my secret love

my secret love
Bab 30



Hari pun berganti dengan minggu. Mauren masih kekeh dengan keputusan nya ingin pisah dengan Thomas. Ia tidak tinggal lagi bersama dengan sang suami. Setelah hari itu ia tinggal di rumah orang tua Mauren. Tak terhitung berapa kali Thomas meminta maaf tapi hati Mauren tak tergerak sedikitpun. Jalan satu-satunya yang harus ia ambil adalah berpisah. Mempertahankan kan itu penting, tapi kalau di antara keduanya sudah tidak ada rasa peduli dan cinta buat apa di pertahankan?


Mauren baru saja pulang dari kantor. Lelahnya bekerja seharian terbayarkan dengan melihat candaan sang putri. Ia duduk di sofa panjang berbahan kulit sintesis.


"Mommy, kenapa daddy kerja nya lama sekali? Terus kita ngga pulang ke rumah, ya mommy?" tanya Miska.


Hati Mauren terasa ter cubit. Apa yang harus ia jawab. Sementara putrinya sangat pintar dan aktif. Mau bilang kerja di luar kota, takut sewaktu-waktu Thomas datang menemui dirinya.


" Halo, Miska sayang! " Sapa Darren dari kejauhan.


Mauren dan Miska menoleh ke sumber suara tersebut.


"Halo, Om Darren! Eh, itu bawa apa? tanya Miska yang penasaran melihat kotak warna biru besar yang di bawa Darren. Gadis kecil itu langsung menghampiri Darren karena ia penasaran.


" Ini buat keponakan om yang paling baik dan cantik." Darren memberikan kotak besar warna biru tersebut.


"Wah, apa itu?" tanya Mauren yang juga penasaran dengan hadiah Darren.


Miska di bantu dengan Darren membuka kotak tersebut. Muncul lah, boneka kelinci besar berwarna pink.


"Wow... boneka kelinci. Miska suka sekali Om. Terima kasih, ya om!" Seru Miska.


"Sama-sama anak baik." Jawab Darren.


"Miska mau kasih tahu oma sama opa deh Om. Kalau dapat hadiah dari Om Darren," Miska segera berlari menuju taman belakang di mana opa dan oma nya sedang merawat bunga mereka.


"Hati-hati, jangan lari Miska!"


"Ngga mommy."


Miska memelankan langkahnya. Ia berjalan pelan dengan di ikuti pengasuh nya dari belakang.


Kini tinggal Mauren dan Darren yang duduk bersebelahan di sofa panjang dengan jarak yang dekat. Keduanya hanya diam dan larut dengan pikiran nya sendiri. Mauren tak bisa memulai obrolan. Dan Darren bingung harus bercerita dari mana dulu. Hubungan keduanya menjadi sedikit kaku saat Mauren sudah mengurus proses perceraian. Darren terkesan bersikap lebih dingin dari sebelumnya.


"Kamu baru pulang langsung ke sini ya?" tanya Mauren.


Darren menganggukkan kepala.


"Oh, gitu ya."


"Gimana proses nya?" Yang di maksud proses di sini adalah tentang perceraian Mauren.


"Sudah di urus sama pengacara papa. Jadi, tinggal terima beres aja. Thomas berkali-kali minta rujuk, tapi aku ngga mau."


"Buat pamer status aja kalau udah nikah," jawab Mauren disertai tawa.


"Status aja,terus kamu sendiri yang tersiksa kan? Kamu itu cantik dan baik, kamu juga layak bahagia. Jadi tinggal kan yang memang bukan untuk mu. Masih banyak rumah yang ramah untuk pulang. Dan masih banyak lagi pundak yang dengan tulus untuk kamu bersandar. Misalnya aku," pandangan Darren tertuju pada Mauren. Tak lepas sedikit pun dari wanita cantik yang sudah ia cintai dari lama dan diam-diam tersebut.


"Diri sendiri di sebut aja. Percaya diri sekali anda tuan!" Seru Mauren.


"Percaya diri adalah keharusan."


Lalu mereka tertawa bersama. Rasa nya saat bersama Darren masalah Mauren hilang seketika. Sahabatnya tersebut sungguh bisa di andalkan dalam segala hal.


 


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan? Kandungan Saina semakin hari semakin besar. Mama tidak habis pikir dengan kamu. Sudah dapat berlian, kau buang begitu saja. Mama tidak bisa mencegah keputusan Mauren karena itu semua gara-gara kesalahan mu." Ucap Mama Darren.


" Ma, aku minta maaf. Semua di luar dugaan ku. Saat aku sudah melepas Saina ternyata dia hamil, ma. "


Mama Thomas hanya menghela napas panjang. Ingin rasanya ia pukul dan maki sang putra, tapi semua nya sudah jadi bubur. Ia juga tidak mau ikut campur masalah rumah tangga anaknya.


" Apa kau berencana menikahi, Saina? "


Thomas diam dengan pertanyaan sang mama. Bagaimana bisa ia setelah menikah langsung bercerai. Apa yang akan di pikirkan oleh orang-orang di luar sana? Bagaimana ia meyakinkan Miska kalau gadis tersebut akan segera punya adik? Masalah yang ia buat sendiri dan sekarang pun kesulitan mengatasi masalah tersebut.


"Jawab pertanyaan mama Thomas?" bentak mama Thomas.


"Aku belum tahu ma."


" Sudah, mama mau tidur. Tidak habis pikir dengan kamu. Tanggung jawab lah, sebagai pria yang baik. Jangan lari dari tanggung jawab!" Pinta sang mama.


Mama Thomas segera masuk ke dalam kamar. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam rasa kantuk tak bisa di tahan wanita tua tersebut.


Thomas masih diam di ruang keluarga. Asap tembakau mengepul di udara, secangkir kopi hangat tak lupa menemani ia dalam malam. Sangat sunyi dan sepi, kini ia tahu seperti ini lah saat semua sudah pergi. Terkadang kita itu baru sadar arti kehadiran saat kita kehilangan orang tersebut. Celoteh riang Miska sudah jarang ia dengar dan rayuan manja dari Mauren sungguh ia rindu. Saat ini hanya penyesalan tiada arti untuk dirinya.


Mauren masih terjaga. Ia melihat putrinya yang tidur sambil memeluk boneka kelinci yang di hadiahkan Darren. Wajah polos bocah itu sangat menenangkan untuk ia pandang. Egois memang ia memisahkan Miska dan Thomas, tapi inilah jalan satu-satunya yang harus Mauren ambil.


"Maafkan mommy, nak! Kelak kau akan mengerti, kenapa mommy mengambil keputusan ini. Kami tidak bersama dalam satu hubungan pernikahan. Tapi kita akan bersama dalam peran sebagai orang tua dan mendidik dirimu dengan baik. Mommy harap kelak kau mengerti nak!" Ucap Mauren lirih.


Air matanya menetes membayangkan nanti saat dirinya sudah resmi bercerai dari Thomas. Bagaimana ia akan menghadapi pertanyaan dari Miska yang sewaktu-waktu tanya kenapa mommy dan daddy nya tidak bersama lagi. Tidak ada yang ingin mengakhiri pernikahan nya. Tapi, saat keputusan ini di ambil percayalah, dia sudah perang dengan batin dan pikiran nya sendiri. Dengan mati-matian meyakinkan diri sendiri kalau langkah nya itu adalah yang terbaik untuk semua orang, walaupun kadang masih ada cibiran yang selalu mewarnai langkah nya karena keputusan nya itu.


Karena manusia itu hanya melihat satu sisi saja, tidak ingin lihat yang lainnya. Hanya lihat buruknya, dan hanya mendengar kejelekan orang saja tanpa melihat baiknya. Keputusan apapun yang Mauren ambil adalah terbaik untuknya, karena itu adalah hidup Mauren