My Perfect Husband

My Perfect Husband
Sudah sebesar apa kamu di sana?



Banner putih sudah tegak di depan TV LED besar, laptop dan proyektor juga sudah nangkring cantik di atas meja kecil. Sebenarnya pakai TV itu bisa, tapi Naynay lebih suka memakai proyektor agar gambarnya lebih besar dan proses menghalunya akan terealisasi dengan baik.


Ohh, dan jangan lupakan cemilan yang berada diatas meja sofa. Afif meminta Pak Hen untuk mengantarkan cemilan sehat ke kamar, dari pada nanti istrinya yang bolak-balik ke kamar dan turun tangga.


"Selesai!" Naynay duduk di samping Afif yang sudah terlebih dahulu duduk di sofa. Laki-laki itu hanya diam dan memperhatikan Naynay sejak tadi.


Drama dimulai, Naynay begitu serius menatap adegan di yang diperagakan oleh aktor tampan di sana. Tangannya terus bergerak menyuapkan cemilan ke dalam mulutnya.


"Kau suka tontonan membosankan ini?" Afif memandang Naynay yang masih fokus pada layar di depan mereka. Afif benar-benar tidak tahu dan tidak paham dengan jalan cerita drakor itu. Dari detik dimulainya sampai episode ketiga ini, sedikit pun dia tidak paham.


"Iya, Kak." Naynay hanya menyahut singkat tanpa menatap Afif.


"Tidak ada seru-serunya sama sekali!" cibir Afif sambil memandang malas layar yang menampilkan drama korea itu. Di mana aktor dan aktrisnya sedang saling tatap.


Naynay menoleh menatap suaminya yang tampak ogah-ogahan menonton itu. "Seru lho, Kak. Apalagi pas adegan ciuuu..." Naynay tidak melanjutkan perkataannya membuat Afif menoleh. Memukul pelan bibirnya yang hampir saja menyebut satu kata yang masuk ke dalam kualifikasi "Uwu" itu.


"Adegan apa?" tanya Afif sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Naynay. Hembusan napas hangat itu menerpa wajah Naynay.


Naynay jadi salah tingkah dan memilih menatap ke layar kembali, tidak menghiraukan pertanyaan Afif. Tapi malang, karena layar menampilkan adegan ciuman.


'Drama apa ini? Biasanya mereka akan ciuman di episode-episode terakhir, bukan di awal seperti ini.' Naynay menggigit bibir sambil memutar matanya ke arah lain karena melihat adegan di depannya.


Afif yang heran melihat Naynay menutup mata pun melihat ke arah layar, senyum miringnya terbit melihat adegan ciuman yang dilakukan oleh aktor dan aktris dalam drama itu.


"Oooo... Jadi ini yang kau bilang seru itu." Afif memegang dagu Naynay dan memutar kepala istrinya itu untuk menghadapnya.


"Aku penasaran, se-seru apa adegan itu." Afif tertawa kecil dan perlahan semakin mendekati wajah Naynay yang sedikit pucat.


'Apa? Jangan bilang kalau dia mau menciumku!' Naynay membuka matanya panik.


Betul saja, bibir Afif sudah berlabuh di bibir Naynay dan bermain di sana, bumil itu terkejut walau sudah menduga ini akan terjadi. Tangan berkeringatnya sudah meremas celana yang dia pakai. Apalagi ketika Afif menggigit bibirnya agar mulutnya terbuka, Naynay hanya diam dengan tangan yang mencengkram celananya.


Puas bermain di bibir Naynay, Afif melepaskan ciumannya dengan senyum mengembang. Apalagi melihat wajah Naynay yang memerah malu itu membuatnya merasa gemas dan mengecup bertubi-tubi bibir manis itu kembali. Bekas gigitan Afif di bibir Naynay terlihat jelas.


'Kenapa udara mendadak jadi panas gini?' Naynay tidak sadar kalau panas yang dia rasakan adalah efek dari ciuman Afif. Tangannya merapikan kembali rambutnya yang sedikit berantakan sambil menetralkan kembali detak jantungnya yang sempat menggila.


"Aah, aku ingin melakukan sesuatu." Afif melorotkan tubuhnya hingga berlutut di depan Naynay.


Naynay sendiri bingung apa yang ingin dilakukan oleh Afif, apalagi sampai berlutut seperti itu. 'Mungkinkah dia ingin minta maaf karena sudah menciumku seenaknya?' Naynay tertawa di dalam hatinya setelah membatin. Mana mungkin seorang Afif meminta maaf karena mencium istrinya sendiri.


Afif mendekatkan kepalanya ke perut Naynay yang masih rata. Sebelah tangannya melingkar di pinggang Naynay dan sebelahnya lagi mengusap pelan perut istrinya itu. Jujur, Naynay terkejut dengan apa yang dilakukan Afif sekarang ini.


"Sudah sebesar apa kamu di sana?" Afif semakin mendekatkan kepalanya sambil berbicara pelan dengan janin yang masih kecil itu. Naynay semakin terkejut dibuatnya.


"Apa kau mencetak hasil USG itu?" tanya Afif mendongakkan kepalanya menatap Naynay yang masih setia dengan wajah terkejutnya.


"Ada, Kak." Naynay mengangguk.


"Kau membawanya ke sini?"


Naynay kembali mengangguk. "Ada di balik case hp," ucapnya.


Afif melangkah menuju ranjang, di mana hp Naynay tergeletak di samping bantal guling. Membuka case bertema anime itu, Afif mendapati apa yang dicarinya di sana. Hp kembali dilemparnya di atas ranjang setelah mengambil hasil USG yang dilipat dua itu dan kembali duduk di samping Naynay.


"Masih empat minggu, Kak," ucap Naynay pelan. Sejenak, mereka lupa dengan drakor yang ciumannya direalisasikan oleh keduanya. Ralat, oleh Afif seorang yang mencium Naynay karena gemas.


"Kakak tahu dari mana, Naynay USG?" tanya Naynay heran, bagaimana Afif bisa tahu.


"Apa yang tidak aku ketahui? Jangan ragukan suamimu ini, Hanaya!" Afif berkata dengan nada sombongnya.


Afif meletakkan hasil USG itu di atas meja dan menatap Naynay yang bengong menatap tangannya yang bertaut di atas pahanya.


"Baiklah, cukup menonton drama membosankan ini!" Afif berdiri untuk mematikan laptop dan proyektor.


Naynay hanya mengangguk dan beranjak ingin berdiri, tapi dia berteriak karena tiba-tiba tubuhnya melayang. Afif menggendongnya bridal style dan membaringkannya di atas ranjang.


"Ayo tidur!" Afif membaringkan tubuhnya di samping Naynay dan memeluk tubuh mungil istrinya itu.


"Hhmm.. Kak," panggil Naynay pelan sambil mendongakkan kepalanya. Sedikit menggeleng menyingkirkan poninya yang sedikit menusuk matanya.


"Hhmm." Afif menyingkirkan poni Naynay sambil tersenyum melihat usaha istrinya itu menyingkirkan poninya itu.


"Kakak nggak marah, kan, kalau Nay pake dapur tengah malam?" tanya Naynay sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Kau mau membuat keributan lagi, ya?" Afif mencium kening Naynay sekilas.


Naynay langsung menggeleng. "Nay sering bangun tengah malam cuma buat makan," ucapnya pelan.


Afif mengeratkan pelukannya hingga wajah Naynay terbenam di dadanya. Hidung Naynay pun bisa dibilang suka dengan wangi tubuh Afif, buktinya dia tidak pernah merasa mual sedikit pun.


"Apa istri pemilik rumah ini harus meminta izin dulu untuk memakai dapur?"


"Berarti Naynay boleh pake dapurnya?"


"Pakai saja," ucap Afif dengan kaki yang sudah naik ke atas kaki Naynay. Dia memeluk istrinya itu bagaikan guling.


"Makasih, Kak." Naynay tanpa sadar memeluk Afif karena senang dan rasa nyaman yang dia dapat dari pelukan Afif.


Afif menjauhkan sedikit tubuhnya ketika mendengar dengkuran halus dari bibir Naynay. Senyum yang awalnya langka, sekarang sudah sering terlihat. Ya, lebih tepatnya hanya Naynay yang bisa melihatnya. Jika di luar kamar, jangan harap bisa melihat senyum tampan memabukkan itu.


"Cepatlaah tumbuh besar!" Tangan putih kekar itu mengusap perut Naynay dengan lembut.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ♡