My Perfect Husband

My Perfect Husband
Menghabiskan waktu bersama



Hari minggu adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh anak sekolahan. Di mana mereka bisa menghabiskan waktu untuk sekedar santai di rumah ataupun nongkrong di cafe-cafe kekinian yang instagramable. Pastinya satu hari ini juga berperan penting dalam banyaknya postingan terbaru di sosmed muda-mudi yang gila hunting tempat foto.


Biasanya Naynay, Rania, dan Rosi akan pergi ke pusat perbelanjaan dan mengajak anak-anak panti untuk berbelanja. Tapi sekarang, Naynay sudah bersuami dan tidak bisa pergi tanpa seizin Afif. Dia sudah mengirimkan pesan kepada Rania dan Rosi karena tidak bisa ikut bersama mereka hari ini. Dia mengirim pesan diam-diam ketika Afif sedang di kamar mandi.


Pagi ini, ketika Naynay selesai memuntahkan isi perutnya, Afif kembali membawanya ke tempat tidur untuk beristirahat kembali. Afif melarangnya untuk keluar dari kamar karena wajahnya begitu pucat. Naynay tentu tidak bisa membantah karena tatapan tajam Afif selalu berhasil membuatnya menurut. Sarapan juga diantar oleh Pak Hen setelah menerima telepon dari sang Tuan Muda.


"Wajahmu pucat, istirahat saja!" Afif membawa Naynay ke dalam pelukannya. Mereka baru saja selesai sarapan di sofa kamar.


"Nay baik-baik aja kok, Kak." Mendongakkan kepalanya tapi kembali di dorong pelan oleh Afif.


"Jangan membantah!" Afif menepuk-nepuk pelan kepala Naynay yang berada di dada bidangnya.


Afif sedang mencoba membiasakan Naynay untuk lebih dekat dengannya. Salah satunya adalah dengan memeluk dan mencium Naynay setiap hari dan kebanyakan dari itu semua adalah modus. Dia suka melihat wajah Naynay yang memerah malu jika dicium, dan dia juga sangat suka mencium bibir mungil Naynay yang rasanya manis itu.


Naynay bisa merasakan dada Afif berdebar begitu cepat, suara debaran itu seakan menghipnotisnya hingga kedua tangannya melingkar di tubuh atletis Afif. Kepalanya mendusel di dada yang tertutupi kaos abu-abu itu.


"Tahilalatmu yang ini besar juga, ya." Afif menusuk-nusuk tahilalat sebesar isi biji kuaci yang ada di pundak kanan Naynay.


"Mama juga punya, tapi di sebelah kiri, Kak." Naynay sedikit merinding karena merasa geli oleh jari Afif yang menusuk-nusuk dan mengelus tahilalatnya.


"Aku juga punya, di belakang telingaku," ucap Afif membuat Naynay mendongak.


"Nay mau lihat!" Naynay melepaskan pelukannya dan duduk bersila di atas sofa.


Afif memiringkan kepalanya di depan wajahnya Naynay. Tangannya menyibak daun telinganya hingga Naynay bisa melihat titik hitam dengan nama tahilalat itu. Besarnya hampir sama dengan yang ada di pundak kanan Naynay.


"Bentuknya mirip lambang hati." Jari telunjuk Naynay menusuk-nusuk tahilalat di balik telinga Afif itu.


Afif menyandarkan tubuhnya kembali di sandaran sofa. "Lambang hati?" tanyanya sambil mengusap tahilalatnya, Naynay mengangguk mengiyakan.


"Ada berapa tahilalat di tubuhmu?" Wajah Afif dibuat seperti penasaran, seolah-olah dia benar-benar tidak tahu. Padahal dia sangat hapal jumlah dan letak tahilalat di tubuh Naynay.


"Nggak Nay hitung, Kak. Tapi memang ada beberapa yang mudah buat dilihat," ucap Naynay jujur menjawab pertanyaan Afif. Gila apa, dia menghitung berapa jumlah tahilalat yang tersebar di tubuh indahnya. Seperti tidak ada kerjaan saja, pikirnya.


'Ini terlalu cepat kalau aku memintanya membuka baju,' batin Afif sedikit kesal.


Melipat kedua tangannya di depan dada, Afif menatap Naynay yang sedang mengikat rambutnya asal-asalan. Memikirkan apa yang akan mereka lakukan untuk menghabiskan waktu di hari minggu ini.


"Ikut aku!" Afif menarik tangan Naynay menuju ruang ganti. Membuka pintu lemari, dia mengambil pakaian renang dan memberikannya pada Naynay.


"Pakai!"


Naynay memandang geli baju renang model one piece dengan warna hitam di tangannya. Seumur hidup, dia belum pernah memakai pakaian model beginian. Rasanya tidak nyaman kalau bagian menonjol tubuhnya diperlihatkan, ya walaupun di depan Afif yang merupakan suaminya sendiri.


"Nay nggak mau," ucap Naynay menggelengkan kepalanya.


"Pakai! Kita akan berenang di halaman belakang, aku tunggu kau di luar." Tatapan tajam kembali dilayangkan Afif, karena dia tahu kalau istrinya ini akan patuh jika dihadiahi tatapan maut ini.


"Kak, Nay nggak bisa berenang!" Meraih tangan Afif yang ingin berjalan keluar dari ruang ganti.


"Aku akan mengajarimu, cepat ganti!" Afif keluar setelah mencuri kecupan di pipi Naynay dan menyambar celana pendek dari lemari yang sama.


Naynay menghembuskan napas kesal, laki-laki yang menjadi suaminya itu sangat-sangat menyebalkan. Keinginannya harus selalu dituruti. Akhirnya dia hanya bisa pasrah dan sabar. Dengan ogah-ogahan, Naynay memakai baju renang yang membuatnya geli itu.


"Ihh.... Enggak banget, sumpah." Melihat pantulan tubuhnya di cermin, menatap jengah dada dan bagian bawah tubuhnya yang terbuka.


Naynay mengambil bathrobe yang juga ada di sana dan memakainya. Ini jauh lebih baik dari pada hanya memakai baju renang saja. Setelah itu dia keluar dan menghampiri Afif yang juga sudah memakai bathrobe, piyamanya sudah tergeletak sembarangan di atas sofa.


Setibanya di samping kolam renang, mereka melakukan sedikit pemanasan. Afif membuka bathrobe nya dan melempar sembarangan. Naynay dengan cepat menangkapnya agar tidak jatuh dan kotor, sedangkan suaminya itu sudah melompat ke dalam kolam renang dengan celana pendeknya.


Naynay memilih duduk di tepi kolam karena dia tidak bisa berenang, Hendrayan bahkan sudah angkat tangan mengajarinya. Kolam renang di rumah Hendrayan tidak pernah diisi sampai penuh karenanya. Itupun Naynay menaiki floaties angsa hitamnya untuk bersantai.


Naynay menutup matanya karena Afif tiba-tiba muncul di depan kakinya yang terendam air. Tubuh putih dan berotot itu sekarang berada tepat di Naynay, bahkan tangan kekar itu melingkar di pinggangnya.


"Kenapa kau malah duduk di sini?" Lupa kalau istrinya tidak bisa berenang. "Dan kenapa matamu kau tutup?" Tidak sadar pula kalau istrinya masih trauma dengan laki-laki, apalagi telanjang dada seperti ini.


"Aaa... Aku lupa kau tidak bisa berenang. Ayo, aku akan mengajarimu!" Afif menarik ikatan bathrobe di tubuh Naynay membuat istrinya itu terkejut.


"Berapa meter?" tanya Naynay sambil menahan tangan Afif yang hendak menyingkap jubah mandi yang dia pakai.


"Yang di pinggir ini 1,5 meter, dan di tengah itu 2,5 meter."


"Tinggi Nay cuma 153, Kak." Kode kalau dia menolak untuk berenang.


"Kau masih punya 3cm untuk tidak tenggelam di sini, aku akan menahan tubuhmu." Afif menyingkap bathrobe Naynay hingga tergeletak dan tubuh setengah telanjang itu terlihat.


"Aaaa....." Naynay berteriak karena Afif menarik pinggulnya hingga dia jatuh ke dalam kolam. Dengan cepat dia berjinjit agar 3cm tinggi tubuhnya itu bisa dia manfaatkan untuk bernapas.


Afif segera mengangkat tubuh Naynay yang ketakutan, kedua tangannya menahan pinggul istrinya itu agar tidak jatuh dari tubuhnya. Ya, walaupun kaki Naynay sudah melingkar erat di pinggang Afif saat ini.


"Nay nggak mau berenang," ucap Naynay pelan di telinga Afif.


"Kau itu sama seperti kucing, takut air." Tertawa keras sambil menyandarkan tubuhnya di tepi kolam.


"Nay nggak takut air, tapi nggak bisa berenang." Menatap suaminya tidak terima dikatai kucing yang takut air.


"Di rumahmu ada kolam renang juga, apa kau tidak pernah belajar berenang di sana?" tanya Afif dengan masih tertawa.


"Papa sering ngajarin, tapi Nay enggak juga bisa sampe sekarang."


"Papamu? Kau pakai pakaian seperti ini juga?" Gusar sampai lupa kalau istrinya itu tidak suka memakai pakaian terbuka, kecuali saat ini dan itupun karena dipaksa. Mungkinkah kau sedang cemburu? Dan itu pada papa mertuamu sendiri, Afif. Ckckck


"Enggak, Kak. Nay nggak pernah punya pakaian seterbuka ini. Yang paling pendek cuma celana setengah paha, sumpah!" Naynay membentuk huruf V dengan dua jarinya, takut kalau suaminya kesal.


Afif menarik tengkuk Naynay hingga bibirnya bertemu dengan bibir mungil manis itu. Bibir Naynay adalah bibir pertama dan satu-satunya yang dia cium. Debaran di dadanya bisa dirasakan oleh Naynay karena tidak ada jarak di tubuh mereka. Tahukah kalian bahwa Afif sedang menahan hasratnya saat ini?


Itu salahnya sendiri, kan dia yang menyuruh Naynay memakai baju renang sexy itu. Apalagi sebelah tangannya memegang pinggul Naynay yang tepat berada di bagian paling sensitifnya.


Akhirnya Afif memutuskan menyudahi acara berenang singkat itu, tidak jadi mengajari istrinya berenang seperti katanya tadi. Dia tidak mau menerkam Naynay yang masih trauma itu.


.


.


.


.


.


Note Naynay hari ini : "Akhirnya pakaian aneh ini terlepas dari tubuhku😆"


Selamat membaca ♡