"Kamu tahu aja sih."
"Semua hal tentang mu, aku tahu. Semua." Darren menekan kan kata semua agar Mauren tahu betapa ia sangat mencintai wanita yang ada di samping nya tersebut.
"Wajar lah, namanya aja sahabat."
"Jadi, gimana? Mau, ngga?" tanya Darren.
Mauren menautkan alisnya, sejenak berpikir apa yang di maksud oleh Darren.
"Bagaimana? Mau atau ngga?" tanya Darren lagi.
"Apa dulu ini, ya? Mau apa?" Mauren berbalik beratnya.
"Nikah sama aku. Mau kan?"
"Dih, kirain apa. Ngga pantes janda sama perjaka. Eh, apalagi udah sepaket kan." Mauren menganggap ucapan Darren sebagai candaan saja. Tentu ia tidak akan semudah itu memulai hidup baru bersama Darren.
"Ngga apa-apa, malah paket komplit. Ntar kita nambah anak satu lagi,"
"Kau ini ngomong apa sih," Mauren menepuk jidat nya pelan.
"Lagi ngomongin masa depan kita."
"Aku dan kamu, ngga akan bisa jadi kita."
"Ngga akan." Jawab Mauren dengan tegas.
Bukan tanpa alasan dia seperti ini. Cinta Darren tidak di ragukan lagi, tapi membuka hati dan memulai sebuah hubungan tak semudah membalikkan telapak tangan ia akan berpikir seribu kali lipat untuk menikah lagi. Yang terpenting sekarang adalah fokus dengan Miska dan kebahagiaan Mauren sendiri.
Darren memandang ke arah Mauren. Ia lihat pancaran rasa takut yang lingkup dalam diri Mauren. Trauma dan rasa tidak tenang.
"Iya ngga apa-apa, aku tunggu kamu siap. Kapan pun itu, karena aku sudah mencintai mu secara diam-diam dalam waktu yang lama, bahkan saat kamu menjadi istri orang lain pun cinta ku ngga surut. Ngga apa-apa, menunggu lagi sebentar demi wanita yang aku cintai dengan tulus sepenuh hati."
----------------
Saina pulang ke apartemen dengan langkah gontai. Ia memegang perut nya yang makin lama makin besar. Kehamilannya tidak di temani Thomas. Saat ia periksa kehamilan terbesit iri melihat wanita lain yang di antar suami dan terpancar rona bahagia dari wajah keduanya. Berbeda dengan nya yang tersenyum paksa.
Terlepas dari itu semua, yang paling ia syukuri adalah anak yang di kandung nya dalam keadaan sehat. Saina sangat menjaga kandungan nya walaupun tak sekali pun Thomas menanyakan kabar anak nya. Ia tak mau mengulang kesalahan lagi, Thomas tanpa kabar pun ia tak akan mencari atau merasa sedih.
"Sudah pulang non?" tanya Situ saat melihat Saina.
"Udah bi, lusa kita berangkat ke Yogyakarta. Sudah semua kan?" tanya Saina.
"Sudah non."
"Aku capek, mau tidur dulu ya!"
"Sudah makan non?"
"Udah, bi tadi di luar." Jawab Saina bohong.
Saina segera masuk ke dalam kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Rasanya ia sangat lelah dan ingin tidur agar badan nya kembali segar.
Saat di rasa Saina sudah masuk ke dalam kamar. Siti langsung memberi kabar pada Thomas. Tak terlewat sedikit pun informasi mengenai Saina yang Siti laporkan. Sudah tidak mau bertemu tapi masih saja memantau dari jauh. Mungkin ini adalah bentuk empati nya pada janin yang di kandung Saina.