
"Aku mencintaimu Clara." suara itu begitu nyaring di telinganya, ia perlahan mencari dari mana asal suara tersebut.
Ia kini berada disebuah ruangan kosong, disana terdapat sebuah pintu yang ia yakini sebagai asal dari suara tersebut. Samar-samar Clara mendengar langkah kaki perlahan-lahan menuju ke arah tempat dirinya berdiri.
Kakinya terasa berat untuk bergerak seakan ada magnet yang menahannya untuk tetap berada di tempat itu.
"Siapa disana ?" ujarnya bergetar.
Tiba-tiba pintu itu terhempas, menampak seorang lelaki yang amat dikenalnya muncul dari balik pintu. Bibir tipis gadis itu bergetar, sesuatu yang hangat berhasil lolos dari pelupuk matanya.
"Andre." gumamnya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.
Lelaki itu semakin dekat, hingga berdiri tepat di depannya. Andre dengan lembut menarik tubuh gadisnya itu kedalam pelukannya, namun dengan cepat gadis itu menepis tubuhnya.
"Ada apa ?" tanya Andre dengan tatapan bingung.
"Pergi kamu..."
"Tidak bisa, Aku mencintaimu Clara."
"Cinta ? Meninggalkan ku saat hari pernikahan kita, Apa itu yang kamu sebut dengan cinta ?" ujarnya bergetar.
"Maafkan aku Clara." ujarnya lagi hendak memeluk gadis itu.
"Tidak.. pergi kamu ! "
"PERGI..!! "
"Clara.. Clara kamu kenapa ?" ujar Arya menepuk pipi gadis itu.
Clara segera terbangun dari mimpinya dan mendapati Arya yang kini sudah duduk disampingnya dengan wajah cemas.
"Kak..." lirihnya, tangisnya pecah saat itu.
Sedang Arya bingung dengan sikap istrinya, kenapa ia tiba-tiba menangis. Ia juga bingung harus berbuat apa, hingga entah dapat ide dari mana ia dengan lembut menarik tubuh Clara ke dalam pelukannya.
"Kamu mimpi apa ?" ujarnya lembut mengusap rambut gadis itu, perlahan ia menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah mulus Clara.
Seketika mata mereka bertemu, mereka terdiam untuk beberapa detik. Tak ada yang bicara, hanya air mata gadis itu yang tetap mengalir di pipinya. Setelah sadar Arya segera membuang pandangannya ke arah lain, ia merasa sesuatu yang berbahaya akan terjadi jika saja ia tetap memandang gadis itu. Apalagi dengan posisi mereka yang terlalu dekat, perlahan ia menggeser tubuhnya memberi jarak bagi mereka.
"Kak.." lirihnya.
Meski pelan namun Arya masih bisa mendengar suara gadis itu, ia segera menatapnya. Menanti apa yang akan dikatakan Clara padanya.
"Aku minta maaf." kata-kata itu berhasil lolos dari bibir gadis itu.
Arya menyernyitkan dahinya bingung, kenapa gadis itu meminta maaf padanya. Ia merasa Clara tidak melakukan sesuatu yang salah.
"Karna aku Kakak jadi harus terpaksa menikah denganku."
"Aku tidak pernah menyalahkanmu, Clara."
"Aku yang merasa bersalah Kak, Aku yang menyeretmu masuk ke dalam masalah dan kehidupanku."
"Clara..."
"Kalau merasa tersiksa dengan pernikahan ini Kakak bisa menceraikan aku, tenang saja aku yang akan ngomong sama Mama." ujarnya sambil tertunduk, tak berani menatap mata Arya.
"Dan aku akan dikenal sebagai Duda muda, begitu ?"
Clara mengangkat kepalanya mendengar ucapan Arya, kata-kata itu seperti sedang menyindir atau mengejek dirinya.
Arya menghela napas "Aku sudah berkomitmen, hanya akan ada satu pernikahan dalam hidupku."
Clara terdiam sejenak mencoba mercerna makna dari ucapan lelaki itu. Ada sedikit rasa lega dihatinya, ia sendiri juga bingung kenapa bisa merasakan hal seperti itu.
"Jadi jangan pernah coba-coba untuk membahas tentang perceraian atau tentang perpisahan. Kamu mengerti ?"
"Tapi kenapa ? Bukankah Kakak tidak mencintaiku ?"
Shitt.. benar juga yang dikatakan Clara. Bukankah aku tidak mencintainya, tapi kenapa aku seakan tak membiarkan dia pergi. Apa yang terjadi denganku, batin Arya.
"Sudahlah, lebih baik kita tidur." ujarnya kembali membaringkan tubuhnya, namun tidak dengan Clara. Gadis itu tetap pada posisi duduknya, ia masih tidak mengerti dengan ucapan lelaki itu.
Ditatapnya sosok yang kini sudah tertidur disampingnya. Entah lelaki itu sudah tertidur atau hanya berpura - pura tidur, namun ada perasaan bahagia yang terselip dihatinya.