
Aku yang bayarin tiket nya, nanti tinggal di apartemen ku. Mau ngga?" tanya Darren lagi.
"Tinggal di apartemen kamu? Engga lah, apa kata orang kita berduaan di apartemen?"
"Lah, kan sama Miska, Om dan tante juga. Tapi, kalau kamu mau sendiri juga boleh. Kita nikah dulu, gimana?"
Plak... pukulan di lengan Darren berbunyi sangat keras.
"Sakit, Ren!" Seru Darren.
"Biarin aja, sakit. Lagian kalau ngomong asal aja."
"Ngga asal kok, kan udah aku bilang berkali-kali. Aku mau kita bersama dan aku siap nunggu kamu." Ucap Darren bersungguh-sungguh.
"Mama yes." Saut mama Mauren.
"Papa yes, juga."
"Miska yes juga ngga?" tanya Darren.
"Yes Om."
Tanpa gadis kecil itu tahu apa maksud pertanyaan Darren ia asal menjawab yes seperti oma dan opa nya.
"Tuh, kan Miska aja yes. Masa iya, mommy nya ngga sih." Ujar Darren.
"Mau mandi ah, gerah," Mauren bangkit dari tempat duduk nya. Ia berjalan menuju kamar pribadinya. Sengaja menghindari obrolan antara Darren dan dirinya. Detak jantung Mauren mulai tidak beraturan, ia sedikit gugup maka dari itu ia menghindari Darren dan kedua orang tuanya.
" Malu, ya kamu?" Teriak Darren pada Mauren. Karena wanita itu sudah mulai menjauh dari jangkauan Darren.
"Mommy malu kenapa om?" tanya Miska.
"Papi? Mau dong, yeah... Miska punya papi. Seperti papi Laura, yang selalu antar jemput Laura di sekolah. Kan Om juga jemput Miska. Jadi sekarang manggil nya papi ya, Om. Habis nya sekarang daddy jarang ada waktu buat Miska. Katanya mommy, daddy sibuk kerja."
Darren melentang kan kedua tangan nya." Sini, peluk papi! " Pinta Darren.
Miska ber hambur memeluk Darren. Kedekatan keduanya tidak perlu di ragukan lagi. Bahkan orang lain yang melihat, Darren lah papi kandung Miska.
" Papi Darren sayang, jangan tinggalin Miska kayak daddy ninggalin Miska terus ya! "
" Ngga dong, emang nya papi mau ninggalin Miska ke mana sih. Kan papi di sini sama mommy dan Miska."
Miska mengangguk dan semakin mempererat pelukan nya pada Darren. Seorang anak yang rindu dengan sosok seorang ayah. Rindu dekap hangat nya rindu perhatiannya. Karena bagi anak perempuan ayah nya lah, cinta pertama nya.
Opa dan oma terharu melihat kedekatan keduanya. Sungguh malam ini adalah hari yang ia tunggu. Melihat anak dan cucu nya bercanda dalam ruang keluarga. Dulu ia tidak melihat kebersamaan saat Mauren masih bersama Thomas. Tapi, kini mereka melihat hal itu sungguh membuat hatinya gembira.
Mauren berendam dalam bathub dengan aroma vanilla kesukaan nya. Matanya terpejam merasakan hangat nya air dan aroma vanilla yang memanjakan indera nya. Rasanya sudah lama ia tidak seperti ini. Terakhir kali ia memanjakan diri sekitar satu tahun lalu.
"Besok pergi sama mami ke spa deh. Udah lama banget aku ngga spa." Ucap Mauren pada dirinya sendiri.
"Papi pulang dulu, ya nak!" Ujar Darren pada Miska.
"Oke papi. Besok jangan lupa jemput Miska ya?" Pinta gadis kecil tersebut.
"Siap tuan putri." Tangan kanan Darren di angkat ke dahi tanda ia siap dengan perintah Miska.
"Sayang papi."
"Sayang Miska juga banyak-banyak," Darren memeluk Miska.