My Perfect Husband

My Perfect Husband
Cium tangan suami



Tepat pukul setengah enam pagi, Naynay terbangun dan terkejut karena wajahnya begitu dekat dengan wajah Afif. Naynay duduk dan turun dari tempat tidur. Dia langsung menuju ke kamar mandi karena ingin muntah. Tapi hanya cairan bening saja yang keluar. Naynay mengingat kalau dia tidak bangun tengah malam tadi untuk makan.


Lima belas menit kemudian, Naynay keluar dari ruang ganti dengan sudah memakai seragam sekolahnya yang dia ambil di ruang ganti. Baru sadar ternyata tasnya ada di samping sofa tempat semalam dia tidur. Naynay meraih tas itu dan melihat isinya. Semua buku untuk belajarnya hari ini sudah lengkap di dalam sana. Pak Hen lah yang meletakkannya di sana.


"Tinggal berangkat aja nih, tapi barang-barangku yang lain mana, ya?" gumam Naynay sambil menenteng tasnya mendekati ranjang. Dia berdiri di samping tempat tidur sambil menggigit jarinya. Bagaimana dia bisa tidak sadar kalau sudah berpindah ke tempat tidur malam tadi.


Tidak mau berpikir yang tidak-tidak, Naynay segera masuk ke ruang ganti dan menyiapkan pakaian untuk Afif. Dia sering melihat Yasmin melakukan hal yang sama untuk Hendrayan, jadi dia juga melakukannya karena sudah menjadi seorang istri. Setelah menyiapkan pakaian, jam tangan, serta sepatu untuk sang suami, Naynay keluar dan mendekati ranjang kembali.


Naynay memandang wajah tampan Afif yang masih tertidur. Perlahan dia mendekat, ragu sebenarnya.


"Bangunin atau enggak? Salim dulu sebelum pergi atau enggak?" Bergumam sendiri sambil memegang ujung roknya.


"Kalau dia pulang pas aku tidur, berarti udah tengah malam dong. Dia lelah nggak, ya? Ragu ihhh." Naynay mendesah frustrasi, ragu buat bangunin laki-laki tampan itu atau enggak.


Naynay naik dan merangkak di atas tempat tidur, mendekati Afif perlahan. Dengan ragu bercampur takut, dia memegang tangan kanan suaminya itu. "Kak, Nay berangkat, ya. Maaf, nggak bangunin." Berucap pelan dan mencium punggung tangan Afif. Setelah itu langsung melepaskan tangannya sambil mengelus dadanya.


Naynay merangkak mundur turun dari tempat tidur dan mengambil tasnya kembali. Setelah itu langsung berjalan cepat keluar dari kamar. Menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan.


"Selamat pagi, Nona. Sarapan Anda sudah siap," ucap Pak Hen sambil menarik kursi untuk Naynay.


"Makasih, Pak Hen, tapi Nay belum bangunin Kak Afif. Dia kan pulang tengah malam, jadi Nay ragu buat banguninnya," ujar Naynay sambil menggaruk pipinya.


"Tidak masalah, Nona. Tuan Muda tidak akan pergi ke kantor hari ini, seharusnya Anda pun sama." Pak Hen meletakkan segelas susu dan teh jahe hangat di depan Naynay.


"Senin depan Nay udah ujian lagi, nanti nilainya turun, Pak." Naynay meminum teh jahenya untuk mengurangi rasa mual.


"Seharusnya Anda tidak perlu mengkhawatirkan tentang sekolah, Nona." Pak Hen berdiri di belakang Naynay untuk memastikan Nonanya itu makan dengan baik.


"Bagi nay, sekolah itu penting," ucap Naynay menghentikan kegiatan mengunyahnya, menghela napas panjang. "Kalau punya suami seperti Kak Afif, Nay memang bisa lulus tanpa susah-susah belajar. Tapi ilmu itu tidak bisa dibeli, walau sekaya apapun kita." Naynay melanjutkan menyantap sarapannya.


Pak Hen tersenyum mendengar perkataan Naynay, tidak menyangka bahwa nona mudanya ini tidak seperti wanita kebanyakan. Yang mana jika mereka memiliki kuasa, maka mereka berbuat sesuka mereka. Tapi gadis ini, dia sungguh berbeda.


"Hanaya Pradipta? Jadi gadis paling populer ini yang menjadi kakak iparku, heh?" Nada bicara orang ini terdengar ketus.


Naynay menoleh dan mendapati seorang gadis yang menatap tidak suka padanya. Naynay tahu dia siapa, Qiara, adik kelas yang terkenal paling cantik di sekolah. Selama ini dia tidak tahu kalau ternyata Qiara adalah adik dari Afif, suaminya.


"Qiara?" gumam Naynay lirih, sebenarnya dia tidak dekat sama sekali dengan adik iparnya ini di sekolah. Selalu tatapan mata sinis yang dilayangkan Qiara jika mereka berpapasan.


"Kenapa? Tidak menyangka kalau aku adalah adik kak Afif?" tanya Qiara tertawa miring, tangannya sudah dilipat di depan dada. "Aku tidak percaya, selera kak Afif serendah ini." tertawa mengejek Dan duduk di kursi yang dia tarik sendiri.


"Nona Qiara!" Wajah Pak Hen yang datar dan nada bicaranya yang dingin, pertanda dia tidak suka dengan ucapan adik majikannya. Qiara tidak bicara apapun setelahnya, dia menyantap sarapannya dalam diam. Sejujurnya, dia sangat takut dengan pria tua ini.


"Pak, tadi Nay udah nyiapin pakaian Kak Afif. Minta tolong rapiin kembali, ya!" ucap Naynay sambil menoleh ke arah Pak Hen. Berdiri dan meraih tasnya. "Nay pergi dulu."


"Anda akan diantar oleh sopir, Nona." Pak Hen menatap Naynay yang sedang celingukan mencari mobilnya.


"Nggak usah, Pak Hen. Nay naik taxi aja." Naynay hendak membuka aplikasi taxi online.


"Keselamatan Anda dan janin yang Anda kandung lebih penting!" Ryan ternyata sudah berdiri di belakangnya, membuat Naynay sedikit terkejut.


"Itu benar, Nona. Lebih baik Anda diantar oleh sopir!" Pak Hen membukakan pintu mobil yang baru saja berhenti di depan mereka.


"Jadi Pak Hen udah tahu, ya, kalau Naynay hamil?" tanya Naynay pelan, dibalas anggukan kecil oleh Pak Hen.


"Silakan masuk, Nona!" Instruksi Ryan yang sudah berjalan dan membuka pintu mobil bagian depan. "Pastikan Nona Nay sampai dengan selamat di sekolah, tunggu dia sampai pulang di sana!" bisiknya pada sopir yang sama dengan yang mengantar Naynay tadi malam.


Naynay masuk dan duduk diam di belakang. Memikirkan siapa saja atau berapa banyak orang yang sudah mengetahui dia sedang hamil. Apakah semua penghuni rumah ini? Dan apa yang mereka pikirkan setelah mengetahui kalau dia hamil? Apa Qiara juga tahu?


Setelah mobil yang membawa Naynay keluar dari gerbang, Ryan masuk ke dalam rumah kembali. Menghampiri Qiara yang mengunyah pelan sarapannya.


"Saya harap Anda bisa bersikap baik kepada nona Naynay ke depannya. Anda tentu tidak ingin tuan muda tahu tentang bagaimana sikap buruk Anda ini, bukan?" Wajah datar Ryan mengintimidasi Qiara hingga gadis itu langsung terlihat pucat.


Setelah mengatakan itu, Ryan berjalan menaiki tangga dan membuka pintu ruang kerja Afif. Sang Tuan Muda sudah duduk manis sambil tersenyum di sana. Tidak seperti biasanya yang hanya berwajah datar, tanpa senyum sedikit pun.


"Dia sudah berangkat ke sekolah?" Tanpa menatap lawan bicaranya yang duduk di depannya.


"Sudah, Tuan Muda."


"Dia mencium tanganku sebelum keluar dari kamar, tangannya terasa berkeringat." Afif tersenyum tipis mengingat Naynay yang mencium tangannya tadi. Sebenarnya dia sudah bangun, tapi pura-pura tidur ketika Naynay keluar dari ruang ganti. Matanya bahkan mengintip sedikit wajah imut Naynay yang merangkak di atas tempat tidur.


'Apa lagi ini? Senyumnya sangat aneh.'


.


.


.


.


.


Selamat membaca