My Perfect Husband

My Perfect Husband
Rendahan



Naynay dan Rania sudah rapi dengan seragam sekolah mereka. Setelah sarapan, mereka langsung berangkat ke sekolah dengan Rania yang menyetir kembali.


"Ran, aku pengen makan nasi goreng yang pedes bangeet! Ke kantin yuk!" Naynay merengek sambil menarik-narik tas Rania ketika mereka sedang berjalan di koridor sekolah.


"Santai aja kali, Nay. Ayo!" ucap Rania, giliran dia yang menarik tangan Naynay menuju kantin.


Di kantin, banyak siswa yang sedang sarapan. Mungkin takut terlambat, jadi mereka memutuskan untuk sarapan di sekolah. Sedangkan Naynay, dia sudah sarapan di rumah, tapi ngidam nasi goreng super pedas pulak.


"Kamu duduk aja, biar aku yang pesan!" ucap Rania sambil meletakkan tasnya di atas meja di sudut kantin.


"Jangan lupa, ya, yang super pedes!" ujar Naynay yang takut Rania lupa.


"Iyaaaa," balas Rania dan pergi memesan nasi goreng.


Naynay membuka hpnya, memeriksa email endorse yang masuk hari ini. Ada dari suplemen pemutih seluruh tubuh, sabun cuci wajah, dan lain sebagainya. Naynay tidak pernah menerima endorse jika barang-barang itu tidak terdaftar di BPOM atau tidak dikirim langsung padanya sebagai sampel.


"Nay!"


Naynay menoleh ketika ada yang memanggil namanya. Ternyata sahabatnya yang bernama Rosi, tapi Naynay dan Rania lebih sering memanggilnya Kak Ros.


"Kak Ros!" pekik Naynay senang dan memeluk Rosi dengan erat.


"Ihhh, Nay. Baru aja tiga hari nggak ketemu, kebiasaan deh," ucap Rosi sambil berusaha melepas pelukan Naynay yang kelewat erat.


Naynay melepaskan pelukannya dan tersenyum manis sambil menengadahkan tangannya. Rosi sudah paham apa yang dimintanya.


"Nih!" Rosi memberikan dua paper bag kepada Naynay.


"Makasih Kak Ros, sini cium!" Naynay mendekat dan ingin mencium Rosi, tapi dengan cepat Rosi menghindar.


"Jangan cium-cium!" Rosi menggeleng dengan kedua tangan terulur ke depan.


"Iya, iya." Naynay duduk dan melihat apa isi dari paper bag yang diberi Rosi tadi.


"Kak Ros, udah balik ternyata!" ucap Rania yang datang membawa pesanan nasi goreng Naynay, dia juga memesan satu porsi untuknya.


"Kita kan mau ujian lagi, mana bisa aku lama-lama perginya." Rosi memberikan dua paper bag juga kepada Rania.


"Gimana tuh, honeymoon sama suami?" tanya Rania dengan suara pelan.


Rosi memang sudah menikah dengan anak teman papanya yang sedang kuliah, beberapa bulan yang lalu. Dijodohkan awalnya, tapi akhirnya saling cinta dan menyayangi hingga pergi honeymoon ke Jepang beberapa hari lalu. Hanya Naynay dan Rania yang tahu hal ini, karena pernikahan mereka memang masih dirahasiakan.


"Biasa aja," balas Rosi santai dan memasukkan sesendok nasi goreng Naynay ke dalam mulutnya. Baru saja butiran nasi itu menyentuh indra pengecapnya, dia langsung menyambar minuman Rania yang ada di atas meja.


"Pedes banget, berapa cabe tuh?" Rosi mengipas-ngipas lidahnya yang terasa terbakar.


"Aku pesen yang paling pedas, Naynay yang minta," ucap Rania menunjuk Naynay yang mulai memakan nasi gorengnya.


"Ini nggak terlalu pedes, kok. Kamu yakin, ini udah yang paling pedes?" tanya Naynay pada Rania.


"Itu udah yang paling pedes, Nay. Tanya sama penjualnya kalau nggak percaya!" ucap Rania dan menyuap nasi gorengnya.


"Iya, aku percaya," ucap Naynay dan melanjutkan memakan nasi goreng super pedas itu.


"Kalian nggak sarapan di rumah?" tanya Rosi yang sedang membalas chat dari suaminya. Kalau sudah cinta, pasti rasa kangen datang menyerang. Padahal Rosi diantar suaminya tadi.


"Sarapan sih, tapi yang namanya lapar bisa datang tiba-tiba," ucap Naynay santai. Rosi hanya ber-oh ria sambil angguk-angguk kecil.


"Kak Ros, masih perawan atau nggak?" tanya Rania berbisik agar tidak ada yang mendengar.


"Ya udah enggak lah, Ran. Tiga hari di Jepang, aku nggak keluar dari kamar hotel karena digempur habis-habisan. Itupun oleh-olehnya aku beli di Bandara!" jelas Rosi gemas dengan pertanyaan Rania. Kalau dia masih perawan, trus ngapain dong, honeymoon ke Jepang kemaren?


"Nggak usah dijelasin juga kali, ah." Rania mendengus kesal.


"Hati-hati, Nay!" ujar Rania yang tahu kalau itu adalah pertanyaan sensitif untuk Naynay.


"Udah, jangan dimakan lagi nasi gorengnya!" ucap Rosi yang mengira kalau Naynay tersedak karena nasi goreng pedas itu.


"Nanggung," ucap Naynay dan melanjutkan memakan nasi gorengnya yang tinggal sedikit.


"Ehh, jawab dulu pertanyaan aku tadi!" Rosi menatap kedua sahabatnya meminta jawaban.


Rania menatap Naynay yang sudah menghabiskan makanannya, dia tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Rosi tadi.


"Nggak apa-apa, kamu kan punya suami. Lagian kita cuman sekolah dua bulan lagi," balas Naynay yang berusaha setenang mungkin menjawab.


"Iya juga sih." Rosi mengangguk.


"Hhmm, bagaimana menurut kamu jika seorang wanita hamil tanpa suami dan itupun karena kecelakaan?"tanya Naynay menatap Rosi.


"Menurut pandanganku, kalau seseorang hamil tanpa suami itu seperti wanita rendahan!" jelas Rosi yang membuat Naynay menunduk.


"Tapi..." Rosi tidak bisa melanjutkan ucapannya karena bel masuk berbunyi.


"Aku duluan." Naynay meraih tasnya dan pergi dari sana.


Rosi merasa ada yang aneh dari Naynay, sikapnya sedikit berubah.


"Ayo kita susul Naynay, nanti guru keburu masuk!" ajak Rania sambil menarik tangan Rosi untuk segera menyusul Naynay yang sudah masuk ke kelas.


Dari pagi sampai pulang sekolah, perkataan Rosi tadi terus terngiang di kepala Naynay. Di mata sahabatnya, dia terlihat seperti wanita rendahan. Tentu semua orang akan berpandangan seperti itu. Naynay kembali merasa menjadi aib yang akan membuat malu keluarganya.


Di perjalanan pulang, Naynay hanya diam memandang kaca mobil. Tangan kanannya memegang perutnya yang beberapa bulan lagi akan membesar.


"Ran, kamu nggak malu apa, temenan sama aku? Cewek rendahan," tanya Naynay tanpa menatap Rania yang sedang mengemudikan mobil.


"Nay, jangan ngomong yang nggak penting kayak gitu dong! Kita itu sahabat, dari orok mungkin udah saling connect," ujar Rania, dia menepikan mobil di depan supermarket.


Rania memutar tubuhnya menghadap Naynay, tangannya mengusap bahu sahabatnya itu. "Nggak usah pikirin yang dikatakan Rosi tadi! Dia kan nggak tahu kalau kamu hamil dan apa yang terjadi sama kamu," ujarnya menenangkan.


Naynay mengangguk kecil dan tersenyum. Ini ujian hidupnya, yang akan menentukan dia kuat atau lemah. Kuat atau lemah untuk anaknya, itu yang dipikirkannya.


"Kita belanja, yuk!" ajak Rania.


Naynay mengacungkan jempolnya dan mereka segera keluar dari mobil. Mereka membeli banyak cemilan, terutama coklat karena Naynay sangat suka dengan makanan manis satu ini.


"Nay, kita beli susu ibu hamil, ya!" Rania menunjuk deretan susu ibu hamil bermacam rasa.


"Rasa coklat sama vanila aja, Ran!" ucap Naynay setuju dan mengambil varian rasa coklat. Sedangkan Rania mengambil rasa vanila.


Setelah selesai berbelanja, mereka langsung pulang karena takut Yasmin khawatir.


.


.


.


.


.


Note Naynay hari ini :"Aku sayang Rania cerewet."


...#Vote #Favorite #Rate #Like ♡...