My Perfect Husband

My Perfect Husband
Kewajiban seorang istri



Afif terbangun karena mendengar suara ketukan pintu. Tanpa memakai atasannya kembali, dia berjalan membukakan pintu.


"Ah, maaf kalau Mama mengganggu, tapi kalian harus sarapan sekarang. Dan ini dari Sekretaris Ryan, dia ada di bawah." Yasmin menyerahkan nampan dan paper bag yang dibawanya kepada Afif.


"Terima kasih, Ma." Afif tersenyum dibalas anggukan dan acungan jempol oleh Yasmin sebelum dia berjalan menjauh.


Setelah menutup pintu, Afif meletakkan nampan dan paper bag tadi di atas nakas. Duduk di pinggir ranjang, dia menarik pelan selimut yang menutupi tubuh polos Naynay. Pelan-pelan dan woahhh, tubuh polos itu berhasil membuat Afif menelan saliva susah payah. Dengan cepat dia kembali menyelimuti Naynay hingga leher.


'Sial!'


Afif memukul pelan kepalanya yang mulai terisi dengan pikiran kotor. Menyesal dia menarik selimut itu tadi, tapi kalau tidak ditarik, dia akan mati penasaran karena rasa ingin tahunya sekaligus ingin pegang-pegang. Hanya melihatnya saja sudah membuatnya uring-uringan, apalagi kalo sampai pegang-pegang. Bisa dipastikan Afif akan berubah menjadi manusia paling buas dan tidak akan bisa dihentikan.


Menepis pikiran kotornya, Afif naik ke atas tempat tidur dan mulai memainkan pipi istrinya. Dia memang punya cara sendiri untuk membangunkan Naynay dari tidurnya.


"Nay, sampai kapan kau akan tidur?" Kini bibirnya yang mulai aktif menciumi seluruh wajah Naynay.


Afif tersenyum tampan ketika melihat mata Naynay yang sembab itu mengerjap. Setelah mata itu terbuka sempurna, Afif menarik tubuh Naynay hingga duduk. Tak lupa juga dia memegangi selimut agar tidak melorot dan membangkitkan hasratnya kembali.


"Makan sarapanmu! Aku mandi dulu." Afif memberikan sarapan yang tadi diantar oleh Yasmin kepada Naynay. Sebelum beranjak dari sana, Afif mengacak rambut Naynay yang memang sudah berantakan itu.


Naynay memandang sarapannya dengan tidak berselera, tapi dia harus tetap memakannya karena ada nyawa kecil yang menjadi tanggung jawabnya. Avocado Toast yang tertata di piring sudah masuk ke dalam perutnya, ini adalah menu sarapan yang paling disukai Naynay dan malaikat kecil di dalam perutnya.


Sudah dua hari ini Naynay tidak mengalami morning sickness. Entah apa yang terjadi hingga malaikat kecilnya tidak rewel seperti biasa. Kata Dokter Melisa dulu biasanya morning sickness akan berlangsung selama trimester pertama kehamilan, tapi ada perbedaan pada Naynay. Dokter Muda itu juga mengatakan kalau setiap ibu hamil memiliki perbedaan dalam masa kehamilannya, jadi Naynay aman-aman saja.


Setelah meminum susu yang ada di nakas, Naynay berjalan memasuki ruang gantinya dengan memakai kembali handuk yang tadinya dilepas oleh tangan nakal Afif. Sesudah memakai pakaian rumahan, Naynay membuka lemari baru yang ada di sana. Di dalamnya terdapat pakaian laki-laki lengkap.


"Aku akan ke kantor, tidak perlu menyiapkan pakaian." Afif masuk ke dalam ruang ganti dengan memakai celananya yang tadi karena semua handuk sudah dia ungsikan, bukan. Menghentikan Naynay yang hendak meraih baju kaos putih.


"Pakaian Kakak, gimana?" tanya Naynay bingung, pasalnya yang tersedia di lemari tadi hanya pakaian santai khusus rumahan saja.


"Ryan sudah membawakan keperluanku," ucap Afif seraya menarik handuk yang tersampir di bahu Naynay dan menyeka sisa-sisa air di tubuhnya.


Naynay langsung ngacir keluar dari ruangan itu ketika Afif memegang pinggang celananya. Sedangkan yang ditinggal hanya bisa melongo dengan wajah yang tetap tampan. Afif ikut keluar dari ruang ganti, tapi tidak mendapati istrinya ada di sana. Lebih baik dia bersiap-siap karena Ryan sudah menunggu di bawah. Mereka akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari ini, meninjau proyek penting yang sudah dalam tahap finishing.


Sedangkan di lantai bawah, Naynay sedang duduk di kursi meja makan sambil menyantap semangkuk salad buah buatan Yasmin. Ia mendadak ingin makan makanan manis, jadi Yasmin membuatkan salad buah tanpa buah naga.


"Astaga!" Naynay terkejut ketika Afif tiba-tiba menyambar sesendok buah yang akan masuk ke dalam mulutnya. Laki-laki itu tersenyum lebar sambil mengunyah potongan buah di dalam mulutnya.


Afif berjongkok di depan Naynay. "Aku harus pergi ke luar kota, untuk beberapa hari ini kau tinggal di sini saja dulu." Memegang pinggang Naynay, Afif mencium perut datar istrinya itu berkali-kali. Perlakuan yang selalu membuat Naynay terkejut sampai matanya yang sedikit sipit itu membulat sempurna.


"Nay anterin sampe depan." Naynay meraih tangan Afif yang baru saja berdiri. Laki-laki itu mengangguk dengan senyum mengembang dan menggandeng istrinya itu.


"Aku pergi dulu, aku akan menjemputmu jika pekerjaanku selesai."


Aaaa, kenapa Naynay sangat mengharapkan laki-laki ini cepat pulang? Padahal Afif baru saja akan pergi. Belum juga pergi, udah mikirin kapan suaminya itu akan pulang.


"Iya, Kak." Jawaban Naynay membuat ekspresi Afif yang tadinya sumringah berubah masam. Dia sudah berharap mendengar kata-kata penyemangat dari Naynay, tapi apa yang bisa dia harapkan dari istrinya yang imut menggemaskan ini?


"Hati-hati di jalan, nanti beneran jemput Naynay, ya!" tambah Naynay yang melihat wajah tak senang Afif. Tak lupa juga dia mencium punggung tangan Afif sebelum suaminya itu masuk ke dalam mobil.


Setelah mobil Afif keluar dari gerbang, Naynay masuk kembali ke dalam.


"Nay, sini duduk!" Yasmin menepuk-nepuk sofa di sampingnya. Sekarang hanya mereka saja yang ada di rumah, plus pelayan dan penjaga tentunya karena Hendrayan sudah berangkat sejak pagi tadi.


"Iya, Ma." Dia duduk dan memiringkan tubuhnya menghadap Yasmin.


"Gimana di sana? Kamu betah?" tanya Yasmin sambil merapikan poni Naynay.


"Betah kok, Ma. Orang di sana baik-baik semua." Berbohong sedikit tentang satu makhluk yang sama sekali tidak menyukai dirinya di rumah mewah itu.


"Kewajiban kamu gimana?"


'Tumben mama nanyain tentang kewajiban.'


"Kalau kewajiban di ranjang?" Pertanyaan Yasmin yang ini sukses membuat Naynay tersedak. Dengan cepat dia meneguk jus jeruk milik Yasmin.


"Mama kenapa nanya tentang itu?" tanya Naynay setelah menghabiskan separuh isi gelas.


"Ya Mama pikir kamu itu udah nerima Afif sepenuhnya sebagai suamimu," ujar Yasmin sambil meminum jus jeruknya yang tinggal setengah gelas itu.


"Nay udah nerima kak Afif sebagai suami sejak awal menikah, Ma. Tapi kalau urusan ranjang, Nay belum siap." Naynay menunduk.


Yasmin meraih dan membawa tubuh mungil putrinya itu ke dalam pelukannya. "Mama ngerti, pasti berat buat kamu untuk melakukan yang satu itu. Tapi yang namanya istri itu harus melayani suaminya lahir dan batin."


"Kalau kamu belum melakukannya, yang tadi pagi itu apa?" tanya Yasmin sambil menjawil hidung Naynay.


"Emangnya Naynay ngapain, Ma?" tanya Naynay bingung mendongak menatap Yasmin yang tersenyum jahil.


"Itu lhoo, Mama sempet lihat kamu tidur cuma ditutup selimut doang, trus Afif pas itu telanjang dada lagi." Alis Yasmin naik turun menggoda Naynay yang tersentak dengan wajah konyol.


"Mama salah paham," sanggah Naynay sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ah, masaaaa....." Masing menggoda pipi Naynay mulai merona.


"Mama!...." Naynay merengek seperti anak kecil yang digoda anak laki-laki se usianya.


"Hahaha.... Ya jelasin dong, Nay."


Bibir Naynay mengerucut sebal. "Nay dijahilin sama kak Afif, handuk Nay ditarik sampe lepas."


Tawa Yasmin mengeras mendengar penjelasan Naynay. "Jadi itu penyebab mata bengkak ini, hhmm?"


Nay mengangguk. "Kak Afif cium-cium, Naynay jadi takut....." ujarnya polos.


"Mama rasa Afif itu baik banget lho, Nay. Dia bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh kamu, padahal kan udah halal gini. Itu tandanya dia mengerti bahwa kamu masih belum siap," ucap Yasmin tersenyum hangat, senyum yang seminggu lebih tidak Naynay lihat.


"Nay udah nambah dosa lagi, ya, Ma. Udah bikin orang tua kecewa, sekarang dosa karena tidak memberikan hak suami." Hormon ibu hamil mulai berulah, raut wajah Naynay sudah berubah sendu.


Yasmin mengelus surai hitam Naynay. "Kamu nggak bikin kami kecewa, Nay. Emang takdir yang digariskan Tuhan itu seperti ini, jadi kita harus terima dengan lapang dada. Tentang memberikan hak suami, coba kamu membiasakan diri dulu dengan perlakuan Afif. Tapi ketika dia meminta, kamu tidak bisa menolaknya!"


"Tapi Nay masih takut." Suara bumil itu terdengar begitu lirih.


"Ya makanya dibiasakan dulu, Nay. Ingat, kamu tidak boleh menolak jika dia memintanya!" ucap Yasmin lembut namun sedikit tegas.


"Iya, Ma." Akhirnya Naynay tersenyum sambil mengangguk. Mungkin dia memang harus membiasakan diri dengan perlakuan Afif. Dia tidak mau menambah dosa lagi, takut jika timbangan dosanya lebih berat dari amal baiknya. Bisa-bisa nanti dia langsung ditendang ke neraka.


"Mama juga berharap kamu itu hanya menikah satu kali seumur hidup."


Jederrrr


.


.


.


.


.


Selamat membaca ♡