My Perfect Husband

My Perfect Husband
Kecil sekali



Seperti hari-hari sebelumnya, Naynay memulai hari dengan berlari ke kamar mandi karena muntah. Hendrayan dan Yasmin juga langsung terbangun karena gucangan tempat tidur. Mereka menyusul Naynay yang sedang mengeluarkan isi perutnya di dalam kamar mandi.


Yasmin memijit pelan tengkuk Naynay, dia tidak menyangka kalau anaknya mengalami morning sickness. Dia yang juga mengalaminya dulu, tentu tahu seperti apa rasanya.


"Udah mendingan?" tanya Yasmin sambil merapikan rambut Naynay. Naynay hanya mengangguk lemah. Hendrayan langsung menggendongnya ke tempat tidur.


"Sejak kapan kamu seperti ini?" tanya Hendrayan menatap Naynay khawatir.


"Seminggu yang lalu, Pa," jawab Naynay lirih. Muntah itu membuat seluruh tubuhnya terasa lemas.


"Hari ini kita periksa ke dokter, ya!" ujar Yasmin.


"Nanti kalau ada yang tahu, gimana?" tanya Naynay cemas.


"Nggak usah dipikirin! Papa hubungi Irawan dulu." Hendrayan keluar dari kamar Naynay untuk mengambil hpnya.


"Kamu siap-siap! Mama panggilin Rania." Yasmin juga keluar dari kamar.


Huufftt


Naynay beranjak ke kamar Mandi kembali untuk membersihkan dirinya. Rasanya tidak nyaman kalau dia tidak mandi sebelum pergi, apalagi dia baru bangun tidur.


Ketika keluar dari kamar mandi, ternyata Rania sudah ada di dalam kamarnya.


"Aku ikut, tunggu aku!" Rania melesat dengan cepat masuk ke kamar mandi, membuat Naynay menggeleng-gelengkan kepalanya.


Naynay memakai pakaian yang ternyata sudah disiapkan oleh Yasmin ketika dia sedang mandi tadi. Celana kulot hitam di bawah lutut dan baju kaos putih .


"Nay, pinjam bajumu ya!" ucap Rania yang baru keluar dari kamar mandi.


"Ambil aja, Ran. Biasanya kan juga gitu," balas Naynay santai. Dengan cepat Rania memakai pakaian yang dia ambil dari lemari Naynay.


Naynay meraih masker hitam baru dari dalam laci dan memakainya, tak lupa juga topi hitam dengan huruf N di bagian depannya.


"Kenapa pake masker, Nay?" tanya Rania yang sedang menyisir rambutnya.


"Kita itu mau ke dokter kandungan, Ran. Nanti ada yang liat aku, gimana?" jawab Naynay.


"Iya juga sih," gumam Rania dan menggaruk kepalanya.


Mereka berdua turun untuk menemui Hendrayan dan Yasmin yang sudah menunggu di depan. Ternyata orang tua Naynay ini juga memakai masker hitam seperti yang dipakai Naynay.


"Nay, aku juga mau pakai masker dong," rengek Rania karena hanya dia sendiri yang tidak memakai masker.


"Di dalam mobil kayaknya ada deh, ayok masuk!" Naynay menarik tangan Rania masuk ke dalam mobil. Hendrayan sendiri yang menyetir karena dia sudah lama tidak mengendarai mobil sendiri.


"Nay, habis ini kita jalan-jalan ya!" Rania menggoyang-goyangkan lengan Naynay.


"Minta izin dulu sama Yang Mulia Raja dan Ratu!" balas Naynay sambil melirik kedua orang tuanya.


"Om, Tante, kami boleh pergi jalan-jalan habis ini nggak?" tanya Rania dengan wajah memelasnya.


Yasmin memutar tubuhnya menghadap ke belakang. "Lihat kondisi Naynay dulu, kalau baik, kalian boleh pergi."


"Nay, nanti kita belanja baju bayi ya!!" ucap Rania semangat.


"Kemungkinan itu usia kehamilanku sekitar empat mingguan, Ran. Masih lama dia lahirnya," balas Naynay dan mencubit pipi Rania.


"Iya, Ran. Nanti aja pas usianya tujuh bulan, kamu bisa puas tuh belanja baju bayinya!" ujar Yasmin sambil tersenyum.


Terlalu asik mengobrol, perjalanan terasa lebih cepat. Sesampainya di parkiran rumah sakit, mereka berempat memakai masker yang sempat dibuka tadi. Hendrayan dan Yasmin berjalan di depan, sedangkan Naynay dan Rania di belakang.


Dokter Irawan sudah menghubungi dokter Obgyn terbaik di rumah sakit ini untuk pemeriksaan Naynay kedepannya. Dia juga menunggu kedatangan keluarga pebisnis besar ini di lobi rumah sakit.


"Selamat pagi. Kita langsung saja menuju ruangan Dokter Melisa, karena dia yang akan menangani Nona Nay kedepannya." Irawan berjalan di depan menuntun mereka menuju ruangan Dokter Melisa.


Walaupun masih pagi, tapi sudah ada beberapa ibu hamil yang ditemani suaminya duduk di kursi tunggu ruangan Dokter Melisa. Karena Dokter Irawan sudah mendaftarkan Naynay, jadi mereka bisa langsung masuk tanpa menunggu terlebih dahulu.


"Selamat datang," sapa Dokter Melisa ramah. "Silakan duduk."


"Sebelumnya, Dokter Irawan sudah menghubungi saya untuk menjadi dokter obgyn Nona Nay kedepannya," ucap Dokter Melisa. "Apa ada keluhan dengan kehamilannya?"


"Hanya mual dan muntah, Dok," jawab Naynay.


"Itu wajar dialami ibu hamil, biasanya hanya di trimester pertama," jelas Dokter Melisa. "Mari, kita periksa dulu."


Dokter Melisa menyuruh Naynay berbaring untuk melakukan USG. Perawat mengoleskan gel di perut Naynay dan Dokter Melisa mulai menggerakkan alatnya di sana.


"Usianya masih empat minggu, ukurannya sebesar kacang hijau, ya," ujar Dokter Melisa.


"Pertumbuhannya akan sejalan dengan usia kehamilan. Jangan banyak pikiran ya, nanti berujung stres dan berakibat pada janinnya! Jangan sampai kelelahan juga!" imbuh Dokter Melisa.


Naynay mengangguk dengan mata yang menatap ke layar monitor. Kecil sekali, pikirnya.


Perawat membersihkan gel di perut Naynay kembali, di pikirannya tidak menyangka gadis ini sedang hamil. Berbagai spekulasi melayang di otaknya, tapi dia tidak berbuat lebih karena dia tahu Hendrayan itu siapa.


"Untuk makanan, tidak ada pantangan jika perut kamu menerima makanan tersebut." Dokter Melisa tersenyum, Naynay kembali mengangguk.


Dokter Melisa memberikan resep vitamin untuk Naynay. Mereka mengucapkan terima kasih dan keluar untuk menebus vitaminnya. Dokter Irawan pamit setelah mereka kembali ke mobil.


"Jadi, boleh jalan-jalan kan, Tante?" tanya Rania yang masih semangat mengajak Naynay jalan-jalan.


"Memangnya kalian mau ke mana?" tanya Yasmin.


"Ke mall aja, Tan. Habis itu kita langsung pulang kok," ucap Rania memelas.


"Oke, tapi jangan sampai Nay kelelahan ya!" ingat Yasmin serius. Naynay dan Rania mengangguk cepat.


"Kalau begitu, kalian bawa mobil ini saja. Kami pulang naik taxi," ucap Hendrayan.


Akhirnya, Hendrayan dan Yasmin pulang menaiki taxi. Sedangkan Rania menyetir membawa Naynay jalan-jalan ke mall. Di hatinya masih berniat membeli baju bayi, walaupun masih ada delapan bulan lagi untuk Naynay melahirkan.


"Ran, kita makan dulu yuk! Kan belum sarapan tadi," ajak Naynay ketika mereka sudah memasuki mall.


"Ayok!"


Rania mengajak Naynay ke sebuah restoran di dalam mall yang sering dia kunjungi bersama keluarganya. Semua makanannya tradisional Indonesia.


"Kamu pesan apa?" tanya Rania.


"Nasi goreng seafood sama jus jeruk!" seru Naynay semangat mengingat jus jeruk.


Pelayan menulis pesanan mereka dan berlalu pergi setelahnya.


"Nay, promot ig aku dong!" pinta Rania.


"Lima ratus ribu untuk story," ucap Naynay santai.


"Ihhh, sama temen aja perhitungan," dengus Rania cemberut.


"Haha, bercanda doang, Ran." Naynay tertawa dan menyalahkan benda pipih cerdas yang disebut smartphone itu. .


Naynay memang seorang selebgram, tapi dengan gaya berbeda. Dia tidak pernah memperlihatkan seluruh wajahnya di sosial media, hanya gaya berpakaiannya saja. Terkadang memakai masker, berfoto dengan posisi menyamping atau membelakangi kamera. Asalkan wajahnya tak terlihat, Naynay akan memposting foto tersebut.


Karena makanan mereka telah datang, mereka meletakkan hp dan malahap pesanan masing-masing. Tapi tak lupa memposting makanan yang mereka pesan, penting bagi selebgram.


.


.


.


.


.


Vote Favorite Rate Like ♡