My Perfect Husband

My Perfect Husband
Iya, Suaminya Nay



Naynay merebahkan dirinya di atas tempat tidur setelah mandi. Senyumnya mengembang ketika tubuhnya sudah merasakan empuknya kasur. Walaupun tidak beraktivitas seperti biasa di sekolah, tapi keadaannya yang sedang hamil membuatnya cepat lelah. Naynay beralih menjadi tengkurap, menempelkan pipi sebelah kirinya di atas bantal guling.


"Selagi kamu belum tumbuh besar, Mama puas-puasin dulu tengkurapnya, ya." Mengelus sedikit perut bagian sampingnya sambil mengobrol dengan calon malaikat kecilnya.


Menyalakan hpnya, Naynay membuka media sosialnya. Scroll terus sampai berhenti di foto salah satu member boyband idolanya. "Sayang, nanti kalau kamu sudah besar, harus tampan kayak Han Jisung, ya!" Dia tertawa setelah mengatakan hal itu.


"Siapa yang kau puji tampan sampai tertawa seperti itu, hmm?" Afif berucap pelan di telinga Naynay membuat istrinya itu terkejut. Tubuhnya sudah berada diatas punggung istrinya itu. Lutut dan tangannya menahan tubuhnya agar tidak menghimpit Naynay.


Naynay terkejut dan menoleh ke belakang pelan, dia sedikit memutar tubuhnya. Matanya terbelalak ketika bibir mereka tak sengaja bersentuhan. Naynay segera memalingkan wajahnya. Sedangkan Afif, dia tertawa tanpa suara di tempatnya.


Afif menghempaskan tubuhnya di samping Naynay, kepalanya berada di atas guling yang sama dan berhadapan dengan wajah memerah istrinya. Tangannya merampas hp dan melihat objek yang dikatakan tampan oleh Naynay tadi.


"Apa ini? Aku bahkan berkali-kali lipat lebih tampan darinya!" Kesal dan menatap Naynay sebal.


'Kalau dibandingkan denganmu, Jin BTS saja akan kalah dan kehilangan gelar pria tertampan di dunia.' Naynay hanya diam tapi mendumel di dalam hatinya.


Afif memeriksa siapa saja yang diikuti oleh istrinya di media sosial. Dia lebih kesal dari sebelumnya karena semua yang dia lihat hanya akun laki-laki asal negeri ginseng itu. Ada yang perempuan, tapi bisa dihitung dengan jari tangan sendiri atau pinjam jari tetangga juga bisa.


Melemparkan hp itu ke kepala ranjang, Afif menatap Naynay datar. "Kemari!" Tangannya mengode istrinya untuk mendekat.


Naynay bergerak pelan mendekat ke arah Afif yang masih menatapnya datar, itu lebih baik daripada tatapan tajam menusuk andalan suaminya. Jarak mereka sudah dekat, hanya berkisar tiga puluh sentimeter saja.


Afif tentu saja belum puas dengan posisi yang menurutnya masih berjauhan seperti itu, matanya berubah menatap tajam istrinya. Naynay langsung saja mengikis jarak mereka, takut kalau suaminya itu marah. Mata tajamnya saja bahkan sudah membuat bulu kuduknya merinding. Baru saja disebut dan langsung dihadiahi tatapan itu.


"Hpmu aku sita seminggu, beraninya kau memuji dan mengidolakan laki-laki lain sedangkan kau punya suami." Nada bicara Afif begitu dingin, membuat Naynay gelisah sendiri.


Naynay sebenarnya tidak masalah jika Afif menyita hpnya. Senin besok dia akan melaksanakan ujian, jadi sebisa mungkin ia tidak menggunakan benda pipih itu. Karena itulah, bumil imut yang satu ini hanya diam sambil memandangi lututnya yang ditekuk.


'Kenapa dia diam saja hpnya aku sita? Tidak ada gurat tidak suka di wajahnya.' Afif mengernyit sedikit melihat istrinya yang hanya diam itu.


"Aku dengar, Senin depan kau ujian." Tangannya sudah melingkar di pinggang Naynay.


"Iya, Kak." Naynay menatap Afif sekilas, kemudian menatap lututnya kembali.


"Jangan terlalu memaksakan dirimu dalam belajar, kau sedang hamil." Afif mengangkat dagu Naynay hingga mata mereka bertemu.


Naynay hanya mengangguk, bibirnya tidak menyahut sedikit pun. Sejak menikah beberapa hari yang lalu, Afif tidak pernah membicarakan kehamilan Naynay. Bumil itu merasa bingung, kenapa Afif mau menikahinya yang sedang dalam keadaan hamil. Terlebih lagi janin yang sedang dikandungnya bukan darah daging Afif.


Hanaya, kamu belum tahu saja kalau laki-laki yang sedang memelukmu sekarang ini adalah ayah biologis dari anak yang kamu kandung. Dan kenapa dia menikahimu? Itu karena dia ingin bertanggung jawab atas anak yang kamu kandung.


"Iya, Kak." Naynay menghirup wangi tubuh Afif yang membuatnya tenang. Biasanya Naynay akan langsung mual jika mengirup bau parfum ataupun aroma tubuh seseorang.


"Jawabanmu hanya 'Iya' saja, jawab dengan kata yang lain!" ucap Afif sebal.


"Baik, Suaminya Nay." Tak ayal jawaban itu membuat senyum Afif mengembang dengan lebarnya.


Laki-laki itu mempererat pelukannya karena senang. Tidak menyadari kalau istrinya langsung terlelap setelah menjawab perintahnya tadi.


"Hahaha... Kau sangat menggemaskan." Afif menciumi kepala Naynay sambil tertawa.


"Nay!" Tidak mendapati balasan, Afif menjauhkan tubuhnya sedikit hingga bisa melihat wajah tenang Naynay ketika tidur dengan posisi tangan kanan tepat di depan bibirnya.


Dengan isengnya, Afif menarik tangan kanan istrinya menjauh dari bibirnya. Kening Naynay langsung berkerut karena merasa jempolnya menjauh dari posisi awalnya. Sedangkan suaminya malah tertawa tanpa suara.


Afif kemudian mendekatkan jempolnya di depan bibir Naynay. Tak disangka, Naynay malah menempelkan bibirnya di jempol Afif tersebut. Bahkan sesekali bergerak seperti bayi menyusu.


Karena sudah tidak bisa menahan tawanya, Afif menghimpit kepalanya dengan bantal dan tertawa keras. Setelah puas tertawa di bawah bantal, Afif meletakkan tangan Naynay kembali.


"Kau gampang sekali lelah, ya." Afif mencium pipi Naynay sebelum memeluk istrinya itu kembali.


Afif mengangkat kepalanya ketika merasakan sesuatu bergerak, ternyata itu tangan Naynay yang sudah melingkar di pinggangnya. Istrinya itu juga semakin merapatkan tubuhnya.


Dengan senyum tampan, Afif mengelus tangan Naynay yang berada di pinggangnya itu. Dia merasa kalau Naynay sudah nyaman berada di dekatnya. Tapi mungkin saja itu adalah keinginan si jabang bayi yang ingin memeluk Papanya hingga memanfaatkan tubuh Mamanya.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ♡