
Clara merasa puas melihat dirinya berada di pantulan kaca, anggun dan cantik. Senyum manis terukir indah diwajah tirusnya.
Hari ini adalah hari pernihannya dengan Andre, lelaki yang ia pilih untuk menjadi ayah dari anak anaknya kelak, menjadi teman berbaginya dimasa tua.
"Kamu cantik sekali sayang." ujar Shinta yang sudah berada tepat dibelakang Clara. Ia langsung berhambur kepelukan mertuanya itu,
"Jangan menangis, ini adalah hari bahagiamu." ujar Shinta menghapus jejak air mata menantunya.
"Aku menangis bahagia tante." jawabnya sambil tersenyum.
Sementara ditempat lain, Andre terlihat gusar. Ia sudah terlihat rapi dengan menggunakan Jas dan celana hitam dipadu dengan kemeja putih didalamnya. Tak ada rona kebahagiaan di wajahnya, ia tampak linglung.
Apa yang harus kulakukan, batinnya.
"Apa kamu sudah siap ?" tanya seseorang dari luar ruangan. Ya, Arya sedang menunggu adiknya diluar. Sengaja Andre tidak memberinya masuk kedalam.
"Jangan terlalu gugup, santai saja. Toh yang kamu nikahi adalah gadis yang kamu idam idamkan selama ini." ujarnya lagi. Namun tak ada jawaban dari dalam, membuat Arya curiga. Sedang apa sebenarnya adiknya didalam.
"Andre..." ujarnya tegas, ia mencoba menarik gagang pintu namun itu terkunci dari dalam. Semua itu semakin membuatnya bingung, dengan cepat ia mendobrak pintu tersebut. Setelah mencoba beberapa kali akhirnya pintu berhasil terbuka. Arya terbelalak mendapati ruangan itu, Kosong. Ia tidak mendapati Andre berada disana, ada rasa cemas dihatinya. Apa yang telah Adiknya perbuat, apa mungkin Andre kabur ? Tidak mungkin ! Andre tidak mungkin sebodoh itu, pikirnya lagi.
Namun setelah melihat jendela ruangan itu terbuka, ia semakin yakin bahwa adiknya benar benar kabur. Dengan cepat ia mengambil Handphone yang berada di saku celananya, segera memanggil seseorang.
"Shittt..." umpatnya ketika nomor yang ia panggil tidak aktif.
Matanya tertuju pada sebuah surat yang terletak disebuah meja, disana tertulis nama Clara.
.
Gadis dengan balutan gaun putih terlihat duduk, dengan ekspresi yang sedikit gugup. Sesekali ia mengusap dadanya yang sudah naik turun.
Shinta tersenyum tipis melihat menantunya itu, ia sadar bahwa gadis itu sedang was was. Ia juga pernah mengalami hal tersebut, saat ia hendak menikah dengan suaminya dulu.
Shita melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, hingga tiba tiba pintu terbuka. Sukses membuat Clara dan Shinta menoleh ke arah pintu.
"Arya... Apakah semuanya sudah siap ? Dimana Andre ? seharusnya dia yang datang kemari untuk menjemput Clara." tanya Shinta bertubi tubi pada anak sulungnya itu.
Clara pun ikut melihat, namun tak ia dapati tanda tanda bahwa Andre akan datang.
Arya perlahan mendekati Shinta, mengelus bahu wanita yang sudah melahirkannya itu lembut.
"Andre sudah pergi Ma." ujarnya pelan.
"Pergi.. Apa maksudmu Arya ?" Tanyanya lagi.
Arya hanya menggeleng sebagai jawaban, semuanya terdiam tak ada lagi yang mengeluarkan suara. Termasuk Clara, ia meremas gaun putih miliknya. Gadis itu tertunduk lemah, hancur sudah harapannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi ?" tanya Shinta kembali membuka suara. Ia masih tidak percaya dengan semua ini, bagaimana mungkin anaknya kabur begitu saja. Para tamu sudah hadir, bahkan semua keluarga sudah menunggu. Apa yang harus ia lakukan, belum lagi melihat Clara yang sudah menangis di sudut ruangan tersebut, gadis itu menangis dalam diam.
Maaf Clara,
Bukannya aku tidak mencintaimu, hanya saja aku belum siap untuk menjalani pernikahan ini.
Tunggulah, Sebentar saja hingga aku yakin atas keputusanku.
Aku akan kembali dan menikahimu.
Isi surat itu begitu menyanyat hati gadis itu, bahunya bergetar naik turun, sudah dipastikan bahwa gadis itu sedang menangis. Ia meremas surat tersebut dan membuangnya ke sembarang tempat.
"Lebih baik aku mati...!!"
Dengan cepat Arya memeluk tubuh Clara erat, mencoba menahan gadis itu agar tidak melakukan hal bodoh.
"Jangan begini sayang.." Ujar Shinta bergetar.
"Lalu aku harus bagaimana tante, aku harus bagaimana ?" tanyanya berulang kali.
Shinta berpikir sejenak.
"Arya..." ujarnya pelan namun masih bisa didengar oleh lelaki yang disebut namanya.
Perlahan ia menyentuh tangan anak sulungnya itu lembut namun air matanya tetap mengalir dari pelupuk matanya.
"Bantu mama, bantu mama agar pernikahan ini tetap berlanjut." lanjutnya,
Ucapannya kali ini mampu membuat bola mata Arya melebar begitu juga dengan Clara. Mereka tidak bisa mencerna makna dari ucapan wanita paruh baya itu.
"Gantikan Andre, jadilah mempelai prianya." pinta Shita lembut, berharap anak sulungnya itu akan memenuhi permintaannya.
"Tidak mungkin ma, aku tidak mungkin menikahi Clara. Ini Konyol." Ujarnya tertawa gusar. Ia tidak percaya dengan ucapan Shinta.
Arya beralih menatap Clara yang sudah menangis sesunggukan, bahunya bergetar hebat. Ia memijat pelipisnya yang sudah terasa pusing.
"Clara.. Kamu maukan sayang ? Mau menikah dengan Arya ?" tanyanya memastikan.
Dengan terpaksa gadis itu mengangguk, tak mungkin bila mereka membatalkan pernikahan ini. Mereka pasti akan menjadi bahan tontonan para tamu yang sudah berdatangan, terlebih para keluarga yang sudah datang dari jauh.
.
Akhirnya pernikahan itu berjalan dengan baik, meski tak ada rona bahagia dari kedua mempelai. Jiwa mereka seakan tidak berada ditubuh masing masing. Semua tamu sudah pulang, kini tinggal hanya mereka berdua yang sudah berada di kamar pengantin.
Clara menatap nanar dekorasi kamar tersebut, bunga mawar merah kesukaannya bertabur di atas ranjang membentuk hati. Dengan emosi menggebu gebu gadis itu mengacak acak dekorasi kamar tersebut, ia sudah seperti orang gila. Ia bahkan tidak peduli dengan tatapan Arya padanya, Lelaki itu kini berdiam diri di kursi samping ranjang yang berukurang king size itu.
Entah apa yang kini sedang berkecamuk di pikiran Arya, Ia hanya bisa mengacak acak rambutnya. Ingin rasanya saat ini ia menghajar Adiknya yang sudah membuatnya seperti ini, ditambah dengan keadaan Clara yang terlihat depresi. Sungguh ini semua membuat Arya Gila.