my secret love

my secret love
Bab 26



"Lalu, bagaimana dengan kandungan nya? Apa kau mau menyuruh nya untuk menggugurkan kandungan nya?"


"Aku ngga mau gugurin kandungan ku. Dulu, aku pernah kehilangan sekali dan kini aku ngga mau kehilangan lagi." Lirih Saina.


Deg...


Mauren kaget mendengar perkataan Saina. Dulu? Artinya hubungan mereka sudah terjalin lama dan Saina pernah mengandung anak Thomas. Di sini Mauren merasa menjadi wanita paling bodoh. Ia tak tahu apa yang dilakukan suaminya di luar sana. Ia memberi cinta utuh pada Thomas, tapi sekalipun tak pernah di hargai. Hubungan mereka palsu, bahagia mereka hanya terlihat di luar saat bertemu orang banyak. Dan hubungan keduanya hambar.


"Dulu? Kapan itu? Hah, sudah lah lupakan pertanyaan ku, itu urusan kalian. Aku ngga mau tahu lagi. Sekarang kau bebas bersama Thomas Saina." Ujar Mauren.


"Sudah aku katakan, aku ngga mau cerai." Celetuk Thomas.


"Tapi aku akan tetap menceraikan mu. Miska akan bersama dengan ku. Aku akan tinggal di apartemen," ucap Mauren lalu meninggalkan Saina dan Thomas begitu saja.


Ia bergegas mengambil tas dan akan pergi ke suatu tempat. Dari pagi tadi Miska sudah pergi dari rumah. Tentu saja hal itu adalah rencana Mauren. Ia meminta sang mama untuk mengajak Miska pergi.


"Saina, pulang lah! Aku akan menemui kamu nanti," Usir Thomas dengan halus.


"Tapi, aku-"


"Pulang! Atau aku ngga akan menemui kamu lagi." Ancam Thomas.


Tanpa membantah, Saina langsung melangkah kan kaki nya keluar. Air matanya sudah menetes terus menerus membasahi pipi mulus nya. Inilah yang harus ia tanggung. Mencintai suami orang, bahkan ia dengan sadar melakukan kesalahan tersebut.


Seperti simpul benang yang susah untuk di urai. Hubungan yang rumit antara Saina dan Thomas. Mereka pernah bersama dan saling mencintai tapi tak di satuan dalam ikatan suci pernikahan. Pada akhirnya hanya luka yang mereka rasa. Cinta itu tidak salah, namun kadang tempat nya kurang tepat.


 


Tangan Darren terkepal kuat. Ia baru saja menerima pesan kalau Mauren akan bercerai. Seharusnya ia bahagia atas apa yang akan Mauren lakukan tapi, tidak demikian. Hatinya lebih sakit membayangkan rapuh nya Mauren saat ini. Bagaimana seorang wanita yang dengan tulus mencintai di balas dengan sebuah pengkhianatan.


"Dasar, Thomas gilaa. Bagaimana ia bisa berbuat seperti itu." Ucap Darren lirih.


Darren berkali-kali menghubungi Mauren tapi wanita itu tak juga mengangkat panggilan nya. Ia takut kalau Mauren pergi ke klub malam lagi seperti beberapa bulan lalu.


"Ayo lah, angkat Mauren. Kau di mana? Jangan buat aku khawatir."


Di tempat lain.


Mauren baru saja memarkirkan mobil nya di sebuah rumah mewah yang juga tak kalah mewah dari rumah nya. Ia turun tanpa ekspresi, kaki nya berjalan perlahan menuju ke rumah tersebut. Sisa air mata yang tadi menetes sudah ia bersihkan dengan tisu. Matanya yang sembab tak terlihat karena ia memakai kaca mata hitam untuk menutupi nya.


"Mommy," teriak Miska saat melihat Mauren masuk ke dalam rumah. Gadis kecil itu langsung berlari ke arah sang mommy.


" Hai, sayang nya mommy." Jawab Mauren.


Saat Mauren melepas semua keraguan di hatinya. Saat ia menerima Thomas dengan segala kesalahan nya yang Mauren tahu. Tapi, lagi-lagi ia di patahkan dengan harapan nya sendiri. Memang percaya pada manusia adalah sebuah lelucon terbodoh.


"Nak, kau ngga apa-apa?" tanya mama Mauren.


"Ngga apa-apa ma." Jawab Mauren.


"Jangan tutupi apapun dari mama. Maaf kan kami yang telah menjodohkan mu dulu nak," Mama Mauren meneteskan air mata.


Mama Mauren merasa bersalah atas apa yang menimpa putrinya. Kalau saja dulu ia tidak menjodohkan Mauren dengan Thomas hal ini mungkin tidak akan terjadi. Dan yang membuat sang mama merasa sedih lagi adalah karena anaknya hidup berumah tangga tanpa ada cinta dari suami. Tapi dengan rapi nya sang putri menutupi semua itu. Hati orang tua mana yang tidak teriris mengetahui hal tersebut.


Pilihan orang tua itu baik menurut nya. Tapi belum tentu baik untuk sang anak. Terbukti apa yang di alami Mauren saat ini.


"Mama ngga salah apa-apa. Aku yang tidak bisa membuat suami ku jatuh cinta padaku. Bahkan saat aku mencintai dia dengan tulus tak sedikit pun ia membalas. Hubungan kami hanya sebatas status tanpa rasa. Saling menguntungkan dan saling menyalurkan hasrat. Itulah pikiran suami ku ma. Tak apa, ini lebih baik dari pada aku masih bersama dia tanpa mengetahui kebenaran yang sebenarnya ma. Cinta itu tidak bisa di paksakan ma. Perpisahan adalah jalan yang sebenarnya Mauren hindari, tapi kalau perlu tentu akan Mauren lakukan. Maaf kan Mauren yang sudah mengecewakan mama." Jelas Mauren panjang lebar.


Mama Mauren memeluk sang putri." Ini salah mama, sayang. Maafin mama! Kalau saja dulu tidak ada perjodohan di antara kalian. "


" Ma, bukan karena perjodohan nya yang salah. Tapi karena memang kami yang tidak bisa bersama lagi. Banyak kok, yang di jodohkan tapi langgeng sampai tua. Kita berjodoh nya hanya sampai batas ini ma."


Mauren membalas pelukan sang mama. Mereka bertiga berpelukan, Miska yang ada di gendongan Mauren dan tangan kanan nya ia gunakan memeluk sang mama.


Thomas baru tiba di rumah mama mertua nya. Dengan cepat ia masuk ke dalam rumah untuk menemui sang istri.


"Mauren!" Seru Thomas.


Mendengar namanya disebut, Mauren mengikuti arah suara tersebut. Satu langit kemudian ia menghela napas panjang. Ruangan yang lebar tersebut tiba-tiba menjadi sempit dan terasa sesak untuk Mauren.


"Mama, tolong bawa Miska ke kamar, atau jalan-jalan keluar sebentar!" Pinta Mauren.


"Iya," tanpa bertanya mama Mauren membawa pergi Miska.


Tentu saja mama Mauren tahu apa yang akan di lakukan sang putri. Ia tidak ingin pertengkaran nya dengan sang suami di dengar oleh nya.


"Miska sayang, sini peluk daddy," ucap Thomas. Kedua tangan nya mengarah ke Miska. Ia sengaja ingin menghentikan sang mertua agar tidak pergi.


"Daddy," Miska menerima uluran tangan Thomas.


Ayah dan anak itupun berpelukan. Thomas semakin mempererat pelukan nya pada sang putri. Seolah tak ingin jauh dari Miska.


Mauren memalingkan wajahnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Bagaimana pun juga ia tidak boleh melarang Thomas untuk memeluk buah hatinya.