my secret love

my secret love
Bab 20



Saina bangkit dari tempat duduk nya. Rasa pusing dan mual semakin mengusik dirinya.


"Apa aku hamil ya? Tapi sepertinya aku pakai pengaman deh waktu itu. Kalau aku benar hamil bagaimana?" tanyanya pada diri sendiri.


"Non Saina kenapa? Bibi antar ke dokter ya? Itu wajah nya pucat sekali." Tanya sang asisten rumah tangga yang juga khawatir melihat kondisi Saina.


" Ngga apa, udah kamu lanjutin kerjaan sana. Aku mau pulang ke Yogyakarta minggu depan." Ucap Saina dengan lemah.


" Dengan kondisi nona yang seperti ini, yakin mau pulang? " tanya bibi memastikan.


"Bibi mau ngga temani saja, kerja di rumah saya yang ada di Yogyakarta?"


"Em, gimana ya nyonya. Saya kan rumah di Bogor kalau ke Yogyakarta jauh. Dan kalau saya pulang kan biaya pasti mahal." Jawab si bibi.


"Jangan khawatir saya akan sering ke Jakarta, dan kalau kamu pulang ke Bogor saya siap biayai kamu. Tapi, itu pun kalau bibi mau. Saya suka masakan bibi, cocok di lidah saya. Dan bini juga sangat perhatian, beda dengan asisten saya sebelumnya." Ujar Saina menjelaskan maksudnya mengajak bibi ke Yogyakarta.


Namanya Siti, dia adalah asisten rumah tangga yang di pilih Thomas untuk menjaga Saina. Setiap hari Siti akan memberikan laporan keadaan Saina pada Thomas. Seperti pagi ini, Situ sudah mengirim pesan pada Thomas tentang keadaan Saina yang makin lemah.


"Baiklah, nona. Saya mau." Jawab Siti.


Saina tersenyum. Ia berjalan dan tanpa ragu memeluk Siti dengan erat.


"Siti, jangan tinggalin saya ya!" Pinta Saina pada Siti.


"Apa maksud nona bicara begitu? Aku ngga akan ninggalin nona." Jawab Siti yang juga ia bertanya pada Saina perihal ia takut di tinggal.


"Semua orang pergi dariku, orang tua tak punya kekasih juga sudah pergi. Aku sebatang kara." Jawab Saina dengan sedih.


Siti sebenarnya tahu perihal Saina sendiri tamu tidak mau ikut campur. Bahkan tanpa Saina tahu, Thomas masih saja perhatian padanya. Tak jarang Thomas dulu yang menanyakan kabar Saina lebih dulu. Tapi keadaan mereka yang memaksa nya untuk berpisah. Hubungan yang atas cinta pun tak baik karena itu hubungan terlarang.


"Aku rasanya mual sekali, seperti nya masuk angin ini." Keluh Saina.


"Mau bibi kerokin ngga?" tanya Siti.


"Boleh bi, tolong buatin teh anget juga ya. Aku lemas rasanya."


Saina kembali tidur di atas sofa panjang yang ada di ruang keluarga. Ia sungguh tak sanggup melakukan aktivitas. Bahkan pekerjaan nya di handel oleh asisten pribadinya. Rasa mual lemas semakin hari semakin menyiksa. Bahkan ia tak sanggup makan seperti biasanya. Hanya sedikit camilan dan susu hangat setiap pagi.


Apakah Saina hamil? Jika itu terjadi, bagaimana dengan hubungan Thomas dan Mauren. Bukan kah mereka sudah sepakat ingin memperbaiki hubungan. Tapi, malah hal ini terjadi. Jika iya mungkin Saina harus siap menanggung semua sendiri. Hidup sendiri tanpa ada cinta dari Thomas dan harus menjadi ibu tunggal untuk anaknya.


"Aku rindu kamu, kenapa kamu tega. Kalau aku hamil, apakah kamu mau kembali padaku Thomas? Ayo kita hidup bersama, tidak aku mau jadi yang ke dua. Aku rela di madu asal anak ku bisa merasakan kebahagiaan keluarga utuh. Aku hanya ingin itu," ucap Saina lirih sambil menangis.


" Ini teh nya nona. Di minum masih hangat ini. Tadi bibi beli getuk di pasar. Coba makan lah nona! Siapa tahu ngga muntah nanti." Usul Siti.


Thomas gemetar membaca pesan dari Siti. Sepertinya kecurigaan nya benar. Kalau ini terjadi bagaimana dengan Mauren?


" Sayang, kamu sedang apa? Kok lama sekali. Aku mau ke kamar mandi, " tanya Mauren sambil mengetuk pintu kamar mandi berkali.


"Iya, sebentar." Thomas segera keluar dari kamar mandi.


"Kamu kenapa? Ada yang kamu sembunyi kan?" tanya Mauren yang curiga melihat tingkah Thomas.