my secret love

my secret love
Bab 35



Di sebuah rumah sakit di kota pelajar Yogyakarta Saina berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan seorang bayi. Jika orang pada umumnya melahirkan di dampingi sang suami, berbeda dengan Saina. Ia sendiri hanya seorang diri merasakan kesakitan di sebuah ruangan berukuran empat kali tiga tersebut. Teriakan dan tangis nya menggema di seluruh ruangan. Keringat bercucuran membasahi wajah nya. Kedua tangan nya mencengkeram erat seprei putih alas kasur tempat nya berbaring.


"Ayo, bu terus! Sedikit lagi, bu ayo!" Perintah dokter kandungan yang membantu proses persalinan Saina.


"Masih kurang sedikit lagi dokter, tapi ibu Saina seperti kehabisan tenaga." Ucap salah satu perawat yang membantu proses persalinan nya.


"Kita tunggu sebentar lagi, kalau tindakan operasi perlu di lakukan, maka akan kita lakukan demi keselamatan ibu dan bayi." Ujar sang dokter.


"Baik dokter." Jawab dua perawat yang membantu dokter tersebut yang membantu proses persalinan Saina.


"Thomas, apakah kamu sungguh sudah tak peduli padaku? Lihat lah, aku akan segera melahirkan buah hati kita. Apa kau tidak kasian padaku, saat ia lahir nanti kelak dia dewasa aku harus menjawab apa kalau ia tanya tentang ayah nya?" batin Saina.


Kata rela itu tidak benar-benar Saina rasakan. Ia masih berharap Thomas peduli padanya dari lubuk hati yang paling dalam. Setiap hari ia memandang ponsel berharap ada pesan dari Thomas. Dan setiap malam ia memandang ke arah pintu berharap Thomas akan datang padanya. Namun angan nya hanya sebuah ilusi. Thomas tak pernah menampakkan dirinya lagi. Seolah enggan mengenal ia lagi.


"Ayo, bu sedikit lagi!" Perintah sang dokter.


" Oek...Oek..." suara tangisan bayi terdengar menggema di ruangan. Dengan sekali mengejan Saina berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki yang lucu.


"Selamat ibu, anak nya laki-laki." Ucap salah satu perawat.


Saina tak kuasa menahan tangisan nya. Rasanya tak ada kata yang mampu ia ucapkan, bahkan ia hanya bisa tersenyum sambil meneteskan air mata. Kali ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata bahagia karena dia menjadi seorang ibu.


"Tuan, apakah ngga mau masuk ke dalam?" tanya Siti.


Iya, Thomas sudah di rumah sakit. Ia mendengar teriakan Saina di dalam ruangan tersebut. Bahkan air matanya ikut menetes saat mendengar tangisan bayi. Hatinya bergetar, sama seperti dulu, saat Miska lahir di dunia. Bedanya dulu ia langsung menggendong Miska. Tapi, ini ia tidak menggendong anak nya.


"Ngga usah bi, rasanya saya tidak pantas untuk berada di dalam ruangan tersebut. Saya mendengar tangisan nya saja sudah sangat lega dan bahagia. Biarlah saya melihat dan menjaga nya dari jauh." Jawab Thomas.


"Tapi, akan lebih bahagia kalau anda bisa masuk ke dalam. Bisa menggendong sang buah hati." Bujuk Siti.


"Tidak perlu, saya akan melihat nya nanti saja. Saya titip anak saya dan Saina ya, bi!"


"Tuan jangan bicara seperti itu. Bukan kah, sekarang tuan sudah sendiri. Tidak ada salah nya untuk menjalin hubungan bersama dengan nona Saina. Bersama menjadi keluarga yang utuh."


"Mama saya tidak merestui itu. Dari awal dia tidak suka dengan Saina. Dan saat tahu Saina merusak rumah tangga ku dan Mauren dengan sengaja. Mama lebih tak suka pada Saina. Ia tak membenci cucu nya. Tapi, mama sulit untuk menerima Saina."