My Perfect Husband

My Perfect Husband
Tentang CEO



Afif membuka hpnya setelah dinonaktifkan selama lebih kurang sepuluh jam. Dia memang jarang memakai benda canggih yang satu ini jika berada di kantor. Membuka galeri dan memilih salah satu foto yang paling mencolok. Foto seorang gadis dengan topi dan masker hitam yang sedang duduk bersama beberapa anak jalanan.


Sering kali dia melihat sosok gadis ini melakukan hal yang sama. Membagikan makanan dan kadang mengajak anak-anak itu pergi ke mall untuk berbelanja. Dan foto ini adalah kiriman dari Ryan yang sudah memata-matai gadis itu.


"Kenapa juga Ryan mengirimkan foto ini?" Afif menggerutu tapi tidak menghapus foto itu. Dia menyimpan hp ke dalam saku jasnya dan keluar dari ruangannya.


Langit sudah mulai gelap dan dia baru beranjak pulang. Bagitulah Afif, baginya tidak ada alasan yang membuatnya pulang lebih cepat dan betah di rumah besar itu. Dia memiliki satu orang adik perempuan, tapi mereka jarang berinteraksi. Bisa dibilang, hubungan mereka tidak dekat.


Ryan membukakan pintu mobil dan CEO muda itu masuk. Duduk dan menyandarkan tubuhnya yang terasa sedikit letih. Ryan mulai melajukan mobil meninggalkan gedung Cavin Group itu. Perusahaan induk yang anaknya tersebar di negara-negara besar. Bapaknya mana? Entah, mungkin lagi cari nafkah buat anak-anaknya yang banyak itu😅


"Apa yang dia lakukan hari ini?" Afif menyalakan hpnya kembali dan melihat foto gadis yang sama tapi kali ini dia sedang di sekolah. Masih dikirim oleh orang yang sama.


"Sepulang sekolah, nona Nay pergi ke supermarket dan langsung pulang setelahnya. Tidak keluar lagi dari rumah sampai sekarang." Ryan melirik Afif yang masih menatap benda pipih itu melalui spion tengah mobil.


"Kosongkan jadwalku besok!" Seperti biasa, nada bicara sang Tuan Muda yang datar itu adalah perintah yang tidak bisa diganggu gugat.


"Baik, Tuan Muda." Ryan hanya bisa menghela napas tanpa bisa mengeluh dengan perintah Tuan Muda.


Mobil memasuki halaman rumah dan berhenti di depan pintu rumah. Ryan membukakan pintu mobil dan Afif keluar dengan wajah dinginnya. Dia memasuki rumah diikuti Ryan tanpa melirik para pelayan yang berjejer menyambutnya pulang. Mereka berdua masuk ke dalam ruang kerja.


"Kau sudah siapkan semuanya?" tanya Afif membuka jasnya dan melemparkannya di atas sofa di mana dia duduk.


"Sudah, Tuan Muda."


"Jangan terlalu banyak orang, hanya undang kolega bisnis dan petinggi perusahaan! Dia sedang hamil dan aku tidak mau dia kelelahan," ucap Afif yang entah kenapa tidak pernah menyebut nama orang yang dia maksud.


"Baik." Ryan hanya mengangguk.


"Kirimkan semua foto yang kau dapat hari ini!" Berbicara sambil memainkan benda pipih yang terasa lebih menarik akhir-akhir ini.


'Apa yang aku lewatkan dari hidup manusia sempurna ini? Sikapnya jadi aneh.' Ryan menggerutu dalam hati, dengan memakai julukan yang dia beri untuk sang Tuan Muda. Jemarinya dengan cepat mengirim foto yang diminta Afif.


Notifikasi beruntun terdengar dari hp yang dipegang Afif, dahinya berkerut melihat ekspresi gadis di foto itu yang berubah muram setelah sebelumnya tertawa senang.


"Nona Nay sedih karena gadis yang dia peluk di sana menilai wanita hamil tanpa suami adalah wanita rendahan." Ryan yang tahu kenapa dahi Afif mengerut pun menjelaskan apa yang terjadi.


Afif meletakkan hp di atas meja dan menatap Ryan datar. "Siapkan keperluan belajarnya! Besok siang, semuanya sudah lengkap di ruangan ini!" Masih dengan wajah datar dan nada dinginnya, seakan tidak ada emosi apapun dalam dirinya.


"Baik, Tuan Muda." Hanya bisa mematuhi setiap perintah, tanpa ter-ke-cu-a-li.


"Kau boleh pulang." Afif meraih jas dan hpnya, kemudian berjalan keluar dari ruang kerjanya. Pergi ke kamarnya dan menatap foto berukuran besar di dinding kamarnya.


Setelah sekian lama memandangi foto itu, Afif melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Membuka satu per satu pakaiannya dan masuk ke dalam bathtub yang sudah diisi air hangat oleh kepala pelayan. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke kamarnya, hanya kepala pelayan yang mengurus air mandinya. Selainnya, dia lakukan sendiri.


Afif tersenyum tipis memandang bekas luka di lengan kirinya. Luka yang dibuat dalam keadaan tidak sadar oleh gadis yang dia tiduri sebulan lalu. Bisa saja Afif membuat lengan putih berotot itu kembali terlihat mulus, tapi ntah kenapa, dia malah tidak mengobati luka itu.


"Apa yang aku pikirkan?" Berdecih kesal dan menyudahi acara berendamnya. Afif masuk ke dalam ruang ganti dan memakai piyamanya. Dia keluar sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil.


Mendekati ranjang sambil mengalungkan handuk kecil itu di pundaknya, Afif kembali meraih hpnya dan berbaring. Benda pipih canggih ini berhasil mengalihkan sedikit perhatiannya dari pekerjaannya belakangan ini. Membuka aplikasi yang disebut instagram, Afif hanya mengikuti satu orang di akun yang Ryan buatkan untuknya.


Gadis selebgram yang tidak diketahui wajahnya seperti apa, dialah yang difollow CEO muda ini. Hari ini, gadis itu mengunggah dua fotonya yang berdiri di depan pintu dengan beberapa pasang kaos kaki bayi di sana. Seperti biasa, gadis itu menutupi wajahnya dengan masker hitam.


"Kenapa dia selalu memakai masker hitam? Apa karena wajahnya tidak cantik?" Afif bergumam sendiri sambil terus melihat postingan gadis itu, lupa kalau dia pernah menyebut kalau gadis itu cantik.


"Ck, pakai masker semua!" Berdecak kesal tapi masih menggulir layar hp melihat semua postingan gadis itu. Gadis yang mengendorse sabun cuci muka dengan memakai masker hitam, hanya jidat putih mulusnya saja yang terlihat. Tapi anehnya, like setiap postingannya hampir menyentuh satu juta like.


Afif melempar hpnya di atas kasur, tepat di sampingnya. Mempelototi langit-langit kamarnya, dia tersenyum tipis. Membayangkan bagaimana reaksi Qiara-adiknya, jika ada penghuni baru di rumah ini. Pasti akan ada drama yang mungkin akan sedikit menyenangkan untuk ditonton.


"Menikah, usiaku baru 23 tahun dan harus menikahi gadis SMA." Kata-kata itu masih sering dia ucapkannya sebelum tidur, sejak mengetahui kalau Naynay hamil.


"Antarkan makan malam ke kamar!" Langsung mematikan telepon setelah apa yang dia inginkan telah di dengar oleh kepala pelayan.


Afif, laki-laki yang dewasa sebelum waktunya, laki-laki sempurna yang terkenal kejam dalam mengatur perusahaan, laki-laki yang sifat sombongnya sudah mendarahdaging, dan laki-laki yang ditakuti pesaingnya.


Laki-laki sempurna ini belum pernah jatuh cinta sebelumnya, walau banyak wanita di luar sana yang rela melemparkan tubuhnya untuk CEO muda ini. Kekayaannya yang sudah tidak biaa dihitung, pastinya membuat banyak lawan jenis yang menginginkannya. Salah satu caranya, adalah dengan mendekati sang adik.


Mari kita lihat, seperti apa perasaan yang disebut cinta itu mempermainkan seorang Afif.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ♡