
Arya memijit pelipisnya yang terasa pusing. Ia menatap frustasi tumpukan laporan yang kini berada di atas meja tepat di depannya.
Sejak kepergian Andre, ia bertanggung jawab sepenuhnya atas pekerjaan kantor yang menurutnya sangat melelahkan.
"Permisi pak." suara itu mampu mengalihkan pandangannya. Ia adalah Viona, gadis yang berstatus sebagai sekretarisnya.
Gadis cantik dengan rambut sebahu berjalan gontai ke arahnya, tak lupa dengan senyum khas gadis itu.
"Pak Arya, hari ini kita ada meeting jam 2 siang." ujarnya lembut.
Arya mengangguk "Kamu sudah mempersiapkan semuanya ?"
"Sudah pak."
"Baiklah kalau begitu."
"Kalau begitu saya permisi." saat hendak pergi ia kembali membalikkan badannya dan menatap Arya.
"Saya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan Pak Arya." ujarnya lagi.
"Ahh.. itu. Ya, terimakasih Viona." Arya sedikit gugup, ia tahu selama ini gadis itu sudah menyimpan rasa untuknya. Namun dirinya tak pernah menanggapinya, ia menganggap Viona tak lebih dari sekretarisnya saja.
.
Clara melirik jam dinding di kamarnya dan ini sudah menunjukkan pukul 22.10 akan tetapi sosok Arya tak kunjung datang.
Apa mungkin dia lembur ? Tapi kenapa ia tak mengabariku sama sekali, batinnya.
Clara terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara decitan pintu. Ia menatap Arya yang kini berjalan ke arah sofa yang terletak di samping ranjangnya, lelaki itu terlihat lelah. Terlihat dari wajah nya yang teelihat lesu, kemeja yang dikenakannya tampak kusut dengan dasi yang tampak masih bergantung disana.
Tampak Arya memejamkan matanya dengan nafas teratur. Mungkin ia tak menyadari sepasang mata yang sejak tadi sudah mengawasinya.
"Apa pekerjaan di kantor sangat banyak ?" tanya Clara menghampirinya, namun tak ada jawaban.
Mungkinkah ia sudah tidur ? batinnya mengibaskan tangannya di atas wajahnya memastikan apakah lelaki itu sudah tidur.
Ia melengos mengetahui bahwa Arya memang sudah tertidur. Clara bergegas masuk kekamar mandi untuk menyiapkan perlengkapan mandi Arya, selang beberapa menit ia sudah kembali ke tempat semula.
Tanpa komando ia segera melepas sepatu yang dikenakan oleh Arya dan meletakkan sepatu itu pada tempatnya.
Sedang Arya terbangun setelah merasakan seseorang sedang menyentuh kakinya, benar saja ia mendapati Clara yang sedang membuka sepatunya. Ia sedikit menyinggungkan senyumnya, ada perasaan hangat yang menjalar di hatinya. Lelah di tubuhnya sedikit berkurang melihat hal manis yang dilakukan oleh istrinya tersebut.
"Istri.." gumamnya pelan mengingat kata istri yang berarti gadis itu adalah miliknya.
"Kakak udah bangun ?" pertanyaan itu membuyarkan Arya dari lamunannya.
"Sebaiknya kakak mandi dulu, aku sudah menyiapkan semuanya." ujarnya lembut.
Arya hanya mengangguk dan melangkah pergi ke kamar mandi.
Selama lelaki itu mandi, Clara membuka lemari milik Arya dan segera menyiapkan baju untuk tidur.
"Kakak sudah selesai... Ahhh" gadis itu sedikit berteriak sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia tak habis pikir dengan melihat Arya yang hanya mengenakan handuk di pinggang bisa membuat dirinya jantungan.
"Kamu kenapa ?" tanya Arya mendekatinya sambil mengeringkan rambut basahnya.
"Terus kenapa kamu menutup wajahmu ?"
Dengan cepat Clara menurunkan tangannya, mencoba menghilangkan kegugupannya.
"Tidak ada." jawabnya tanpa menatap lelaki itu.
Arya berpikir sejenak sebelum akhirnya ia tersenyum licik dan mulai berjalan mendekati gadisnya. Itu sontak membuat Clara kaget dan berjalan mundur seiring Arya berjalan mendekatinya.
"Kakak ngapain ?" ujarnya bergetar.
"Menurutmu..." Arya menggoda dan tetap maju.
"Akhh.." pekik Clara ketika tubuhnya terjatuh di atas ranjang diikuti oleh Arya yang ikut terjatuh di atas tubuhnya.
Tak ada lagi suara yang terdengar.
Tak ada lagi jarak di antara mereka, Arya menelan salivanya ketika menatap wajah Clara dengan jarak hanya 10 cm. Ia bisa merasakan detak jantung gadis itu, seirama dengan jantungnya.
Ia bisa melihat dengan jelas wajah cantik Clara. Perlahan ia menatap manik mata milik Clara yang menurutnya sangat cantik, beralih pada hidung mancung miliknya hingga akhirnya pada bibir tipis gadis itu.
Clara bisa merasakan hembusan nafas Arya di wajahnya. Perlahan ia menutup matanya, hingga ia merasakan sebuah benda kenyal menyentuh bibir tipisnya.
Hangat, itulah yang dirasakan oleh gadis itu.
Entah kenapa tubuhnya terasa tegang saat merasakan bibir Arya semakin posesif mencumbu bibir tipis miliknya.
Ia bisa melihat ekspresi lelaki yang mencumbui dirinya tampak sangat menikmati, entah keberanian dari mana ia spontan membalas ciuman panas itu.
Arya yang merasa mendapat lampu hijau segera menyingkirkan anak rambut yang berada di wajah Clara. Ia kembali menciumi gadis itu hingga ke leher dan meninggalkan jejak kepemilikan disana.
"Kak..." ujar Clara lembut, membuat Arya menghentikan aksinya. Perlahan ia menatap manik mata milik istrinya itu.
"Apa kakak melakukannya atas dasar cinta ?" pertanyaan itu mampu menyadarkan dirinya, ia segera bangkit dan menjauhkan tubuhnya.
Perlahan Clara bangkit dan duduk di tepi ranjang.
"Aku tidak menolak ketika kakak menyentuhku, karna itu memang kewajibanku sebagai istri. Tapi aku ingin kakak menginginkan tubuhku karna cinta, bukan nafsu." jelasnya.
Arya menatap tak percaya dengan penjelasan gadisnya itu. Kemudian ia berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Clara yang masih duduk di tepi ranjang.
"Aku mengerti." ujarnya sambil mengusap kepala gadisnya.
"Maka dari itu, mari kita membuka hati masing-masing."
"Maksud Kakak ?"
"Kita belajar untuk saling mencintai." ucap Arya mantap.
Clara tersenyum tipis dan mengangguk sebagai jawaban.
Mungkin ini akan menjadi awal untuk pernikahanku. Mungkin juga awal dari kebahagianku, batinnya.