My Perfect Husband

My Perfect Husband
Kegaduhan tengah malam



Seperti malam-malam sebelumnya, kecuali kemaren malam, Naynay terbangun jam dua dini hari. Matanya terbelalak karena menyadari bahwa dia tidur dipeluk manusia beku ini. Dengan hati-hati, Naynay menyingkirkan tangan Afif yang memeluk pinggangnya.


Naynay meraih ikat rambutnya yang ada di atas nakas dan mengikat rambutnya asal-asalan. Membuka pintu dengan pelan, Naynay melirik Afif sebelum keluar dari kamar. Kakinya berjalan pelan menuruni tangga. Lampu sudah dimatikan, hanya di beberapa bagian saja yang menyala.


Yang dituju Naynay sudah pasti adalah dapur, kulkas besar di sudut ruangan lebih tepatnya. Melewati meja makan, Naynay melihat buah mangga yang ada di dalam keranjang buah di sana. Matanya berbinar dan senyum imutnya langsung terbit, melupakan kulkas yang sejak awal ingin dibukanya.


Naynay mengambil pisau di dalam laci di bawah wastafel dan duduk di dekat situ, tak lupa membawa satu buah mangga berukuran besar itu di tangannya. Mengupas kulit mangga sambil bernyanyi, membuat suasana rumah yang hening berubah sedikit seram.


Para bodyguard yang sedang berjaga di luar, langsung masuk ketika mendengar suara perempuan sayup-sayup yang berasal dari dalam. Menuju ke arah ruang makan, mereka melihat sosok seorang gadis yang sedang duduk dengan tangan berdarah yang dikepalkan.


Pak Hen yang sudah mendapat laporan dari bodyguard, juga ada di sana. Dia langsung menghidupkan lampu ruangan itu dan begitu terkejut mendapati Naynay yang duduk sambil meremas buah naga merah di wastafel. Mereka semua mengelus dada lega karena tidak mendapati apapun yang berbahaya di sana. Karena tadi lampu tidak menyala semuanya, jadi warna merah keunguan itu terlihat seperti darah.


"Pak Hen." Naynay mengerutkan dahinya yang terkena jipratan buah naga yang dia remas tadi. Mangga yang belum selesai dia kupas diabaikan begitu saja karena matanya melihat buah berwarna merah keunguan itu.


"Apa yang Anda lakukan di tengah malam ini, Nona?" Pak Hen mendekat dan melihat lebih dekat apa yang diperbuat oleh nona mudanya itu.


"Nay pengin makan mangga tadinya, tapi gemes lihat buah naga." Mengangkat tangannya yang masih meremas gemas buah yang sudah tak berbentuk itu.


Pak Hen mengangkat tangan kanannya, menginstruksikan agar para bodyguard kembali berjaga. Mereka semua menundukkan tubuh sedikit sebelum pergi meninggalkan Naynay dan Pak Hen di sana.


"Cucilah tangan Anda, saya akan melanjutkan mengupas buah mangganya." Pak Hen memakai sarung tangan plastik dan melanjutkan mengupas buah mangga yang sempat diabaikan itu.


Naynay mencuci kedua tangannya di wastafel sampai bersih, tidak tahu kalau wajahnya juga terkena jipratan buah naga. Setelah bersih, dia memutar duduknya ke arah Pak Hen yang sedang memotong kecil-kecil buah mangga tadi.


"Silakan, Nona." Pak Hen mendorong piring berisi buah mangga itu ke depan Naynay.


"Makasih, Pak Hen." Tersenyum lebar dan mulai menusuk potongan buah itu dengan garpu. Sedikit lagi masuk ke dalam mulutnya, tapi sudah disambar oleh mulut seorang yang membuat Naynay terkejut bukan main.


"Kak Afif." Mata Naynay terbelalak karena terkejut melihat Afif.


'Apa dia akan memarahiku karena membuat keributan tengah malam begini?'


"Pergilah!" Menginstruksikan Pak Hen agar meninggalkannya berdua dengan istrinya. Pak Hen menunduk dan berjalan menuju pintu belakang.


Afif duduk di kursi meja makan dengan memegang piring yang berisi potongan buah mangga tadi. Menatap istrinya yang masih bengong sambil menggigit garpu, dia tertawa tanpa suara. Bumil itu benar-benar membuatnya sering tertawa dengan aksi lucunya.


"Kemari!" Sudah bisa mengontrol ekspresinya kembali.


Naynay tak bergeming sedikit pun, garpu masih setia digigitnya. Dia takut dengan keadaan seperti ini, hanya berdua dan dengan laki-laki pula.


"Hanaya!" Suara sang Tuan Muda sudah sedikit meninggi.


Naynay dengan secepat kilat berlari mendekat dan berdiri di samping Afif. Laki-laki itu berdecak kesal karena istrinya itu harus dipanggil dengan namanya dulu, baru bereaksi.


'Apa dia masih takut? Tadi saja dia tidur seperti bayi di pelukanku.'


"Duduk!" Naynay langsung menarik kursi dan duduk tanpa diperintah dua kali.


"Kau membuat gaduh malam-malam begini?" Menatap istrinya yang menunduk, takut kena marah.


"Maaf, tadi Nay gemes banget sama buah naganya sampai nggak sadar udah nyanyi segala." Naynay mengintip sebentar ekspresi Afif yang datar itu.


"Mau aku belikan buah naga satu gudang?" Menundukkan kepalanya di depan Naynay.


"Tidak!" Terkejut ketika mengangkat kepalanya, wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Afif.


"Kemari!" Afif menegakkan kembali tubuhnya.


Naynay mengernyit bingung. 'Kemari kemana lagi?'


Afif menepuk-nepuk pahanya, kode agar istrinya itu duduk di sana. Naynay menggeleng dengan pelipis yang sudah dibanjiri keringat.


"Kau mau aku marah?" Setia dengan wajah datar dan nada dinginnya, padahal sudah ingin tertawa melihat ekspresi Naynay yang menggeleng imut.


Naynay berdiri, tapi tidak bergerak sedikit pun. Tangannya gemetar mencengkram pakaiannya. Sadar kalau istrinya takut, Afif menarik tangan Naynay lembut hingga duduk menyamping di pangkuannya.


"Tadi kau tidur seperti bayi di pelukanku, kenapa sekarang kau takut, hmm?" Afif melingkarkan kedua tangannya di pinggang Naynay. Istrinya itu hanya diam sambil menggigit bibir bawahnya.


"Tatap aku!" Meraih dagu Naynay hingga mata mereka beradu pandang.


"Kak, Nay nggak nyaman duduk kayak gini." Naynay benar-benar sudah berkeringat karena takut.


"Makan buah ini dulu!" Menyuapi Naynay menggunakan garpu yang entah sejak kapan berpindah ke tangannya. Setelah habis, Afif bahkan membersihkan wajah istrinya yang terkena jipratan buah naga itu dengan tisu.


"Ayo kita cari posisi yang nyaman." Afif mengangkat tubuh Naynay dan membawanya kembali ke kamar. Tangga dengan puluhan anaknya itu tidak membuatnya berkeringat sedikit pun, wajar karena Afif memang rajin berolahraga.


Naynay sebenarnya ingin protes, tapi tatapan tajam yang diberikan suaminya langsung membuatnya diam. Lebih memilih mengalungkan kedua tangannya di leher Afif. Tanpa Naynay sadari, laki-laki itu tersenyum tipis dengan mata yang menatap ke depan.


Pintu kamar yang tidak ditutup, memudahkan Afif masuk. Dia hanya tinggal mendorong pintu itu dengan kakinya agar tertutup. Dengan hati-hati, Afif menurunkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Dia pun juga berbaring di sana.


"Sudah merasa nyaman, hhmm?" Itu sindiran sebetulnya, bukan pertanyaan. Naynay hanya membalas dengan anggukan.


"Kau sering bangun tengah malam begini?" Tangannya sudah melingkar kembali di pinggang Naynay.


"Iya, Kak." Naynay menjawab jujur.


"Kalau kau menginginkan sesuatu, minta pada pelayan! Jangan sering naik-turun tangga!"


Naynay mengangguk sambil menguap, matanya sudah mengantuk ingin kembali tidur. Besok dia harus sekolah untuk persiapan ujian Senin depan.


"Tidurlah, aku hanya akan memelukmu." Mengelus punggung Naynay sampai istrinya itu benar-benar tertidur.


Afif senyum-senyum sendiri mengingat tingkah Naynay hari ini. Mulai dari cium tangan sambil merangkak di atas tempat tidur, cara makan biskuitnya yang unik, melayani di meja makan, air liur yang hampir menetes gara-gara fokus dengan hpnya, sampai ngidam tengah malamnya yang aneh.


Afif kembali mencium Naynay sebelum tidur, tapi uyel-uyel pipi dulu sampai puas.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ♡