
Cuaca pagi ini kurang baik, gerimis turun yang membasahi dedaunan membuat Naynay masih betah dengan tidurnya sambil memeluk selimut yang dia gulung-gulung. Bantal guling sudah mendarat dengan epic di lantai karena ulah Afif yang sama sekali tidak menyukai benda itu.
Afif memeluk Naynay dari belakang, tangannya mengelus perut istrinya itu. Pembicaraannya dengan Hendrayan semalam masih berputar-putar di benaknya. Haruskah dia melepas wanita yang sedang dipeluknya ini saat anak itu lahir nanti?
"Kak..." Suara imut khas bangun tidur Naynay membuyarkan semua lamunan Afif tentang dirinya.
"Kalau kau masih mengantuk, tidur lagi saja." Afif mengangkat tubuhnya hingga berpindah posisi ke depan Naynay.
"Ihh, kenapa nggak bangunin sih, Naynay kan harus sekolah!" ujar Naynay panik ketika melirik jam di atas nakas yang menunjukkan pukul delapan pagi.
"Tidur lagi saja. Suamimu ini adalah pemilik sekolah, apalagi yang kau khawatirkan?" Nada songong itu membuat Naynay kesal bukan main. Resiko punya suami yang terlewat kaya, sombongnya keterlaluan sekali.
'Padahal aku ingin jalan-jalan bareng Rania dan Rosi.'
Gagal sudah planning Naynay yang sepakat dengan kedua sahabatnya untuk pergi jalan-jalan setelah sekolah hari ini. Kalau Naynay membantah, Afif sudah pasti akan marah dan menghadiahinya tatapan maut beserta wajah datar menyeramkan sebagai bonusnya.
Hanya mengumpat di dalam hati saja yang bisa dilakukan koala bunting menggemaskan ini. Setidaknya yang tahu isi hatinya hanya dia sendiri dan Tuhan tentunya, malaikat tidak mencatat dosanya yang mengumpati suaminya.
"Jam berapa Kakak masuk ke kamar tadi malam?" tanya Naynay yang tubuhnya sudah dipeluk dan pipinya dicium gemas. Selimut yang tadinya dia peluk sudah terbang dan mendarat di belakangnya.
"Tengah malam," jawab Afif singkat dengan masih cium-cium.
"Nay baru bangun lho, Kak, belum cuci muka." Tangan Naynay mendorong pelan wajah suaminya itu.
"Apa masalahnya? Kau belum mandi pun aku tetap suka." Mendekatkan wajahnya kembali dan langsung meraup bibir yang sudah menjadi candunya itu.
Mau seperti apapun Naynay membentengi hatinya, tapi perlakuan Afif selalu membuat organ tubuhnya yang satu itu mengkhianati dirinya. Detak jantung Naynay tak lagi normal, layaknya puluhan kuda yang sedang berlari dan menimbulkan suara gemuruh dari hentakan kakinya.
"Hahaha... Aku sangat suka melihat wajah memerahmu itu." Afif tertawa melihat wajah Naynay yang memerah malu dan mencubitnya.
Naynay langsung melepaskan diri dari pelukan Afif dan berlari memasuki kamar mandi. Memegangi dadanya yang masih berdebar begitu cepat, Naynay melihat pantulan wajah memerahnya di cermin.
"Kenapa memerah sih?" Naynay menepuk-nepuk pipinya agar kembali ke warna normal.
Di atas tempat tidur, Afif malah tertawa lebih keras sambil guling-guling. Menggoda Naynay memanglah hobi barunya. Sungguh, Naynay membawa banyak perubahan pada diri Afif. Baru seminggu menikah, tapi sikap Afif yang sedingin gunung es dan mustahil tersentuh puncaknya itu mulai meleleh perlahan.
Puas tertawa sambil guling-guling di atas tempat tidur, Afif berjalan mendekati kamar mandi. Dia berdiri di samping pintu yang masih tertutup dan terdengar juga suara gemericik air dari dalam. Afif sudah menyabotase kamar mandi Naynay saat bangun tadi, ia ingin mengulangi kejadian seperti kemarin, siapa tahu bisa dapat durian runtuh lagi.
Kamar mandi Naynay tidak terhubung dengan ruang gantinya, jadi Afif tidak perlu menyembunyikan kunci ruangan itu. Dia hanya memindahkan semua handuk yang ada di kamar mandi ke ruang ganti yang berada di sebelah, menyisakan satu untuk dipakai istrinya.
Di dalam kamar mandi, Naynay kembali merutuki sifat cerobohnya yang asal melemparkan piyama sembarangan hingga mendarat mendarat di lantai kamar mandi yang basah. Menggigit jarinya sambil bolak-balik kanan-kiri, Naynay harus siap diserang lagi jika keluar hanya memakai handuk saja.
'Jangan sampai melorot lagi.' Naynay memperbaiki lilitan handuknya agar kejadian memalukan kemarin tidak terulang kembali. Tentu berbanding terbalik dengan harapan laki-laki yang sudah menunggu dengan bertelanjang dada di luar sana.
Sebelah tangan Naynay memegang lilitan handuknya, dan satu lagi membuka pintu kamar mandi. Menghela napas panjang, Naynay memberanikan dirinya keluar. Seketika matanya membulat sempurna kala mendapati laki-laki bertelanjang dada di depannya. Detik selanjutnya, Naynay langsung menutup rapat matanya.
"Nay, kau suka sekali menggodaku pagi-pagi, ya." Afif sudah memegang bahu Naynay yang terbuka.
Naynay sedikit merinding merasakan telapak tangan Afif yang melekat di bahunya. Dia langsung membuka matanya karena mendengar tuduhan suaminya.
"Nay lupa bawa baju ganti," ucap Naynay sambil mempererat pegangan di handuknya.
"Emangnya Kakak mau?" Alis Naynay terangkat sebelah.
"Tentu saja tidak, aku lebih suka melihatmu begini." Afif tersenyum miring yang membuat Naynay semakin merinding.
'Astaga, mati aku.'
"Kau kedinginan?" Pertanyaan bodoh Afif yang membuat Naynay semakin kedinginan.
Naynay membalas dengan anggukan karena sudah sejak tadi dia menggigil kedinginan. Apalagi Afif belum mematikan kipas angin agar rencananya berjalan dengan lancar.
"Kau boleh memelukku jika kau mau." Afif langsung menarik tubuh Naynay hingga wajah istrinya itu menempel sempurna di dadanya.
Rasa hangat langsung mengalir di tubuh Naynay ketika bagian tubuhnya yang terbuka menempel di tubuh Afif. Pipinya menghangat kala menyadari di mana dia mendarat sekarang. Dada bidang itu kembali membuat jantung Naynay menggila.
Sensasi kali ini berbeda dengan kejadian di kolam renang minggu lalu, di mana Naynay juga dipeluk oleh Afif yang bertelanjang dada. Tapi ketika itu Naynay sedang panik, tidak seperti saat ini yang dalam keadaan baik-baik saja.
Afif mendorong pelan tubuh Naynay ke belakang hingga jatuh ke atas tempat tidur. Naynay tersadar ketika tubuhnya sudah ditindih oleh Afif. Tubuhnya juga sudah dikunci sempurna hingga tidak bisa melarikan diri dari situasi menakutkan ini.
"Nay." Suara Afif terdengar berbeda, hasil dari rencananya sendiri membuat hasratnya bangkit.
Naynay menerima serangan lembut di bibirnya, Afif tetap tidak berbuat kasar meski sedang dikuasai hasrat yang menggebu-gebu. Naynay memejamkan matanya seraya memegang erat lilitan handuknya. Membiarkan suaminya melakukan apa yang dia inginkan.
Tangan Afif sudah memegang tangan Naynay dan menarik handuk itu hingga terlepas di atas tempat tidur. Mata elang miliknya menatap lelehan cairan bening dari ujung mata Naynay yang tertutup. Terpaksa dia melepaskan ciumannya dan menyingkir dari atas tubuh Naynay.
"Aku tidak akan melakukannya, jangan menangis." Afif menghapus air mata Naynay yang sudah membasahi pipi chubbynya.
Naynay membuka matanya dan langsung memeluk Afif untuk menutupi tubuh polosnya. Afif segera menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua. Dielusnya punggung istrinya yang masih menangis agar tenang. Entah rencananya berhasil atau gagal, Afif bingung sendiri.
Cukup lama Naynay menangis, selama itu pula Afif menenangkannya dengan mengelus punggung ataupun menciumi puncak kepala istrinya itu. Dua benda kenyal yang menempel di dadanya tidak dirasakannya karena terlalu fokus menenangkan Naynay.
"Nay, kau tidur?"
Tidak ada jawaban, hanya terdengar isakan kecil. Afif menjauhkan kepalanya hingga bisa melihat apa istrinya itu tertidur. Naynay memang tertidur karena lelah menangis, tapi bibirnya masih mengeluarkan isakan yang membuat Afif tersenyum tipis.
"Sepertinya aku harus menunggu lebih lama, ya." Afif memeluk Naynay lebih erat.
.
.
.
.
.
Afif : "Apa ini yang menempel di dadaku, lembut dan kenyal-kenyal."
Selamat membaca ♡