my secret love

my secret love
Bab 36



Mama saya tidak merestui itu. Dari awal dia tidak suka dengan Saina. Dan saat tahu Saina merusak rumah tangga ku dan Mauren dengan sengaja. Mama lebih tak suka pada Saina. Ia tak membenci cucu nya. Tapi, mama sulit untuk menerima Saina."


Siti pun hanya diam mendengar penuturan Thomas. Terkadang memang seperti itu, satu hubungan sampai ke pernikahan pun banyak yang ngga dapat restu tapi nekat menikah dan pasti akan ada salah satu pihak yang di kucil kan dalam keluarga. Dari awal Mama Thomas tidak menerima, ia takut pasti Saina akan di kucil kan di keluarga besar nya.


"Semoga non Saina baik-baik saja tuan." Ucap Situs lirih.


"Dia wanita yang kuat bi, pasti akan baik-baik saja."


Thomas mengintip Saina dari celah kaca yang ada di pintu. Air matanya menetes melihat Saina tersenyum senang menyusui sang buah hati. Seandainya ia mampu mendekat lalu mendekap wanita itu, pasti akan ia lakukan saat ini. Dia hanya memberi perlindungan di belakang saja tidak berani menampakkan dirinya.


"Saya pulang dulu, bi." Ucap Thomas.


"Tuan, beneran ngga mau masuk?" tanya Siti.


Wanita itu sengaja memancing Thomas agar mau masuk ke dalam ruangan Saina.


"Ngga akan bi. Saya ngga kan masuk ke dalam." Jawab Thomas dengan tegas tanpa rasa ragu sedikit pun.


"Tapi, itu adalah darah daging tuan."


"Saya tahu, tak perlu kamu ingat kan saya lagi."


Tanpa kata, Thomas lalu pergi meninggalkan Siti yang masih diam mematung. Hatinya berubah keras, senyum nya palsu dan dia menjadi pribadi yang lebih tertutup. Waktu nya bermain dengan Miska pun hampir tak ada. Dia hanya sesekali melakukan panggilan telepon. Rasa rindu nya pada Mauren sangat menyiksa Thomas. Setiap malam ia hanya memandang wajah Mauren dan Miska lewat pigura besar yang terpampang di dalam kamar nya.


Siti masuk ke dalam ruangan Saina setelah sesaat tadi izin dengan dokter dan perawat.


"Wah, ganteng sekali anak nona!" puji Siti.


"Iya, bi mirip papa nya ya? Sayang papanya ngga lihat dia. Coba aja sekali saja papa nya lihat dia, pasti senang." Ucap Saina dengan lirih.


Sama hal nya dengan Thomas, Saina pun terluka, ia merasakan Kesendirian di rumah sakit berjuang tanpa di dampingi Thomas dan setalah ini ia harus berjuang sendiri melawan kerasnya dunia demi sang buah hati.


" Kirim foto nya saja nona." Siti terbesit ide untuk mengirim foto pada Thomas.


"Eh, iya juga ya. Aku kirim saja foto dan video."


Saina mengambil ponsel dari tas miliknya yang berada di samping ranjang tempat ia berbaring. Setalah tadi bi Siti mengambil alih menggendong sang bayi.


"Semoga dia suka." Setelah beberapa kali mengambil gambar sang bayi, Saina mengirim gambar tersebut pada Thomas.


"Ada balasan ngga nona?" tanya Siti.


"Mana mungkin ia balas bi, aku tahu dia seperti apa. Ngga akan mungkin balas pesan dari aku. Ngga apa-apa yang penting sudah terkirim dan dua sudah lihat bayi nya. Ini sudah lebih dari cukup buat ku bi. Ngga apa-apa ini adalah resiko yang harus aku tanggung . Aku udah ikhlas bi, yang penting sekarang bagaimana aku fokus membesarkan bayi ku. "