
Pagi yang cerah dengan sinar matahari yang terasa hangat di kulit sudah menyambut para pejuang lembaran kertas bernama uang. Dua penghuni kamar paling mewah di rumah ini sedang sarapan bersama, ditambah dengan satu makhluk yang sudah seperti mengeluarkan aura hitam yang duduk di depan pasangan itu.
Qiara menatap tajam Naynay yang sedang menyantap sarapannya. Naynay sebenarnya tau, tapi dia tidak mau membuat masalah pagi-pagi. Dia hanya ingin hidup damai di rumah ini sampai anaknya lahir, jadi sebisa mungkin dia akan menghindari Qiara.
"Makan sarapanmu!" ucap Afif dingin membuat Qiara segera menyendokkan sarapan ke mulutnya.
Afif sejak tadi sudah memperhatikan Qiara. Seperti yang dia duga, adiknya itu tidak akan mudah menerima orang baru di rumah ini sejak kematian orang tua mereka.
"Aku akan mengantarmu." Afif meneguk segelas air putih di depannya sambil habis.
Qiara mendongak, mengira kalau Afif mengucapkan itu untuknya. Tapi sayang, kakaknya itu sudah menggandeng tangan Naynay. Qiara menatap tak percaya, selama ini Afif tidak pernah mau menyentuh satu wanita pun, termasuk dirinya. Tapi sejak menikah, kakaknya itu seakan berubah dan selalu menempel dengan Naynay yang sangat dibencinya.
"Hari ini kau ujian, bukan?" tanya Afif setelah mereka duduk di kursi mobil. Di depan sana sudah ada Ryan yang duduk di belakang kemudi.
"Iya, Kak." Mengangguk setelah merapikan roknya.
"Jangan kecewakan aku dan orang tuamu!" Menepuk-nepuk lembut kepala Naynay.
'Kata-kata ini tidak membuatku semangat sedikit pun.' Naynay mengangguk sambil tersenyum paksa karena tidak tahu harus membalas apa.
Mobil melaju membelah jalanan yang bisa dibilang lancar, belum macet karena ini masih terlalu pagi untuk bekerja. Tapi tidak dengan Afif, dia selalu berangkat ke kantor sebelum jam tujuh pagi.
Mobil berhenti di depan gerbang sekolah Naynay. Naynay melarang Ryan yang akan turun membukakan pintu, dia tidak ingin ada orang yang tahu dia punya hubungan dengan orang-orang Cavin Group.
"Makasih, Kak. Nay pergi dulu." Mencium punggung tangan Afif seperti sebelumnya sebelum keluar dari mobil.
"Kau akan dijemput Ryan nanti, jangan pulang sebelum di datang!" ucap Afif sebelum Naynay menutup pintu, istrinya itu mengangguk dan segera masuk melalui gerbang sekolah.
Mobil kembali melaju menuju perusahaan tempat ribuan orang menggantungkan hidupnya di sana. Gedung Cavin Group merupakan yang termewah di negara ini. Kerajaan bisnis ini berkembang begitu pesat sejak Afif masuk empat tahun lalu dikarenakan Rendra dan Ga Eun Lee yang merupakan orang tuanya meninggal akibat kecelakaan pesawat. Itu berarti dia sudah menduduki kursi kebesaran CEO sejak umur 19 tahun.
Naynay mencari Rania dan Rosi terlebih dahulu sebelum ujian dimulai. Mereka bertiga beda kelas karena disesuaikan dengan nomor absen, Rania dan Rosi satu kelas. Kedua gadis itu ternyata sedang duduk di depan ruang ujian mereka.
"Kenapa pesanku nggak dibales?" tanya Rosi kesal karena dia sudah mengirimkan banyak pesan tapi tidak dibalas sedikit pun.
"Hpku disita papa selama ujian." Mendapat alasan yang cukup memadai.
"Lho, biasanya om Hendrayan nggak pernah sita-sita hp. Emangnya kenapa bisa disita?" Rosi mengernyit tak yakin dengan alasan Naynay.
Mulai gusar, tapi masih berusaha tenang agar Rosi tidak curiga. Sedangkan Rania sudah paham dan tahu siapa yang menyita hp Naynay.
"Akhir-akhir ini aku ketagihan nonton drakor. Karena takut nilaiku anjlok, jadi aku kasih hpku ke papa selama seminggu ini agar fokus ujian." Naynay nyempil di antar kedua sahabatnya itu dan mencomot cimol yang akan dilahap Rania.
"Beli sana, ihh." Rania memutar tubuhnya dan menyembunyikan cimolnya dari pandangan Naynay.
"Rame pasti, males aku." Naynay menyandarkan punggungnya di tembok sambil meminum susu kotak yang entah milik siapa.
"Nayyy!" kesal Rania karena susu kotak rasa coklat itu adalah miliknya. Rosi geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua.
Naynay memasuki ruang ujiannya, name tag dan nomor ujiannya sudah tergantung di lehernya. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi, di depannya sudah ada komputer yang menyala. Hanya tinggal mengisi nama, nomor ujian, beserta kodenya.
'Kasih semangat dong buat Mama.' Naynay mengusap pelan perutnya sebelum memulai ujian.
Setelah membaca doa, Naynay mulai mengerjakan soal ujiannya. Dua mata pelajaran yang diuji hari ini Naynay selesaikan dengan baik. Dia yakin bahwa nilainya akan memuaskan dan bisa menjadi lulusan terbaik tahun ini. Dia akan berusaha agar semua nilai ujiannya sempurna dan membuat orang tua serta suaminya bangga.
Suami? Ternyata kau masih mengingat ucapan Afif tadi pagi, ya.
Naynay keluar dari gerbang dan berjalan menuju pedagang kaki lima yang tak jauh dari dari sana. "Pak, otak-otak bakarnya dua puluh, ya."
"Siap, Neng. Duduk dulu," ucap pedagang itu sambil meletakkan kursi plastik di depan Naynay, pelanggan setianya.
Naynay memang suka dengan jajanan seperti ini, khususnya otak-otak yang dibakar dan diberi saus pedas. Sekali beli biasanya hanya sepuluh tusuk, tapi sekarang bertambah menjadi dua puluh tusuk karena yang ikut makan bertambah satu lagi.
Mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan Naynay duduk. Naynay memberi kode lima jarinya sebagai tanda untuk orang di dalam mobil menunggunya lima menit.
Naynay memasuki mobil dengan menenteng kantung plastik bening yang berisikan otak-otak bakar yang dikemas ke dalam kotak sterofoam. Ryan yang sudah sejak lima menit menunggunya, menatap sedikit khawatir dengan jajanan itu.
"Nona, lebih baik Anda tidak memakan makanan yang dijual di pinggir jalan. Di rumah ada koki yang siap memasak apapun yang Anda mau." Ryan mulai melajukan mobil meninggalkan area sekolah Naynay.
"Tidak usah khawatir, Kak Iyan. Bapak itu selalu mengutamakan kebersihan dagangannya kok. Naynay selalu jajan di sana setiap hari," jelas Naynay sambil melirik Ryan melalui kaca spion tengah mobil.
Sekali lagi, Ryan dibuat tertegun mendengar panggilan Naynay untuknya. Sudah lama sekali dia tidak mendengar nama "Iyan" disebut oleh orang-orang di sekitarnya.
Naynay memperhatikan jalanan yang bukan arah menuju ke rumah. "Kak Iyan, ini bukan jalan pulang, kan?" tanya Naynay.
"Tuan Muda menyuruh saya untuk membawa Anda ke kantor untuk makan siang, Nona."
Naynay mengangguk kecil tanda mengerti. Dia penasaran seperti apa Cavin Group itu, perusahaan besar yang dimiliki oleh suaminya. Dia juga ingin melihat bagaimana suaminya itu bekerja, apakah ketampanannya akan bertambah jika sedang serius bekerja?
Ahh, Naynay sangat ingin melihatnya.
.
.
.
.
.
Selamat membaca ♡