
Siang sudah berganti malam. Miska sudah tidur dari beberapa jam yang lalu. Mauren masih setia menunggu sang suami untuk pulang ke rumah. Mondar-mandir dan beberapa kali melihat jam dinding di kamar. Mata nya sudah terasa mengantuk tapi malam ini ia akan mencoba meluluhkan hati sang suami, lagi dan lagi. Karena ini adalah usahanya yang ke sekian kali.
"Katanya tadi mau pulang. Tapi kenapa belum sampai juga. Ini sudah lewat dari jam dua belas. Segitunya tak berharga kah, aku untuk nya. Sehingga dia selalu mengabaikan aku," ucap Mauren dengan lirik dengan memejamkan mata.
Karena menunggu terlalu lama akhirnya ia pun tertidur di sofa yang ada di ruang tamu. Langkah kaki dengan pelan berjalan ke arah Mauren. Semakin lama semakin mendekat. Ia pandang wajah cantik istrinya. Terbesit rasa bersalah yang sulit untuk ia ungkapkan. Satu sisi hati menolak dan sisi lain lagi mengiyakan. Bukankah seperti itu sisi hati manusia?
Thomas berjongkok di depan Mauren. Wajahnya semakin mendekat lalu ia mencium bibir Mauren dengan lembut. Sekilas dan hanya menempel tanpa ada lumataan atau gigitan seperti yang sering ia lakukan dengan Saina beberapa jam yang lalu.
"Ah... Kau sudah pulang?" tanya Mauren dengan suara para khas bangun tidur.
Rupanya ia terbangun karena ciuman dari Thomas.
"Ayo, kita ke kamar!" ajak Thomas.
"Iya, sini dong daddy!" pinta Mauren.
Thomas sedikit bingung dengan tingkah Mauren. Tak biasanya ia ber manja seperti ini. Tanpa bertanya, ia mendekatkan wajahnya.
Cup... Cup... Cup... Ciuman berkali-kali Mauren darat kan di wajah Thomas. Tangan nya mengalung manja di leher Thomas.
"Kamu kenapa? Ngga biasanya kayak gini." Tanya Thomas yang sedikit heran. Tapi ia juga suka.
"Kangen dong, sama daddy. Kan ngga ketemu beberapa hari." Jawab Mauren.
Tangan Mauren semakin nakal menelusuri dada bidang Thomas. Tak kalah dari tangan, bibirnya juga menciumi leher Thomas.
Ia gendong Mauren ala bridal style. Sesuatu milik Thomas sudah mengeras di bawah sana. Tentu saja ia harus segera menuntaskan nya. Apalagi melihat Mauren yang memakai lingerine berwarna merah yang kontras dengan warna kulit Mauren membuatnya semakin ingin segera melahap sang istri.
"Mandi dulu, sana!" Pinta Mauren.
Saat mereka sudah sampai di dalam kamar, Thomas menjatuhkan Mauren di ranjang dengan pelan. Ciuman Thomas semakin menuntut. Tapi, saat sudah ingin melepas baju, Mauren justru memintanya untuk mandi.
"Nanggung banget dong, mommy." Protes Thomas.
"Mandi dulu, pokoknya." Ujar Mauren yang tidak menerima protes apapun dari Thomas.
"Baiklah , mandi dulu. Yuk, mandi bareng!" Ajak Thomas. Seolah ia tak kehabisan akal untuk merayu istrinya.
Mauren tersenyum laku berkata. "Aku udah mandi dan udah wangi lo daddy."
"Mandi lagi kan ngga apa-apa. Biar tambah wangi." Jawab Thomas.
"Udah sana, mandi dulu. Aku ngantuk mau tidur dulu." Ucap Mauren.
Ia segera masuk ke dalam selimut untuk menggoda sang suami.
"Nah kan, kebiasaan. Udah di ubun-ubun malah di goda aja kayak gitu. Sekarang di tinggal tidur. Apakah daddy harus main sabun mommy?" tanya Thomas.
"Ngga apa-apa main sabun mommy ikhlas. Dari pada daddy main sama yang lain selain mommy." Jawab Mauren yang sengaja menyindir sang suami.