
Mauren memalingkan wajahnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Bagaimana pun juga ia tidak boleh melarang Thomas untuk memeluk buah hatinya.
"Miska mau jalan-jalan sama oma dulu, ya daddy. Mau minta belikan es krim vanilla yang enak kesukaan Miska sama mau beli permen cokelat. Kalau sama mommy ngga boleh." Miska mengadu pada Thomas tentang Mauren yang melarang dirinya untuk makan permen cokelat.
" Oh gitu, oke deh kamu keluar dulu sama oma dulu deh. Nanti daddy dan mommy nyusul ya? "
" Oke daddy."
Miska turun dari gendongan Thomas. Ia segera berlari ke arah oma nya untuk pergi jalan-jalan dengan di janjikan es krim vanilla dan permen cokelat.
"Kau mau apa ke sini?" tanya Mauren.
"Pikirkan lagi tentang keputusan mu. Apa kau ngga kasian sama Miska?"
"Untuk apa aku harus memikirkan nya lagi? Apa kau tidak kasian pada aku dan Miska? Bagaimana rasanya saat kau bermesraan dengan wanita lain sementara istri dan anak mu selalu setia menunggumu di rumah. Kau tidak pernah tahu berapa kali anakmu merengek di malam hari saat kau tak pulang. Apa kau tahu bagaimana anak mu memanggil namamu saat ia terlelap? Sementara yang di rindukan sedang memadu kasih dengan wanita simpanan nya." Tanya Mauren.
" Maaf kan aku. "
"Seperti nya beberapa hari lalu aku sudah memaafkan dirimu. Asal kau tahu, saat itu pun aku tahu dirimu sudah berselingkuh. Dan dengan besar hati aku memaafkan dirimu, semua ku lakukan demi Miska. Kemarin aku bahagia sekali, saat kau mencumbu diriku serta kau bisikan kata cinta. Nyatanya semua itu palsu. Kau masih selalu berhubungan dengan wanita itu. Bahkan..." Mauren tak sanggup melanjutkan perkataan nya.
Wanita itu terduduk, ia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Air matanya keluar terus menerus tanpa permisi tapi tak ada suara sedikit pun. Hancur, itulah yang di rasakan Mauren.
Thomas ikut duduk di hadapan Mauren. Air matanya juga sudah keluar. Seandainya waktu bisa di putar, tentu ia tak akan melakukan hal ini. Tentu saja ia akan mencintai Mauren dan memilih hidup bersama nya. Namun nasi sudah menjadi bubur dan tidak dapat menjadi nasi lagi.
"Dasar brengseek," teriak Darren.
Dengan kasar ia menarik kerah baju Thomas.
Pukulan bertubi-tubi ia layangkan pada wajah Thomas. Kemarahan nya tak bisa ia bendung lagi.
"Apa maksudnya ini? Kau sudah gila Darren!" bentak Thomas.
"Iya aku gila, karena dirimu aku gila. Kalau seandainya membunuh itu tidak di larang akan aku lakukan itu. Kau dengan tega menyakiti Mauren dan Miska. Aku tidak terima itu, Thomas," Darren tak kalah keras berteriak.
"Oh, jadi ini yang namanya sahabat. Kau mencintai istri ku kan? Aku dari dulu sudah curiga padamu. Sekarang kecurigaan ku benar adanya."
"Iya, aku mencintai istri mu dari dulu, dari sebelum kalian di jodohkan. Kami sudah berteman baik dari kecil dan kehadiran mu merusak semua nya. Tapi, setidaknya aku tidak gelap mata seperti mu. Aku masih mencintai Mauren dalam batas wajar. Aku juga mendukung penuh pernikahan kalian, aku juga ikut bahagia saat Mauren bahagia. Tapi apa yang kau lakukan? Kau dengan tega menyakiti dia. "
"Ini bukan urusan mu, Darren!" Teriak Mauren.
Ia berusaha menghentikan perdebatan antara Thomas dan Darren.
"Kalau ini tentang kau dan Miska tentu akan jadi urusanku." Ucap Darren.
Bug... Pukulan yang di layangkan Thomas mendarat di pipi Darren. Sudut bibir nya mengeluarkan darah segar.
" Bukan urusan mu, brengseek!" Thomas masih tidak terima dengan ucapan Darren yang menyudutkan dirinya.
Mauren pergi begitu saja meninggalkan dua pria yang masih bersitegang. Ia tak mau tahu apa yang akan di lakukan pria itu. Pikiran nya sudah kacau, hatinya nyeri saat mengingat ada seorang wanita yang mengandung anak dari suaminya.
"Mauren kau mau ke mana?" tanya Darren. Ia segera mengejar Mauren.
Darren takut kalau Mauren nekat lagi seperti waktu itu. Pergi ke klub malam sendiri.
Darren dengan sigap mengambil kunci mobil yang di bawa Mauren. Ia mengambil alih kemudi dan Mauren duduk di samping nya.
" Darren aku mau sendiri," ucap Mauren lirih.
"Ngga akan aku biarin kamu sendiri," jawab Darren yang sudah menyalakan mesin mobil.
"Hei, kalian mau ke mana? Buka! Cepat buka!" Pinta Thomas kedua tangan nya mengetuk pelan kaca mobil.
Darren tersenyum mengejek ke arah Thomas. Lalu ia menyalakan mesin mobil nya. Mauren hanya diam dengan tatapan nya kosong melihat ke jendela.
Darren tak lupa mengabari mama Mauren agar tidak khawatir kalau anak kesayangan nya sedang pergi bersama dengan nya.
Saina sudah sampai di apartemen. Ia duduk di sofa panjang sambil terus memegang perut nya yang masih rata. Sedih dan bahagia bercampur jadi satu. Lagi dia mengalami hal ini. Saat hamil tak ada Thomas di samping nya. Dulu, ia putus dengan terpaksa. Dan sekarang ia pun harus rela karena Thomas sudah punya istri. Cinta tetaplah cinta dan perbuatan Saina tak akan bisa di benarkan sampai kapan pun.
Hubungan yang Saina jalani bersama Thomas hanyalah sebatas rasa kasian. Saina yang saat itu terpuruk karena kehilangan anak yang di kandung nya. Thomas merasa bersalah memberikan Saina perhatian lagi dan lagi sehingga mereka hanyut dalam hubungan terlarang. Ada cinta awalnya namun semua sudah sirna dengan nafsu dan rasa kasian. Tapi keduanya tidak sadar akan hal itu.
"Minum dulu, susu nya non!" Bi Siti menyediakan susu hamil rasa strawberry agar di minum Saina.
"Benar apa yang di katakan bibi. Thomas ngga cinta aku. Dia hanya kasian sama aku. Salah ku yang sudah percaya dan menyerahkan semua pada dia. Istrinya cantik sekali, aku saja tadi sempat minder saat bertemu. Dan pandangan Thomas juga terlihat kalau ia cinta dengan istri nya. Aku datang ke sana cuma ingin anak ku di akui itu saja." Ucap Saina.
" Non, yang sabar. Sebaiknya non Saina lupain tuan Thomas. " Saran bi Siti.
" Istrinya sudah tahu kalau aku hamil. Katanya mereka mau cerai bi. Lalu aku harus bagaimana? " Saina kembali menangis saat dirinya merasa bersalah.
" Cukup non Saina diam. Kalau mereka mau cerai itu bukan urusan non Saina."
" Tapi semua karena salahku bi, "
Bunyi bel apartemen menghentikan percakapan mereka.
" Lihat siapa yang datang bi! " Pinta Saina.
Siti langsung membuka pintu apartemen. Ia begitu terkejut saat melihat seseorang yang sudah ada di depan pintu.