
Waktu makan malam tiba, ketiga manusia berbeda karakter sudah duduk di kursi meja makan. Pak Hen juga sudah berdiri di belakang tuan muda dengan kedua tangan disatukan di belakang pinggangnya.
Naynay meletakkan piring yang sudah ada nasi serta lauk pauk di atasnya di depan Afif. Menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, berkaca dari bagaimana Yasmin melayani Hendrayan ketika makan.
Qiara menatap tidak suka pada gadis yang duduk di sebrangnya. Dalam hatinya, dia masih tidak menyangka kalau kakaknya itu akan memilih istri yang tidak sebanding dengannya. Setidaknya, pilihlah yang sedikit lebih cantik. Dengan wajah tampan seperti itu, Qiara tidak yakin kalau Afif tidak bisa mendapatkan gadis yang cantik dan sebanding.
Makan malam yang hening itu terasa begitu lama, hanya ada keheningan di sana. Sebelumnya, Afif juga tidak pernah berbicara sedikit pun dengan Qiara. Dan sekarang, dia hanya melirik gadis manis yang berstatus istrinya itu. Cara makan dan bibir Naynay yang imut saat makan, membuat Afif menyunggingkan senyum tipis, sangat sangat tipis.
"Ini vitamin Anda, Nona." Pak Hen meletakkan piring kecil dengan satu butir kapsul di atasnya setelah Naynay menghabiskan makan malamnya.
"Makasih, Pak Hen." Naynay meminumnya sambil memejamkan matanya. Dia memang takut melihat obat atau vitamin dengan ukuran besar seperti ini.
Afif berdiri dan berjalan menaiki tangga untuk kembali ke kamar. Naynay yang sudah selesai dengan vitaminnya, juga langsung berdiri berniat menyusul sang suami.
"Kenapa kau meminum vitamin itu? Apa kau penyakitan?" tanya Qiara mengejek dengan senyum miringnya, membuat Naynay menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya.
"Apa kau sedang mengkhawatirkan aku? Terima kasih kalau begitu." Tersenyum manis sambil melanjutkan langkahnya menyusul Afif.
"Sialan! Siapa juga yang mengkhawatirkan gadis sepertimu?" Qiara berdiri sambil mengebrak meja makan.
"Nona Qiara!" Suara berat Pak Hen mengintruksikan agar Qiara diam. Qiara yang takut langsung berlari ke kamarnya, sambil bibir tipisnya mengumpat kesal.
Di dalam kamar, Afif sedang duduk sambil bersandar di kepala tempat tidur. Laptop sudah bertengger di atas bantal yang dia letakkan di atas pahanya. Melirik sebentar ke arah pintu kamar yang belum juga terbuka dan menampilkan bumil berwajah manis masuk.
Ternyata Naynay mengurungkan niatnya kembali ke kamar, dia kembali turun setelah tiba di anak tangga paling atas. Kembali ke ruang makan, Naynay melihat Pak Hen yang sedang mengawasi para pelayan yang membersihkan meja makan. Pengawasan Naynay ketika naik-turun tangga dialihkan kepada salah satu pelayan.
"Apa ada yang Anda butuhkan, Nona?" tanya Pak Hen yang melihat Naynay mendekat.
"Nay mau minta buah apel satu." Tersenyum sambil mengangkat jari telunjuknya.
Pak Hen mengangguk dan mengambil satu buah apel berukuran besar. Mencuci buah itu sampai bersih sebelum memberikan kepada nona mudanya.
"Makasih, ya, Pak Hen."
"Sama-sama, Nona."
Naynay berjalan menaiki tangga sambil melambung-lambungkan buah apel itu. Bibir pink kecilnya menyanyikan salah satu lagu dari boyband korea kesukaannya. Walaupun gaya bicara Naynay terkesan lembut dan imut, tapi dia jago dalam urusan nge-rapp.
Coba kalian putar lagu yang berjudul Miroh dan God's Menu dari boyband Stray Kids, Naynay bahkan hapal lagu yang hampir semua liriknya rapp itu. Jika di sekolah, dia akan duet dengan Rania yang juga lumayan hebat jadi rapper. Tapi anehnya, yang jadi bias mereka adalah Seungmin yang imut itu. Bukan Han, Hyunjin, Felix, apalagi Changbin para rapper ganteng.
Membuka pintu kamar, Naynay melihat Afif yang sibuk dengan laptopnya. Dia berjalan mengambil hpnya yang berada di atas sofa dan duduk di sana. Entah kebiasaan atau apa, Naynay selalu menggigit buah atau biskuit tanpa memegangnya. Kedua tangannya sibuk mengutak-atik hpnya, mencari drakor yang akan dia tonton untuk menghilangkan rasa canggung.
Karena buah apel yang digigitnya terlalu besar, air liur Naynay hampir saja menetes kalau dia tidak cepat-cepat mengambil buah itu dan menutup mulutnya. Kalian tahu kan seperti apa yang aku maksud?
Afif tergelak karena melihat tingkah imut Naynay, dia sudah sejak tadi memandangi apa yang dilakukan istrinya itu. Dengan cepat dia mengalihkan pandangannya ke laptop kembali saat Naynay meliriknya. Seakan yang membuat dia tertawa tadi adalah apa yang terpampang di layar laptopnya.
"Dapat," gumam Naynay senang ketika sudah mendapatkan drakor yang akan dia tonton. Sambil menggigit buah apel yang ada di tangan kanannya, Naynay menonton dengan mimik serius. Aktor tampan yang membintangi drakor itu membuat Naynay begitu fokus menonton sampai jam menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Tidur!" Suara dingin itu membuat Naynay yang fokus menonton menjadi terkejut sampai hpnya hampir jatuh.
"Iya, Kak." Meletakkan hpnya di atas meja kecil di samping sofa dan mendekati tempat tidur. Tangannya sudah meraih bantal untuk dibawa ke sofa tadi, tapi tangannya ditahan oleh laki-laki di depannya itu.
"Tidur di sini!" Belum melepas tangannya, membuat Naynay sudah keringatan. Afif menyadari istrinya takut, tapi dia sengaja agar Naynay bisa terbiasa bersentuhan seperti ini.
"Nay tidur di sofa aja, Kak." Kepala bumil itu menggeleng membuat Afif mendesah kesal.
"Tidak!"
"Ikuti semua perintahku!"
"Tapi..."
"Hanaya!" Sudah gemas melihat Naynay yang menggeleng lucu sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
Naynay langsung naik ke atas tempat tidur karena takut kena marah. Tangannya memeluk bantal guling erat dengan tubuh menyamping ke arah Afif. Jika dia berbalik, bisa dipastikan dia akan terjatuh dari tempat tidur.
'Kenapa harus tidur satu ranjang?' Panik dan takut kalau Afif akan menyentuhnya.
"Ck... Mendekat!" Langsung dibalas gelengan oleh Naynay sampai poninya bergoyang.
Afif yang benar-benar gemas langsung menarik tubuh istrinya itu sampai masuk ke dalam pelukannya, bantal guling pun sudah terbang entah kemana karena dilempar. Tubuh Naynay terasa bergetar karena takut, dia masih trauma. Bukan Trauma yang novel karya Boy Candra itu lho, ya....
"Tidurlah! Aku tidak akan macam-macam." Menepuk-nepuk pelan kepala Naynay hingga bumil itu sudah merasa tenang. Udara yang sejuk karena kipas angin sudah dinyalakan, membuat Naynay melupakan rasa takutnya dan tertidur dalam pelukan suaminya.
Afif menjauhkan sedikit kepalanya untuk melihat apakah istrinya itu sudah tertidur. Senyum tampan kembali terbit di bibirnya melihat Naynay tidur dengan jempol di depan bibirnya yang sedikit mengerucut.
Afif mengingat apa yang dikatakan Nathan-sahabatnya, tentang wanita hamil kemaren malam. Nathan adalah sahabatnya yang merangkap menjadi dokter kandungan paling tampan di rumah sakit miliknya. Afif sudah menawari laki-laki itu untuk menjadi pimpinan rumah sakit, tapi dia menolak dengan dalih masih muda dan belum siap memikul tanggung jawab besar. Padahal kinerja laki-laki berumur 25 tahun itu sungguh luar biasa.
"Wanita hamil harus selalu dijaga perasaannya, selalu buat dia tenang dan bahagia. Jangan sesekali buat dia stres, karena akan berdampak buruk pada janin, apalagi saat hamil muda." Nathan menjelaskan dengan rinci apa saja yang diperhatikan ketika menghadapi ibu hamil.
"Trimester pertama, kebanyakan wanita hamil akan mengalami morning sickness. Memuntahkan apa yang mereka makan sebelumnya di pagi hari atau sore, tapi lebih sering hanya muntah pada pagi hari saja. Teh jahe hangat sangat baik untuk meredakan rasa mualnya." Nathan dengan sabarnya menjelaskan panjang lebar.
Afif yang duduk dengan Ryan berdiri di belakangnya hanya mengangguk paham. Semua yang dikatakan oleh Nathan sudah terekam dalam kepalanya.
"Dan satu lagi, siapkan dirimu untuk memenuhi seluruh keinginannya selama hamil. Apapun itu, jangan menolaknya. Wanita hamil umumnya tidak peduli atau mengapresiasi apa yang dilakukan suami mereka, maka jangan marah kalau dia tidak berterima kasih atau tidak menghargai apa yang kau lakukan! Perasaan mereka sangat sensitif!" imbuh Nathan mengingatkan.
"Merepotkan!" umpat Afif sambil mengusap pelan wajah tampannya.
"Lebih merepotkan lagi menjelaskan semua yang bisa kau dapat di internet untuk laki-laki beku sepertimu. Aku baru saja pulang dari acara resepsimu dan kau menyusulku untuk bertanya tentang wanita hamil!" Nathan berbicara sampai tangannya menunjuk Afif kesal.
"Gandakan gajinya bulan depan," ucap Afif yang diperuntukkan bagi Ryan yang berdiri diam di belakangnya. Laki-laki itu mengangguk mengerti atas perintah tuannya.
"Aku semakin menyayangimu, Afif." Wajah Nathan berubah sumringah mendegar gajinya akan digandakan bulan depan. Bahkan bibirnya sudah monyong ingin mencium Afif.
Afif mengernyit jijik mengingat kembali bagaimana Nathan ingin menciumnya. Laki-laki aneh itu selalu bertindak seperti banci jika gajinya dinaikkan. Mata Afif beralih menatap Naynay yang menendang kecil ketika kakinya menyentuh selimut yang masih terlipat rapi.
"Tadi takut sampai tubuhnya bergetar, tapi sekarang dia tertidur dengan nyenyak seperti bayi." Afif semakin merapatkan tubuh mungil itu pada tubuhnya. Mencium pipi Naynay sekilas karena gemas sebelum tertidur sambil tersenyum.
.
.
.
.
.
Selamat membaca ♡