
Afif memasuki kamar setelah berolahraga di ruangan olahraganya. Dia melirik sekilas Naynay yang masih tertidur di karpet sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Menghabiskan sekitar dua puluh menit untuk membersihkan diri, Afif keluar melalui ruang ganti yang memang terhubung dengan kamar mandi. Dia hanya memakai celana pendek dan kaos hitam polos. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, Afif berjalan mendekati koala buntingnya yang masih tidur lelap.
"Nay..." bisik Afif di telinga istrinya, jari telunjuknya juga menoel-noel pipi chubby itu.
"Hhmm..." Hanya gumaman lirih yang terdengar.
"Nay...." Afif masih belum berhenti untuk mengganggu Naynay.
Naynay memutar tubuhnya membelakangi Afif dan memeluk selimut. Efek tidur terlalu larut, Naynay masih mengantuk dan enggan untuk bangun. Padahal cahaya matahari sudah masuk melalui celah gorden, tapi dia masih tidur dengan mulut sedikit terbuka.
"Nay, kau mau pulang ke rumahmu?" tanya Afif dengan masih menoel-noel pipi Naynay.
Naynay langsung membuka matanya dan duduk, wajahnya penuh binar menatap suaminya. "Mau," ucapnya senang.
"Mandi dulu sana!" Afif tahu kalau istrinya ini malas mandi, dilihat dari perubahan ekspresi Naynay yang lesu jika disuruh mandi.
"Iya, Kak." Naynay berjalan lesu sambil membawa selimut dan merapikannya di atas tempat tidur. Setelah itu barulah dia masuk ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Naynay memandang pantulan tubuhnya di cermin. Dia baru saja selesai mandi dan hanya memakai handuk. Pintu yang tersambung ke ruang ganti tidak bisa dibuka, tidak mungkin dia keluar hanya memakai handuk saja. Dan lagi, bathrobe yang biasanya tersedia di dalam laci di samping wastafel tiba-tiba menghilang semua. Hanya ada satu handuk yang sekarang melekat di tubuhnya saja.
Sudah tahu, kan, ini ulah siapa?
"Nay, kau tertidur di dalam sana?" Suara Afif terdengar bersahutan dengan gedoran pintu kamar mandi.
'Pertanyaan apa itu? Siapa juga yang tertidur di dalam kamar mandi.' Naynay kesal bukan main, bagaimana dia bisa keluar dari sini kalau tubuhnya hanya dibalut handuk sebatas dada dan paha. Sialnya, piyama yang tadi dipakainya sudah basah.
"Hanaya!" Suara Afif sudah meninggi, Naynay tidak punya pilihan lain selain membuka pintu. Dia hanya bisa menunduk saat Afif menarik tangannya keluar dari kamar mandi.
"Kenapa kau lama sekali? Aku kira kau tidur atau pingsan karena muntah di sana." Sok tidak tahu apa-apa, padahal yang mengunci pintu menuju ruang ganti adalah dirinya.
Naynay baru sadar kalau dirinya tidak muntah tadi, ini baru pertama kali dia tidak muntah di pagi hari.
"Nay nggak muntah, nggak tidur, dan nggak pingsan." Naynay menyanggah semua yang disebut suaminya.
"Tapi kenapa kau lama sekali di sana?" Masih bertingkah seolah tidak tahu.
"Pintu ke ruang ganti nggak bisa dibuka, Kak."
"Coba kulihat," ucap Afif dan masuk ke kamar mandi, dengan cepat dia membuka pintu ke ruang ganti dengan kunci yang dia bawa.
"Pintunya bisa dibuka," ujar Afif menemui Naynay kembali.
"Tapi tadi..." Tubuh Naynay sudah dihimpit ke dinding sehingga tidak melanjutkan ucapannya.
"Kau berniat menggodaku, ya?" Afif mengurung tubuh Naynay dengan kedua tangan dan wajahnya sudah berada tepat di depan wajah Naynay yang mendadak pucat.
"Terlalu dekat, Kak." Naynay berusaha mendorong tubuh kekar Afif, tapi dia kalah kuat hingga tak membuahkan hasil apa-apa.
"Jarak seperti ini wajar untuk pasangan suami istri," ucap Afif santai membuat Naynay terkejut dan membayangkan adegan apa yang biasanya dilakukan pasangan suami istri.
"Kak, Nay mau pakai baju!" Dia panik dan takut jika Afif meminta haknya sekarang. Jujur, ketakutannya masih besar terhadap laki-laki, apalagi dalam posisi seperti ini.
"Nay, kau mau pakai baju atau mau seperti ini saja?" Afif menggoda dengan menarik sedikit handuk yang dipakai Naynay.
"Oke, Nay cium." Naynay mengecup kedua pipi dan bibir Afif dengan cepat.
Tapi sayangnya dia selalu kalah jika beradu kecepatan dan kekuatan dengan Afif. Suaminya itu sudah menahan tengkuknya hingga dia tidak bisa melepas ciuman itu. Gigitan yang dilakukan Afif membuat Naynay mau tak mau membuka mulutnya hingga suaminya itu melanjutkan aksinya.
Ciuman terlepas bersamaan dengan melorotnya sesuatu dari tubuh Naynay, Afif memandang Naynay yang kembali pucat. Baru saja dia ingin mengalihkan pandangannya ke arah bawah, Naynay langsung memegang wajah Afif agar tidak bergerak.
Naynay benar-benar merasa malu, saking malunya dia sampai menangis "Hiks... Jangan lihat!" ucapnya dengan suara meninggi pada Afif. Tapi di mata suaminya itu, dia terlihat sangat menggemaskan.
Dengan masih menahan kepala Afif agar tidak melihat tubuh polosnya, Naynay menggerakkan kakinya untuk mengambil handuk itu. Setelah dapat, dia mengambilnya dengan sebelah tangan dan menempelkan sembarangan di tubuhnya.
"Ihh, kok nggak bisa dipake... Hiks..." Naynay mencoba melilitkan handuk itu kembali, tapi susah karena satu tangannya menahan wajah Afif agar tetap berada tepat di depan wajahnya. Rasa malu bercampur takut membuat air matanya mengucur deras.
"Biar aku pakaikan, kau tidak perlu takut." Afif meraih handuk itu tanpa melihatnya katena kepalanya masih ditahan. Hingga Naynay semakin menangis karena tangan Afif mendarat di salah satu aset berharganya.
"Maaf, aku tidak sengaja." Dengan cepat Afif menarik handuk itu dan melilitkannya di tubuh Naynay. Melihat Naynay yang menangis seperti itu Afif sangat ingin tertawa, tapi juga tidak tega.
"Sudah selesai, sana pakai bajumu!" Afif mencubit pipi Naynay yang basah karena air mata, bukannya bertindak romantis dengan menyeka lelehan air mata itu.
Naynay berlari memasuki ruang ganti dan mengunci pintunya, meninggalkan Afif yang gelisah sendiri karena sempat menyentuh sesuatu yang lembut dan kenyal-kenyal itu. Ingin menyentuh lagi, tapi koala buntingnya pasti merasa takut saat ini.
Di dalam ruang ganti, Naynay sudah memakai baju kaos hitam dipadukan dengan celana kulot putih. Jejak air mata masih terlihat jelas di wajahnya. Naynay enggan keluar dari sana karena merasa malu bertemu dengan Afif. Tapi perutnya sudah berbunyi minta dikasih asupan, jadi mau tak mau harus keluar juga.
Naynay membuka pintu dan tidak mendapati Afif ada di kamar, dia duduk di depan meja riasnya. Ketika sedang menyisir rambutnya, Naynay melihat dari pantulan cerminnya Afif memasuki kamar dengan Pak Hen yang membawa nampan.
Pak Hen meletakkan nampan berisi sarapan itu di atas meja dan keluar setelah mendapat kode mata dari Afif yang sudah duduk di sofa panjang.
"Kemarilah!" Afif menggerakkan tangannya menyuruh Naynay agar duduk di sampingnya.
Dengan kepala menunduk, Naynay mendekat dan duduk di samping suaminya itu. Wajahnya mendadak memerah kembali jika mengingat kejadian memalukan tadi. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mencoba melupakannya.
"Makanlah, aku tidak akan membahas apa yang terjadi barusan." Afif memberikan roti yang diberi oleh selai coklat kepada Naynay.
'Kau membuatku tambah malu karena ucapanmu itu... Hiks...." Naynay menerima roti itu dan memakannya sambil menangis di dalam hati.
Afif sendiri berusaha menahan tawanya melihat ekspresi Naynay yang memerah malu. Dia sebenarnya juga merasa sedikit malu karena kejadian tadi, tapi dia bisa menutupinya dengan baik.
.
.
.
.
.
Note Afif hari ini : "Aku akan sering-sering mengunci pintu ruang ganti, hahaha...."
Selamat membaca ♡