My Perfect Husband

My Perfect Husband
Episode 4



"Wow..." gumam Clara ketika melihat rumah mewah yang akan segera ia tempati.


"Kamu suka ?" tanya Arya tanpa menatap gadis itu.


Clara hanya mengangguk dan segera mengukir senyum termanisnya untuk lelaki yang kini berdiri disampingnya.


.


"Kita berpisah kamar saja." ujar Arya tiba-tiba, membuat gadis yang berjalan mengikutinya terhenti seketika.


"Kenapa ?" tanyanya pelan namun masih bisa didengar oleh Arya, ia akhirnya ikut menghentikan langkahnya.


"Menurutmu ?" Arya balik bertanya.


"Aku tahu ini sulit, tapi bukankah kita sudah resmi menjadi suami istri kak." ujar Clara lembut, takut lelaki itu akan salah paham dengan ucapannya.


Arya terlihat berpikir sejenak sebelum ia akhirnya mengangguk "Baiklah, kalau begitu ini akan menjadi kamar kita." ujarnya kemudian sambil menunjuk sebuah kamar yang berada tepat dihadapannya.


"Aku mandi dulu." Ujar Arya setelah mereka selesai membereskan barang masing-masing, sedang Clara hanya mengangguk sebagai jawaban. Gadis itu terlihat lelah dengan keringat yang sudah mengucur di pelipisnya.


"Ahhh.. lelah sekali." gumamnya sambil membaringkan tubuhnya di kasur dengan merentangkan kedua tangannya.


Setelah hampir 15 menit akhirnya pintu kamar mandi terbuka, menampak Arya yang kini sudah terlihat segar dengan pakaian santainya. Ia berjalan menuju ranjang hingga ia melihat Clara yang kini sudah terlelap disana. Ada kedamaian di wajah gadis itu ketika ia tertidur, perlahan mata gadis itu terbuka ketika ia merasa sesuatu yang dingin menyentuh pipinya.


"Kak Arya." ujarnya melihat lelaki itu yang kini sedang menyentuh wajahnya, ia merasa ada sesuatu yang menjalar dalam tubuhnya, jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.


"Kalau begitu aku mandi dulu." ucap Clara dengan cepat dan segera berlalu dari hadapan Arya.


"Ahh.. kenapa aku begini." gumam Clara mengelus dadanya setelah sampai dikamar mandi. Ada sesuatu yang ia rasakan saat mendapat sentuhan dari Arya, Lelaki yang seharusnya menjadi kakak iparnya itu


Tak pernah sekali pun terlintas di pikirannya bahwa lelaki itulah yang akhirnya menjadi suaminya. Ingatan gadis itu kembali pada Andre, lelaki yang amat di cintainya dengan sepenuh hati. Namun dengan tega meninggalkan dirinya dan itu sama saja menjatuhkan harga dirinya.


Sebaiknya aku segera mandi karna ini akan menjadi awal yang baru untukku, meski itu bahagia atau menyedihkan akan kujalani dengan ikhlas batin Clara.


Clara keluar dari kamar mandi dengan kaus oblong putih polos ditambah dengan celana pendek di atas lutut. Ia perlahan mengitari pintu kamar hingga menuruni tangga, mencari sosok Arya yang sejak tadi tidak ia lihat.


Hingga matanya tertuju pada sosok yang kini sedang berada di dapur.


"Duduklah." perintah Arya. Tanpa basa basi Clara segera duduk di meja makan sambil memperhatikan Arya yang masih sibuk dengan penggorengan.


Beberapa saat kemudian lelaki itu berjalan menuju meja makan dengan dua piring nasi goreng spesial di tangannya.


"Maaf kak, seharusnya ini menjadi tugasku." ujarnya merasa bersalah.


"Tidak apa, aku bisa melakukannya jika ada waktu."


"Ahh.. baiklah." Clara akhirnya berhenti bicara, ia menikmati makan malamnya sambil sesekali melirik lelaki yang kini berada tepat dihadapannya.


Dia pasti tidak akan secanggung ini jika saja lelaki yang kini berada bersamanya adalah Andre. Namun kini semua sudah percuma. Ketika mengingat nama Andre membuat gadis itu membenci dirinya sendiri.