My Perfect Husband

My Perfect Husband
Hantu tampan



Karena besok adalah hari minggu, jadi Rania menginap di rumah Naynay. Mereka sepakat untuk tidur di kamar tamu saja, agar lebih mudah bolak-balik ke dapur nantinya. Biasalah, koala bunting punya kebiasaan ngemil malam-malam gini.


Tv yang ada di kamar itu sudah menyala sejak tiga jam yang lalu, menayangkan film-film bergenre horor. Rania sudah bersembunyi di bawah selimut dan menutup sebelah matanya, takut jika hantunya tiba-tiba muncul. Sedangkan Naynay aman-aman saja menonton sambil bersandar di kepala tempat tidur sambil ngemil biskuit bayi.


"Aaaaa... Hantuuu!!" Teriakan nyaring dari mulut Rania itu membuat Naynay terkejut.


"Tadi yang minta nonton film horor siapa? Takut tapi udah lanjut aja film kedua." Naynay mengomeli Rania yang memicingkan matanya melihat ke layar tv. Dia takut, tapi kepo dengan tampang hantunya seperti apa.


"Namanya juga kepo, Nay." Gadis itu masih menatap layar tv.


"Awas kalau kamu teriak-teriak lagi, aku sumpal mulut kamu pake ini." Naynay memperlihatkan toples kaca yang ada di tangannya.


"Iya, tapi nggak janji." Jari gadis yang masih bersembunyi di bawah selimut itu membentuk huruf V.


Naynay menarik selimut yang dipakai oleh Rania dan membuangnya ke lantai. Sahabatnya itu sok berani padahal penakut banget. Tadi aja ngotot minta nonton yang ada setannya.


"Ihhh, Nay." Rania merengek dan turun untuk memungut selimut tadi.


Setelah perdebatan singkat itu, mereka berdua sudah tertidur dengan tv yang masih menyala. Hujan deras di luar membuat suasana kamar menjadi dingin dan mencekam. Naynay tidur merapatkan selimut ke tubuhnya karena kedinginan.


Di tengah malam itu, Rania terbangun karena bermimpi buruk. Film yang tadi mereka tonton terbawa sampai ke mimpi gadis itu. Dan sialnya, tv yang masih menyala menampilkan rupa dari hantu yang wajahnya hancur.


"Aaaa... hhmm!" Teriakan Rania tertahan karena mulutnya dibekap oleh tangan yang dingin. Mata gadis itu sudah berair karena takut yang di depannya ini adalah hantu.


"Diamlah! Kau bisa membangunkan istriku." Orang yang membekap mulut Rania tadi tak lain dan tak bukan adalah Afif. Setelah gadis itu tenang, Afif melepaskan bekapannya.


Afif berjalan ke sisi ranjang di mana Naynay tertidur pulas. "Aku akan membawanya ke atas," ucapnya datar seraya mengangkat tubuh Naynay.


"Jangan tonton kalau kau takut, matikan tvnya!" ucap Afif kepada Rania sebelum dia keluar dari kamar itu.


Rania dengan cepat meraih remote dan mematikan tv sebelum hantunya keluar dan melahap habis tubuh gadis itu.


"Huufftt.... Aku kira dia hantu, hantu tampan." Rania menghidupkan lampu yang sebelumnya sengaja dimatikan untuk mendukung suasana horor ketika menonton. Dia sudah tidak mau lagi nonton film horor di masa depan. Gadis itu masuk ke dalam selimut dan tidur sambil memeluk guling.


*****


Di kamar, Afif sudah selesai mandi dan melompat ke atas tempat tidur. Goncangan yang tercipta membuat Naynay terbangun dan langsung terduduk. Lampu kamar yang sudah dimatikan membuat dia hanya bisa melihat samar-samar ada orang di sampingnya. Hanya ada sedikit cahaya dari lampu tidurnya yang berbentuk jamur di atas nakas.


"Ran!" panggil Naynay yang mengira itu Rania, tapi postur tubuhnya lebih kelihatan seperti laki-laki.


'Jangan-jangan ini hantu?! Tapi mana ada hantu tampan?.'


Naynay mengingat hantu di film yang tadi dia tonton, hantunya laki-laki dan memakai baju putih. Laki-laki di depannya juga memakai baju putih. Apa hantu tadi keluar dari tv dan mendatanginya?


"Aaa... Lepas!" pekik Naynay ketika tangannya di pegang oleh tangan yang terasa dingin. Rasa takut mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Sedangkan Afif sudah mati-matian menahan tawa.


Dari sedikit pencahayaan di sana, Naynay mulai bisa melihat sedikit wajah laki-laki di depannya. Tidak asing tapi tetap saja menyeramkan.


"Mamaaa.... Tolongin Naynay!!" Bumil itu menangis sambil menggoyang-goyangkan lengannya yang dipegang oleh Afif.


Afif memutuskan untuk berhenti menggoda Naynay, dia dengan iseng menarik tubuh istrinya itu hingga berbaring dan menindihnya.


"Kau nangis, ya?" Afif berbisik lirih membuat bulu kuduk Naynay meremang.


"Ihhh, Kakak iseng banget!!" Naynay kesal dan memukul dada Afif lumayan keras setelah dia sadar yang ada di depannya ini adalah suaminya.


Naynay meraih remote yang ada di kepala tempat tidur dan menyalakan lampu kamarnya. Sekarang yang tadinya dia kira hantu itu sedang tersenyum mengejek sambil mengerlingkan matanya menggoda.


"Kakak jahat ihh," ujar bumil yang kembali menangis sesuai permintaan suaminya.


"Apa yang aku lakukan?" Nah, masih menggoda. Melihat Naynay menangis dengan wajah lucu itu memang candu kedua Afif setelah bibir istrinya itu.


"Kakak nakut-nakutin Naynay, kalau sampe jantungan gimana?" Tangan Naynay menepuk lengan Afif yang mengurung tubuhnya.


"Aku minta maaf kalau begitu," ucap Afif santai membuat Naynay kesal dan menghentikan tangisnya.


'Kau imut sekali, aku ingin menggigitmu.'


Naynay yang membuang muka dimanfaatkan oleh Afif untuk melancarkan aksinya. Dia menggigit pipi tembem Naynay hingga istrinya itu memekik sakit. Bukannya berhenti, Afif malah beralih menggigit kecil hidung mancung Naynay.


"Kau terlalu menggemaskan, jadi aku gemas dan menggigitmu." Afif tertawa melihat jejak gigitannya di pipi Naynay. Diusap-usapnya lembut, terkadang juga menciuminya hingga Naynay risih dibuatnya.


"Kau tidak merindukanku, hhmm?" tanya Afif setelah puas dengan pipi Naynay. Sekarang dia beralih memeluk erat tubuh mungil sang istri.


Naynay bingung mau jawab apa. Kalau dia bilang iya, dia sama sekali tidak merindukan Afif. Ada sih, tapi sedikit. Dan jika dia bilang tidak, maka suaminya itu akan marah dan memasang wajah datar bin dingin lagi.


"Sedikit," jawab Naynay langsung membuat raut wajah Afif berubah. Tuh kan...


"Tidurlah, bangunkan aku jika kau mau makan nanti!" Afif melepas pelukannya dan tidur membelakangi Naynay.


Wahh, andai kalian bisa melihat wajah panik Naynay sekarang ini. Dia benar-benar anti jika melihat Afif ngambek seperti ini.


Naynay menggeser tubuhnya dan memeluk Afif dari belakang. "Dedeknya rewel selama Kakak pergi, jadi Naynay nggak terlalu kangen sama Kakak karena muntah-muntah terus."


Afif masih diam, sebenarnya sih hatinya sedikit menghangat mengetahui kalau anaknya merindukannya. Sekaligus diamnya dia itu untuk menikmati pelukan yang Naynay berikan, apalagi ada yang lembut menempel di punggungnya.


"Nay kangen kok sama Kakak, lima hari pergi nggak ngasih kabar lagi." Suara Naynay sudah berubah imut untuk merayu Afif. Dia tidak tahu saja kalau suaminya itu sekarang sedang tersenyum lebar.


Jawaban Naynay jujur sebenarnya, karena selama lima hari ini dia sedikit merasa kesepian ditinggal beruang tampan. Itu adalah panggilan Naynay untuk Afif yang galak tapi tampan itu. Entah kapan panggilan kesayangan itu dia dapatkan.


Puas dengan sandiwara ngambeknya, Afif berbalik dan kembali memeluk istrinya. Naynay sendiri tertawa kecil ketika menerima kecupan hangat di seluruh wajahnya.


"Ayo tidur sebelum aku menerkammu."


Mendengar itu, Naynay langsung memejamkan matanya sambil menggerakkan tangan untuk membalas pelukan Afif.


Betapa banyak bunga dan kupu-kupu yang sekarang memenuhi hati laki-laki tampan itu. Yang jelas, senyum lebarnya sudah mewakili rasa senangnya.


.


.


.


.


.


Terima kasih buat yang selalu dukung novel ini...