
"Kamu kenapa? Ada yang kamu sembunyi kan?" tanya Mauren yang curiga melihat tingkah Thomas.
"Ngga apa-apa." Jawabnya sedikit gugup.
"Ingat ya, jangan sampai kamu lakukan lagi kesalahan. Atau, hubungan kita benar-benar putus!" Ancam Mauren.
"Ngga akan," jawab Thomas sambil tersenyum dan bibir nye mendekat ke arah sang istri.
"Aku ngga main-main sama ucapan ku. Jadi, ingat itu!"
"Iya, sayang. Sudah mandi sana!"
Thomas mengalihkan pembicaraan pada Mauren agar ia tidak mengungkit lagi hal yang tadi. Suatu hubungan yang di rahasiakan selalu seperti ini. Dan satu kebohongan akan di lakukan lagi dan lagi.
"Baiklah, aku percaya."
Di Jakarta.
Darren menenggak sedikit demi sedikit anggur merah. Pikiran nya menerawang entah kemana. Kata ikhlas hanya terucap lewat bibir tapi hati nya masih saja tidak terima. Apa maksudnya ini semua sungguh ia sendiri tak tahu. Bagaimana mungkin bisa lepas dari Mauren sementara mereka masih sering bertemu. Mencintai istri orang tentu salah, tapi ia tidak bisa mencegah.
"Hah... ikhlas itu susah. Aku masih saja suka mikirin kamu terus. Masih saja menyimpan perasaan. Dan aku juga sangat sayang dengan Miska. Ia sudah ku anggap anak sendiri. Lucunya saat kalian berdua pergi sendiri, dengan gila nya aku menyusul kalian. Sungguh ini di luar dugaan ku. " Ucap ya pada dirinya sendiri.
Saina akhirnya memberanikan diri ke dokter. Setelah hampir seharian ia di bujuk oleh Siti. Tentu saja hal itu atas perintah Thomas. Pria beristri itu masih saja khawatir dengan Saina. Ia tidak bisa sepenuhnya lepas dari wanita itu. Cinta itu memang rumit dan inilah cinta segi empat antara Mauren, Thomas, Saina dan Darren. Pada akhirnya mereka semua akan terluka.
Darren terbelenggu dengan cinta yang tak sampai. Entah ini obsesi atau cinta sejati. Dan Mauren mencintai tapi tidak di cintai. Thomas mencintai wanita lain dan Saina mencintai suami orang. Sungguh hubungan yang rumit dan pada akhirnya akan membawa luka dan derita.
Sungguh cinta itu adalah sebuah rasa yang indah dan dahsyat tapi juga perih. Akan indah saat keduanya saling mencintai tapi akan perih saat berpisah atau cinta mereka bertepuk sebelah tangan.
"Siti, kok aku takut ya," Ujar Saina dengan tangan yang terus mengepal erat.
"Kenapa non? Kan hanya periksa." Jawab Siti.
Sebenarnya Siti sudah tahu kalau Saina hamil. Karena dari gejala mirip yang ia alami dulu. Siti sudah pengalaman karena dia sudah memiliki anak.
"Nona Saina!" Panggil perawat.
"Iya," Saina yang terus menggenggam tangan Siti masuk ke ruangan dokter.
Setelah ia menjelaskan keluhannya. Ia berbaring di ranjang pasien dan dokter mulai melakukan pemeriksaan.
"Em...saya rujuk ke dokter obgyn, karena dari tandanya sepertinya nona Saina sedang hamil." Ucap sang dokter.
Deg....
Bagai di sambar petir siang bolong. Apa yang di takutkan Saina benar, ia hamil. Dan saat ini Thomas sedang meninggalkan dirinya. Bagaimana ia harus menjalani hari-hari nya nanti?
" Baik mah, dokter. " Ucap Saina lirih.
Ia berusaha menutupi kesedihan nya. Padahal hatinya nyeri dan air matanya ingin segera tumpah.
"Saya antar bu, mari!" Ucap perawat.
Saina pun berpamitan pada dokter setelah mengucapkan terima kasih. Ia mengikuti arahan perawat tersebut.
"Nona, ngga apa-apa?" tanya Siti yang melihat Saina diam.
"Iya, ngga apa-apa."
Tiba di ruangan dokter kandungan. Lalu sang dokter menuliskan beberapa resep vitamin serta menjelaskan perihal kehamilan Saina.
"Bu, Saina selamat anda hamil." Ujar sang dokter.
"Tapi, perlu di jaga baik-baik bu-"
"Kenapa don? Ada apa dengan saya?" tanya Saina yang memotong ucapan sang dokter.