
Arya membuka matanya mencoba untuk menyesuaikan cahaya lampu yang berada tepat di atasnya, ia melirik jam yang sudah bertengger di pergelangan tangannya sejak lama. Sudah menunjukkan pukul 18.30 sontak ia terperanjat dari tidurnya, ia merasakan nyeri pada lehernya karna tanpa sadar ia tertidur di sofa.
"Ah..." gumamnya mengingat kenapa ia bisa sampai tertidur disitu, dengan cepat ia mencari keberadaan gadis yang beberapa waktu lalu sudah berstatus sebagai istrinya.
"Istri." gumamnya pelan dengan senyum kecil yang sulit diartikan terukir di wajahnya.
Matanya tertuju pada pintu kamar mandi yang terbuka lebar, menampakkan gadis cantik dengan balutan piyama berwarna biru laut dengan celana selutut berjalan gontai ke arahnya.
"Kakak sudah bangun ?" tanya gadis itu parau, masih terlihat jelas matanya sedikit bengkak akibat terlalu lama menangis.
"Ehmmm.." ujar Arya pelan, segera bangkit dari sofa dan berlalu ke kamar mandi. Meninggal kan Clara yang menatapnya dalam diam, gadis itu tetap merasa bersalah. Jika bukan karna ia mendesak Andre menikahinya mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Bagaimana nasibnya selanjutnya, apalagi dirinya yang tidak terlalu dekat dengan lelaki itu. Clara sedikit frustasi mengingat sosok Arya yang begitu dingin, ditambah mereka tidak saling mencintai.
.
"Aku akan segera pindah dari rumah ini Ma." keputusan Arya membuat mama menghentikan makannya, ia menatap putra sulungnya seperti sedang mengintimidasi.
"Ahh.. maksudku aku akan membawa Clara pindah dari sini. Aku juga sudah membeli rumah yang tak jauh dari kantor." ujarnya memperjelas, agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan kamu." ujar mama dan beralih menatap menantunya "Bagaimana sayang, apa kamu setuju ?"
.
Saat ini Clara masih terdiam di kursi riasnya, ia tidak tahu harus bagaimana, melihat Arya yang kini sedang berada di atas ranjang sambil memainkan handphone miliknya, sesekali ia memijit pelipisnya.
Rasa kantuk sudah menyerang gadis itu, mengingat kegiatan pernikahan mereka yang cukup menguras tenaga. Tanpa sadar Clara menguap, sontak membuat Arya menoleh ke asal suara tersebut.
"Tidurlah." ujar lelaki tersebut kembali fokus pada handphonenya, gadis itu terbelalak. Bagaimana mungkin ia akan tidur satu ranjang dengan Arya, meskipun kini mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri namun Clara masih merasa canggung.
"Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu." ujar Arya dingin, kemudian meletakkan handphone yang sedari tadi dipegangnya ke meja samping tempat tidurnya.
Perlahan ia membaringkan tubuhnya dengan posisi menyamping, berusaha membelakangi tempat Clara akan tidur.
Seperti ada sebuah jarum yang menusuk batin Clara mendengar ucapan suaminya, bukankah bagi setiap pengantin baru malam pertama adalah hal yang paling ditunggu tunggu, mungkin setiap pasangan tidak akan mampu untuk tidur mereka akan menghabiskan malam bersama.
Tapi itu tidak berlaku bagi Arya dan Clara, pernikahan mereka hanya sebuah kesalahan. Tak akan ada lagi hari hari indah untuk Clara setelah ini, semua seakan lenyap dan pergi dihempaskan ombak di lautan.
Tuhan, jika memang Arya adalah jodohku yang engkau takdirkan untukku, tolong ikhlaskan hatiku untuk menerima ini semua, Batin Clara sebelum akhirnya ia terlelap dalam tidurnya.