
Siang tadi setelah makan siang, Naynay dan Afif dipaksa untuk menginap karena Yasmin sudah sangat merindukan anaknya yang sedang bunting ini. Afif menyetujuinya karena dia bisa melihat binar senang di mata Naynay ketika bertemu dengan kedua orang tuanya.
Sesudah makan malam, Hendrayan mengajak Afif ke halaman belakang. Di sana ada tempat biasa Naynay bersantai sambil membaca buku, desainnya seperti tempat tidur outdoor yang dikelilingi tirai putih. Di samping itu juga ada satu kursi panjang yang yang bisa dirubah menjadi dua kursi panjang berserta satu meja panjang. Dan di sanalah Hendrayan dan Afif duduk dengan catur di hadapan mereka.
"Kau memperlakukan anakku dengan baik?" tanya Hendrayan sambil menjalankan bidak caturnya.
"Apa wajah cerianya membuatmu ragu, Papa Mertua?" Afif balik bertanya dan menjalankan bidaknya dengan tenang.
"Dia pandai menyembunyikan perasaannya," ujar Hendrayan dan bidaknya menggeser satu pion Afif.
Afif menatap Hendrayan yang juga menatapnya datar, detik selanjutnya dia menjalankan bidaknya asal. Kalimat itu berhasil membuat pikirannya kacau. Benarkah Naynay selama seminggu ini merasa bahagia seperti apa yang tergambar di wajahnya? Atau itu hanya topeng yang menutupi perasaannya yang sebenarnya?
"Skakmat!" ucap Hendrayan bersamaan dengan bunyi ketukan bidak caturnya di papan.
Afif menatap papan catur itu malas, pikirannya sedang melayang memikirkan istrinya yang sedang menonton drama korea bersama Yasmin di dalam.
"Ada tiga orang yang membuatku bisa bertahan selama ini di dunia bisnis. Yang pertama adalah Rendra, ayahmu itu adalah sahabatku sejak kuliah. Di saat itu juga dia bertemu dengan gadis asal negara K, Ga Eun yang merupakan ibumu." Hendrayan mulai bercerita, Afif dengan serius mendengarkan walaupun belum jelas poinnya di mana.
"Aku bukan laki-laki yang haus akan jabatan, tapi aku juga tidak punya pilihan lain selain melanjutkan perusahaan milik kakek Naynay. Tahun pertama hingga kedua aku hanya acuh, tapi Rendra tidak pernah lelah menasihatiku hingga akhirnya aku sadar kalau dua tahun itu aku benar-benar menjadi manusia yang merugi." Hendrayan tertawa mengingat bagaimana dirinya dulu yang bandel luar biasa ketika kuliah.
"Kau tahu apa yang dia katakan padaku? Dia bilang kalau aku tidak lulus dalam waktu dua tahun lagi, maka aku gagal menjadi laki-laki yang akan dihormati istri dan anak. Sungguh kata-katanya tidak masuk akal, tapi bisa mengubah pola pikirku tentang menjadi pewaris tunggal keluarga Pradipta." Mata Hendrayan menatap Afif yang mungkin masih belum menemukan apa inti cerita ini.
Hendrayan kembali melanjutkan. "Orang kedua adalah istriku, Yasmin. Gadis yang aku kenal ketika acara ulang tahun perusahaan, dan saat itu aku juga baru lulus kuliah. Tingkahnya yang masih seperti remaja baru puber membuatku tertarik, dia tetap menjadi dirinya sendiri walau setiap mata memandang sinis padanya di hari itu. Aku berusaha mendekatinya, tapi sangat sulit karena dia bukan gadis yang mudah didekati." Hendrayan memperlihatkan satu foto di mana seorang gadis dengan wajah manis sedang memakan cup cake di antara kerumunan orang yang berpakaian formal.
"Aku memaksa kakek Naynay untuk melamarkan dia untukku. Melalui banyak rintangan untuk meluluhkan hatinya yang berlapiskan baja, aku menikahinya walau cinta itu masih belum tumbuh di hatinya." Jari Hendrayan mengusap layar dan terlihatlah foto pernikahan di mana pengantin wanita menangis sambil memeluk pria tua yang mungkin adalah ayahnya. Itu adalah momen di mana Yasmin merengek ingin pulang ketika acara resepsi. Afif tersenyum simpul melihat foto itu, mertuanya ini memang unik.
"Hingga akhirnya penantian itu tidak mengecewakan. Tepat di hari aku resmi menjadi pemimpin perusahaan, aku mendapatkan cinta dan hidup Yasmin sepenuhnya. Dia selalu mendukung dan menyemangati kala rasa lelah itu menghimpit pundakku. Hingga pada ulang tahun pernikahan kami yang kedua, dia memberikan hadiah luar biasa, dia hamil." Layar bergerak dan menampilkan tiga hasil USG 4D.
Afif memandang tiga gambar yang berbeda itu sambil tersenyum, hatinya mendadak menghangat melihatnya.
"Dan orang ketiga adalah istrimu, Naynay. Sembilan bulan menantinya lahir begitu penuh drama. Hingga kabar buruk membuatku begitu takut. Yasmin didiagnosa menderita plasenta akreta hingga Naynay harus dilahirkan dengan tindakan operasi. Setelah itu pun Yasmin masih harus menjalani satu operasi lagi, operasi pengangkatan rahim agar tidak ada komplikasi di kemudian hari." Hendrayan menyerahkan hpnya yang menampilkan foto bayi yang tertidur lelap di dalam box bayi.
"Dia sangat menggemaskan," ujarnya membuat Hendrayan mengangguk.
"Sejak dia lahir, Yasmin begitu bersemangat sampai lupa kalau aku masih hidup. Dia terlihat sangat bahagia walaupun kami tidak bisa punya anak lagi. Naynay tumbuh dengan baik dan sangat pintar. Mereka sering tidur berdua sambil berpelukan. Sekarang aku tanya, apa kebiasaan Naynay jika sedang tidur?" Hendrayan bertanya dengan pertanyaan mudah.
"Jempol tangan di depan bibir," jawab Afif mantap karena setiap hari dia disuguhkan pose tidur menggemaskan itu.
"Ya, karena selama hamil itu Yasmin selalu tidur dengan jempol yang menempel di bibirnya," ucap Hendrayan tertawa.
Afif akhirnya paham maksud dari cerita ini. Hendrayan begitu menyayangi orang-orang yang dekat dengannya, apalagi istri dan anaknya.
"Ada satu waktu di mana aku gagal menjadi seorang ayah yang selalu mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Hari di mana putri yang aku jaga dan aku sayangi mengalami pemerkosaan," ujar Hendrayan dengan suara berat membuat Afif tergugu.
"Belum selesai, dia sampai hamil karena insiden itu. Hatiku benar-benar hancur saat itu, dan lagi, aku menamparnya tanpa mendengar penjelasannya." Tatapan mata Hendrayan berlabuh di mata elang milik Afif.
"Apa kau tidak akan menerima anak itu?" Pertanyaan Hendrayan sukses membuat Afif terkejut. Pertanyaan itu langsung menghujam jantungnya hungga berdetak tidak normal, lebih cepat dari biasanya.
***
Afif masuk ke kamar Naynay setelah mendengar cerita singkat hidup Hendrayan. Setelah mencuci wajah dan mengganti pakaian dengan piyama yang sudah disiapkan Naynay, Afif naik ke atas tempat tidur. Dipandanginya wajah lelah Naynay yang sedang tertidur.
"Apa hadirnya dia membuat semua mimpimu hancur?" Afif mengusap perut Naynay dan menciuminya dengan lembut.
Tangan Afif beralih mengusap wajah Naynay yang tenang. Senyumnya mengembang saat mendapati pergerakan dari jempol tangan yang menempel di bibir mungil itu.
"Selamat tidur, Sayang." Kecupan hangat dari Afif mendarat di kening dan pipi Naynay. Laki-laki itu memeluk lembut tubuh mungil yang sedang mengandung itu.
Kata "Sayang" yang sebelumnya terucap membuat Naynay tersenyum dalam tidurnya. Mungkin mimpinya menjadi semakin indah setelah mendengar bisikan itu.
.
.
.
.
.
Komen yang banyak dong....
Like dan rate juga...
Selamat membaca ♡