My Perfect Husband

My Perfect Husband
Mukbang with Rania and.....



Sudah lima hari Naynay tinggal di rumahnya, sudah masuk sekolah lagi seperti biasa. Siswa kelas 3 memang tidak boleh bermalas-malasan, kan. Disibukkan dengan ujian-ujian yang menguras emosi dan membuat kepala terasa ingin meledak. Kecuali dilarang oleh suami yang merupakan pemilik sekolah kalian, hanya bisa mengangguk patuh.


Dan selama lima hari itu juga Afif tidak menghubunginya. Sebenarnya hati kecil laki-laki itu mempunyai keinginan untuk menghubungi koala buntingnya, tapi dia urungkan ketika melihat wanita itu baik-baik saja. Seperti biasa, anak buah Ryan akan memberikan laporan kegiatan dan foto-foto Naynay tiga kali sehari. Persis seperti anjuran minum obat dari dokter, ya.


Sepulang sekolah, Naynay mengajak Rania ke rumahnya. Dengan air liur yang hampir menetes, bumil itu meminta Rania memesan berbagai macam street food khas Korea.


"Tumben kamu pesan sebanyak ini, Nay." Rania sedikit melongo melihat pesanan Naynay yang lumayan banyak.


"Pas jam kosong tadi aku nonton konten mukbang, jadi kepingin deh sekarang." Tersenyum lapar sambil mengikat rambutnya.


Mata Rania berlabuh di dada Naynay yang terlihat lebih besar dari biasanya. "Nay, dada kamu kok besar banget kelihatannya?"


Naynay meraba dadanya yang memang terasa lebih padat dan berisi. "Mama bilang kalau orang hamil akan mengalami perubahan pada bentuk tubuhnya. Mungkin ini salah satunya."


"Kamu udah kayak Kylie Jenner lho, Nay." Rania tertawa sambil meniru lekuk body gitar Spanyol dengan kedua tangannya.


"Kamu makin hari makin nyebelin, Ran." Naynay melempari tubuh Rania dengan bantal sofa kamarnya.


"Bercanda doang, Nay!" ucap Rania dengan masih tertawa membuat Naynay mendengus sebal.


Suara pintu diketuk membuat Naynay dan Rania menoleh ke arah suara. Naynay membukakan pintu dan Yasmin muncul dengan dagu terangkat seperti mau mengajak tawuran.


"Buruan turun! Makanan kalian udah datang." Setelah mengatakan itu dengan nada jutek, Yasmin berlalu dari sana.


"Wahh, tante kenapa tuh, Nay?" Rania tiba-tiba muncul dari bawah ketek Naynay yang masih terkejut dengan sikap aneh Yasmin.


"Ayo kita turun, aku penasaran kenapa mama bisa jutek gitu." Tangan Rania langsung ditarik hingga gadis itu terseret sampai ke meja makan berada.


Di sana Yasmin sedang duduk sambil bersandar di kursi dan tangan terlipat di depan dada. Wajah mamanya itu ditekuk seperti orang yang kesal akan sesuatu, dan Naynay serta Rania sudah pasti penasaran.


"Ma, kok wajahnya gitu? Lagi bete, ya?" tanya Naynay setelah duduk di kursi samping Yasmin, tangannya sibuk membuka satu per satu pesanannya yang berada di depannya.


"Papa kamu nggak mau beliin Mama gaun yang ada di butiknya Kiran." Bibirnya mengerucut kesal.


'Karena gaun doang nih?' Naynay menggeleng sambil memandang Yasmin yang memanyunkan bibirnya.


"Emangnya Tante mau gaun yang mana?" tanya Rania yang kepo karena Yasmin menyebut butik milik mamanya.


"Itu lho, Ran. Gaun putih yang baru aja di posting sama mama kamu, yang ada selendangnya juga." Yasmin dengan cepat memperlihatkan foto gaun putih sederhana tapi elegan dengan selendang yang menutupi kepala manekin.


"Kenapa papa nggak mau beliin? Biasanya apapun yang Mama minta pasti langsung tuh dibeliin." Sambil memindahkan makanannya ke atas piring, Naynay menatap mamanya.


"Katanya alasan Mama bikin dia pusing." Bibir kembali mengerucut.


"Mama kasih alasan apa sama papa?" tanya Naynay kepo, begitupun dengan Rania.


Yasmin memperbaiki duduknya menjadi lebih tegak. "Mama bilang kalau gaun itu buat tujuh bulanan kandungan kamu nanti."


Uhukkkk


Naynay langsung terbatuk sampai tenggorokannya terasa perih. Alasan Yasmin memang sangat memungkinkan untuk memicu Hendrayan mengalami sakit kepala.


"Pantes papa nolak," ucap Naynay memanyunkan bibir mungilnya.


"Nggak ada salahnya kan, Nay, kalau Mama belinya sekarang? Mama itu semangat banget buat nyambut cucu Mama." Yasmin mengepalkan tangannya di depan wajah dengan pose imut.


"Enam bulan lagi, Ma. Nanti juga ada yang model paling baru, papa pasti mau beliin tuh."


"Terserah Mama deh." Naynay mengalah dan mulai menyantap makanan yang sudah dia tata rapi.


"Nay, bagi dong!" pekik Rania sambil berlari membuka laci untuk mengambil sendok. Setelahnya dia sudah bergabung dengan Naynay.


"Apa-apaan kalian, Mama mau juga!"


Rania menyerahkan satu sendok yang tadi sudah dia persiapkan untuk Yasmin. Dan beginilah akhir dari perdebatan gaun berselendang tadi, mereka sibuk memakan makanan yang ada di atas meja itu dengan lahap.


"Afif nggak ngabarin kapan dia pulang?" tanya Yasmin di sela-sela menyuap ramen yang kuahnya benar-benar merah.


"Nggak, Ma."


"Ya kamu yang tanya dong!"


"Iya, Ma!" ujar Naynay mengulas senyum paksa yang sudah gemas dengan mamanya itu.


Satu per satu isi piring dan mangkok yang tadinya penuh sudah tandas tak bersisa. Ketiga perempuan ini memang monsternya street food andalan semua drakor. Mereka berpindah dari ruang makan ke ruang keluarga, menonton talk show yang membahas tentang pengusaha-pengusaha muda. Ya salah satunya adalah Afif, suami si koala bunting.


'Jadi ini alasan dia ke keluar kota.'


"Suami kamu tuh nggak pernah senyum, ya, Nay!" Rania heboh sendiri melihat raut wajah manusia yang duduk di sofa sebagai tamu undangan. Menjawab pertanyaan dari pembawa acara pun laki-laki itu berwajah datar dan jawaban singkat saja.


"Sok tau kamu, tiap hari tuh dia senyum mulu. Aku sampe takut bibirnya kesemutan," sanggah Naynay sambil melirik sahabatnya itu.


"Masa sih? Mungkin karena sekarang ada istri kali ya, makanya dia senyum mulu." Rania menggoda Naynay hingga wajah bumil itu sedikit merona.


"Iya kayaknya, Ran. Lihat tuh, wajahnya Naynay memerah." Yasmin ikut-ikutan.


"Ihhh, nyebelin dehh!" Naynay meninggal kedua perempuan berbeda generasi yang sedang tertawa itu. Dia berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Naynay membelai perutnya. Entah anak siapa yang dia kandung ini, tapi sebagai ibu yang baik, Naynay tidak pernah membenci janin kecil itu.


"Mama itu udah seneng banget kamu itu nggak rewel lagi beberapa hari yang lalu, tapi semenjak kak Afif pergi kamu rewel lagi."


Naynay memang kembali mengalami morning sickness semenjak Afif ke luar kota. Malah sekarang lebih sering, tidak hanya di pagi hari saja. Kadang-kadang dia juga muntah jika mencium bau masakan Yasmin, muntahnya random banget.


"Kita kerja sama dong, Sayang. Walaupun Mama nggak ngeluh sama sekali, tapi kadang capek juga bolak-balik ke kamar mandi. Kamu sayang sama Mama nggak sih?" Naynay mengetuk-ngetuk pelan perutnya sambil memarahi si janin kecil.


"Cepat besar, ya, Sayang. Mama nggak sabar pengen ketemu kamu." Tubuh Naynay sudah miring sambil memeluk bantal gulingnya.


Kerjaan koala bunting ya cuman ini doang. Sekolah, makan, abis itu tidur. Kalau sore kadang mandi, kalau males ya nggak mandi. Sederhananya, Naynay berubah menjadi pemalas yang berteman akrab dengan tempat tidur dan bantal gulingnya.


.


.


.


.


.


Makasih buat yang udah baca, rate, kasih vote dan poin, serta yang udah komen baik-baik.


Aku sayang kalian ♡