
Naynay berjalan menuruni tangga dan menuju ke ruang makan untuk sarapan. Rania sudah kembali ke rumahnya, dijemput oleh sopirnya kemaren sore. Jadi Naynay akan pergi ke sekolah sendiri.
"Pagi, Ma, Pa!" sapa Naynay dan duduk di kursi.
"Pagi, ini buahnya." Yasmin menyerahkan semangkuk buah segar yang sudah dipotong-potong kecil.
"Makasih, Ma." Naynay mulai memakan buah-buahan itu dengan lahap. Melihat buah yang memiliki rasa manis dan asam itu begitu membuatnya senang.
Hendrayan mendorong piring dengan roti selai coklat di atasnya. Buah saja tidak akan membuat putri dan calon cucunya merasa kenyang dan berenergi.
"Abis itu, makan rotinya!" ucap Hendrayan sambil menepuk-nepuk kepala Naynay, persis seperti Naynay saat TK dulu.
"Siap, Papa komandan!" Naynay mengangkat kedua jempolnya dan melanjutkan memakan buahnya.
"Kamu diantar sopir aja, ya, Nay." Yasmin duduk di samping Naynay dan meletakkan segelas air putih di depannya.
Naynay menoleh menatap mamanya, menelan buah yang tadi dikunyahnya sebelum bicara. "Nay nggak bawa mobil sendiri aja, Ma?" tanyanya pada Yasmin.
"Kamu kan sering pusing, nanti kenapa-kenapa, gimana?" Yasmin mengangkat dagunya, menagih jawaban dari putrinya.
"Iya, Nay mau diantar sopir." Memilih mengalah daripada berdebat dengan mamanya. Lagi pula, Naynay memang sering merasa pusing. Jadi, lebih baik dia mendengarkan apa kata sang mama.
Setelah sarapan, Naynay pamit ke sekolah dan masuk ke dalam mobil. Jika dia diantar sopir, dia akan duduk di samping sopirnya itu. Entahlah, tapi dia merasa tidak enak jika duduk di belakang.
"Nanti Nay pulang sama Rania, jadi nggak usah dijemput, Pak!" ucap Naynay kepada sopirnya sebelum keluar
"Baik, Nona." Sopir itu mengangguk mengerti dan langsung pergi setelah Naynay masuk ke dalam.
Naynay berjalan melewati parkiran mobil, di mana Rania sudah menunggunya di sana. Tadi Rania sudah menghubungi Naynay, kalau dia yang akan mengantar Naynay pulang.
"Mual lagi tadi pagi?"tanya Rania yang melihat wajah Naynay yang sedikit pucat.
"Iya, kan kata dokter berlangsung selama trimester pertama." Menjelaskan kembali apa yang dikatakan dokter waktu itu.
"Kamu mau ke kantin dulu atau langsung ke kelas?" tanya Rania.
"Kantin, aku mau beli roti keju dulu!" Naynay menarik tangan Rania menuju kantin. Sejak berangkat sekolah tadi, pikirannya sudah tertuju pada roti keju buatan salah satu teman sekelasnya yang dititipkan di kantin.
Mata Naynay berbinar menatap deretan roti dengan parutan keju di atasnya. Dia membeli lima bungkus, satu untuk Rania dan selebihnya untuk dirinya sendiri.
"Udah kan? Ayo masuk!" Mereka berjalan menuju kelas untuk mengikuti sejumlah mata pelajaran hari ini.
*****
Afif sedang duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya, memperhatikan setiap gerak-gerik orang-orang suruhan Ryan yang sedang menyusun letak alat-alat belajar.
Meja belajar yang sama dengan model meja kerja Afif, dan letaknya yang juga bersebelahan. Afif sendiri yang menyuruh Ryan untuk membeli meja dan kursi yang sama seperti miliknya. Baginya, ini adalah bentuk tanggung jawabnya kepada gadis yang dia hamili itu.
Setelah semuanya sesuai dengan keinginan sang Tuan Muda, Ryan mengintruksikan semua orang suruhannya keluar dari ruangan itu. Kini, tinggallah dua manusia paling ditakuti di dunia bisnis yang sedang duduk berhadapan ini.
"Sebentar lagi nona pulang, apa kita berangkat sekarang?" tanya Ryan yang melihat Afif kembali sibuk dengan hpnya.
'Dia belum memakai parfum? Yang dihirup hidungku sejak masuk ke sini tadi apa?' Ryan menggeleng tak percaya. Dia keluar dari ruangan dengan cepat sebelum Tuan Muda itu selesai dengan parfumnya.
Di dalam kamarnya, Afif memandangi pantulan dirinya di cermin. Dengan balutan kemeja maroon dan jas hitam, dia benar-benar terlihat tampan. Tangannya membuka dua kancing teratas kemejanya, senyum tipis terbit di bibirnya.
Setelah puas dengan parfum dan memandangi pantulan dirinya sendiri, Afif keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Ekspresi datar dan tatapan dingin, hanya itu yang dia tampilkan saat di luar kamarnya. Ryan sudah berdiri di samping mobil dan membukakan pintu untuknya. Afif masuk dan duduk dengan gaya coolnya.
Di dalam mobil, Afif kembali menyibukkan diri dengan menatap layar hpnya yang menampilkan foto seorang gadis yang sedang tersenyum lebar sampai matanya menyipit. Di tangan gadis itu ada beberapa bungkus roti. Hanya karena roti, dia sampai sesenang itu? Itulah yang ada di pikiran Afif, tapi senyum tipis lagi-lagi terbit dari bibirnya.
Mobil mewah itu tiba di gerbang rumah Hendrayan, bersamaan dengan Naynay yang turun dari mobil Rania yang sudah berada di depan pintu masuk. Naynay melambaikan tangannya ketika Rania kembali menjalankan mobilnya untuk keluar dari halaman rumahnya.
"Siapa yang mengantarnya pulang?" Aura di dalam mobil berubah dingin, ditambah wajah Tuan Muda itu terlihat mengeras.
"Nona Rania." Ryan hanya menjawab singkat dan membuka kaca mobil, karena penjaga rumah meminta bukti mereka telah membuat janji dengan Hendrayan.
Pintu gerbang terbuka dan mobil melaju masuk. Berhenti tepat di depan pintu masuk rumah yang tak kalah mewah dari rumah sang Tuan Muda.
Hendrayan dan Yasmin sudah menunggu mereka berdua di depan pintu, mengingat laki-laki yang di dalam mobil ini bukanlah laki-laki sembarangan. Naynay juga ikut berdiri di sana, kepo karena orang tuanya sampai menyambut di depan pintu segala.
Afif keluar dari mobil setelah Ryan membukakan pintu untuknya. Mata tajamnya sedikit melunak ketika matanya berlabuh pada gadis berseragam SMA. Tubuhnya terlihat sedikit berisi dari hari di mana mereka menghabiskan malam bersama di hotel, murni kecelakaan. Ini adalah pertemuan kedua Afif dengan gadis itu, sedangkan ini pertama kalinya Naynay melihat Afif.
"Selamat datang, Tuan Afif." Hendrayan dan Afif berjabat tangan. Biasanya Tuan Muda ini tidak pernah menjabat tangan orang lain, tapi kali ini mungkin karena gadis itu.
Naynay tidak menjabat tangan Afif, dia hanya membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda menghormati. Karena sejak hari itu, Naynay tidak pernah lagi dekat atau bersentuhan dengan laki-laki, selain Hendrayan tentunya. Ada rasa takut dalam hatinya jika dekat dengan laki-laki.
"Maaf, Tuan Afif. Bukannya putri saya tidak sopan, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa bersentuhan dengan laki-laki," jelas Yasmin ketika Afif menurunkan tangannya yang tadinya menggantung.
"Tidak masalah." Afif tidak mengalihkan pandangannya dari Naynay yang menunduk. Gadis itu trauma sampai tidak mau bersentuhan dengan laki-laki?
"Mari masuk!" Hendrayan membawa kedua tamunya itu masuk ke dalam, mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Nay permisi," ucap Naynay dan berjalan menuju tangga.
"Tunggu!" Suara dingin itu membuat Naynay menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Duduk!" Afif menatap Naynay tajam, membuatnya sedikit takut.
Naynay mendekat kembali dan duduk di sofa single, tepat di samping Afif. Bau parfum laki-laki itu tercium, tapi anehnya Naynay tidak merasa mual.
.
.
.
.
.
...#Vote #Favorite #Rate #Like ♡...