My Perfect Husband

My Perfect Husband
Narsisnya sang CEO



Setibanya di rumah, Afif langsung membawa Naynay ke kamar. Istrinya itu masih tidur dengan nyenyak di gendongannya. Dengan hati-hati, Afif membaringkan tubuh mungil Naynay di atas tempat tidur. Dia juga melepas jas yang tadi diikatnya di pinggang Naynay.


Afif membuka kemejanya dan berbaring di samping Naynay. "Kau imut sekali." Mengelus pipi Naynay yang chubby sejak hamil. Afif melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Naynay dan menarik tubuh mungil itu merapat ke tubuhnya. Melihat kelopak mata Naynay yang bergerak, Afif memejamkan matanya pura-pura tidur.


Naynay mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum terkunci pada wajah yang terukir sempurna di depannya. Wajah mereka yang begitu dekat membuat Naynay bisa merasakan hembusan napas Afif yang hangat.


"Udah di rumah? Berapa lama aku tidur?" Naynay terkejut ketika matanya tidak asing dengan interior kamar mewah ini. Matanya beralih menatap jam yang menunjukkan waktu sebentar lagi sore.


Naynay menggeser tangan Afif pelan karena takut suaminya itu bangun. Kau tidak tahu saja kalau dia cuma pura-pura tidur. Naynay menghidupkan dua dari empat kipas angin di kamar besar nan mewah itu. Dia memutuskan untuk mandi karena gerah dipeluk selama tidur tadi.


Afif yang tadinya pura-pura tidur mendadak merasa mengantuk dan tertidur beneran. Dengan bertelanjang dada, Afif tidur dengan posisi terlentang. Menyembunyikan sesuatu yang ada di punggungnya dan belum pernah dilihat Naynay sebelumnya. Mungkin karena Naynay selalu mengalihkan pandangannya ketika Afif bertelanjang dada.


Dua puluh menit kemudian, Naynay keluar melalui ruang ganti dengan memakai baju kaos oversize dan leging hitam panjang. Dia mendekati tempat tidur dan berbaring tengkurap di samping Afif.


'Entah aku harus bersyukur atau menangis mempunyai suami sepertimu.'


Naynay merubah posisi tidurnya menjadi terlentang dan memejamkan matanya. Kesedihan kembali menyerang hatinya yang selalu berusaha sabar menerima semuanya. Walaupun Afif memperlakukannya dengan baik, tetap saja ada kata tapi yang membuat tanda tanya di hatinya.


Naynay sedang hamil, tapi kenapa Afif mau menikahinya? Bahkan Naynay sendiri tidak tahu siapa ayah dari anak yang dia kandung. Sejak awal, Naynay berpikiran bahwa Afif menikahinya hanya karena kerja sama dengan perusahaan Hendrayan. Entahlah, Naynay lelah memikirkan hal ini.


'Mama sering ngantuk sejak hamil kamu, kita sambung tidur yang tadi, ya, Sayang.'


Dua jam tidur dan baru saja selesai mandi ternyata tak membuat Naynay merasa segar. Dia masih merasa lelah padahal kerjanya hanya duduk beberapa jam di sekolah dan tidur di kantor Afif. Naynay akhirnya tertidur dan tidak sadar sudah memeluk erat tubuh Afif, pipinya menempel di dada bidang Afif yang terbuka. Bagaikan bantal guling, kaki Naynay menindih kaki jenjang Afif yang terbalut celana hitam panjang itu.


Merasakan tubuhnya berat sekaligus sesak, Afif terbangun. Kumpul nyawa terlebih dahulu sebelum mata tajamnya mendapati tubuhnya yang dipeluk erat oleh Naynay. Walaupun hanya tidur lebih kurang lima belas menit, Afif sudah seperti orang yang tidur selama satu jam. Pakai acara kumpul-kumpul nyawa segala.


"Tukang tidur," ucap Afif pelan sambil tertawa. Tangannya terangkat dan mengelus rambut Naynay pelan. Afif memiringkan tubuhnya dan membalas pelukan Naynay. Sekarang kakinyalah yang naik ke atas kaki istrinya itu.


Afif menatap intens wajah imut Naynay yang berada tepat di depannya. Lagi, jempol kanan sudah berada di depan bibir mungil nan sexy Naynay. Afif sekarang paham kalau ternyata Naynay memiliki kebiasaan seperti itu ketika tidur.


Oke, bibir mungil itu membuat pandangan Afif tak teralihkan. Bibir yang pertama kali diciumnya saat terkena obat sialan itu dulu dan menyebabkan dia menikah di umur 23 tahun. Tapi tidak terbesit rasa menyesal di dalam hati Afif karena harus menikahi anak SMA yang sedang mengandung anaknya itu. Muncul satu rasa aneh yang tidak dia mengerti sejak menikah, tapi Afif tidak mau terburu-terburu menyimpulkan perasaan apa itu.


"Entah aku sudah mulai mencintaimu, yang jelas ada perasaan aneh yang muncul setelah aku menikahimu beberapa hari ini. Mungkin terlalu cepat, tapi kau seharusnya bersyukur bisa menjadi istri dari pria setampan aku."


Ck!... Awalnya hatiku sedikit tergelitik mendengar ucapanmu itu, tapi tiba-tiba terjungkang karena kalimat terakhirmu.


Naynay mengernyit dalam tidurnya karena mendengar kata-kata aneh yang entah berasal dari mana, tapi tidurnya kembali tenang setelah mendapat dua kecupan di dahi dari Afif. Sayangnya, Naynay malah bermimpi dicium oleh Kanglim yang merupakan gebetan Hari Koo di anime Shinbi's House, anime kesukaannya.


***


Naynay sedang sibuk dengan buku pelajaran dan laptop di depannya, dia duduk bersila di atas kursi sambil tangannya menyuap sosis bakar ke dalam mulutnya. Sedangkan Afif menatap istrinya itu dari meja kerjanya, laptop juga sudah menyala di depannya.


Afif menggeser kursinya hingga tepat berada di samping kursi yang diduduki istrinya itu. Naynay menoleh dengan mulutnya masih sibuk mengunyah dengan gaya yang menurut Afif sangat imut.


"Kakak mau?" Menyodorkan sosis yang sudah ditusuk garpu ke depan bibir Afif.


Afif membuka mulutnya dan sensasi pedas langsung dia rasakan kala sepotong sosis itu sudah disuapkan oleh Naynay. Enak, ini kali pertama Afif mencoba sosis bakar seperti ini. Afif memang jarang memakan makanan seperti ini, biasanya hanya sayur dan buah yang dia konsumsi. Tapi beberapa hari ini ada beberapa macam makanan baru yang dia coba, kena racun istrinya yang sedang bunting ini.


"Kau tidak takut gendut? Nanti malam pasti kau akan bangun untuk makan lagi." Afif meneguk jus mangga milik Naynay yang ada di samping laptop.


"Enggak, Kak. Nanti juga pasti Naynay jadi gendut karena lagi hamil."


Afif mengangguk dan mengecup pipi Naynay sebelum meraup bibir mungil istrinya itu. Naynay membuka mulutnya karena bibir bawahnya sudah digigit oleh Afif.


"Jangan lupa bernapas! Aku tidak mau kau mati kehabisan napas karena ciuman." Afif tertawa sambil menoel pipi Naynay yang memerah.


Afif menggeser kursinya kembali ke meja kerjanya, laptopnya masih menampilkan laporan yang tadi belum selesai dia periksa. Naynay mengelus dadanya yang berdebar begitu cepat. Dengan cepat dia menghabiskan makanannya agar secepatnya bisa belajar untuk ujian besok.


Hampir tengah malam, Afif melirik ke arah meja Naynay. Istrinya itu ternyata sudah tertidur dengan kepala di atas meja. Karena terlalu fokus dengan pekerjaannya, dia sampai tidak menyadari Naynay masih ada di sana. Biasanya Naynay juga keluar sendiri jika dia selesai belajar, tapi sekarang dia malah tertidur.


Setelah mematikan laptopnya dan laptop Naynay yang masih menyala, Afif menggendong Naynay kembali ke kamar mereka. Setelah membaringkan tubuh Naynay dan menyalakan kipas angin, Afif masuk ke ruang ganti dan memakai piyamanya.


"Mimpimu akan lebih indah jika mendapat pelukan dari suamimu yang tampan ini."


Afif memeluk Naynay seperti biasa, ditambah dengan kata-katanya yang membuat mimpi indah Naynay terusik.


Baiklah, selamat tidur untuk kalian berdua....


.


.


.


.


.


Selamat membaca ♡