
Setelah berkeliling mall dan meladeni kegilaan Rania yang masih ingin membeli baju bayi, Naynay menyeret Rania pulang selepas membeli beberapa pasang kaos kaki bayi. Itupun dengan susah payah membawa Rania kembali ke basment mall, tempat mereka parkir.
"Padahal aku masih mau beli yang lain lho, Nay." Rania masih mengoceh dalam perjalanan pulang.
"Yang hamil itu aku atau kamu?" tanya Naynay gemas dengan sahabatnya itu.
"Bukan masalah siapa yang hamil, Nay. Aku itu gemes sama semua perlengkapan bayi itu!" balas Rania masih tak terima mereka pulang secepat ini. Air liurnya seakan menetes melihat semua perlengkapan bayi yang sangat imut di sana.
Naynay menggeleng-gelengkan kepalanya. "Enam bulan lagi kita belanja baju bayinya, Ran. Kamu bebas mau beli berapa banyak."
Rania diam tak membalas. Dia mengemudikan mobil dengan bibir mengerucut, bahkan setelah mereka sampai di rumah pun bibirnya masih setia mengerucut.
Naynay langsung pergi ke kamarnya sambil membawa sekotak pizza yang mereka beli di perjalanan pulang tadi, diikuti Rania yang berjalan di belakang. Dia masih dalam mode merajuk kepada Naynay.
Naynay duduk di atas karpet bulu di samping ranjangnya dan membuka kotak pizza itu.
"Kamu nggak mau?" tanya Naynay kepada Rania yang duduk sambil bersidekap dada.
"Aku masih ngambek!" balas Rania dan memalingkan wajahnya.
"Enak lho, Ran. Yakin nggak mau?" Naynay menggigit sepotong pizza yang dia ambil dengan mata terpejam, seolah-olah begitu enak.
Rania sebenarnya mau, tapi dia masih kesal dengan Naynay.
Saat sedang sibuk mengunyah pizza, Naynay terpikirkan sebuah ide tentang kaos kaki bayi yang tadi dibeli Rania.
"Ran, makan dulu! Nanti kita tempel kaos kaki tadi di depan pintu kamar aku," ucap Naynay sambil mendorong kotak pizza ke depan Rania.
Rania akhirnya mengambil sepotong pizza dan memakannya dengan cepat. Gengsi kok dipelihara? Nggak bikin kenyang juga.
Setelah menghabiskan sepotong pizza di tangannya, Naynay mengambil paper bag kecil yang berisi kaos kaki bayi itu.
"Tempel pakai apa ya?" tanya Naynay bingung.
"Pakai double tape aja, Nay!" Rania memberikan barang yang dia maksud kepada Naynay.
"Oke."
Mereka menempelkan lima pasang kaos kaki bayi dengan warna berbeda itu di depan pintu kamar Naynay. Pintu kamar Naynay yang awalnya berwarna hitam dan abu-abu, sekarang menjadi sangat imut dengan adanya kaos kaki kecil tersebut.
Yasmin yang baru keluar dari kamarnya bersama Hendrayan, terlihat berbinar melihat Naynay dan Rania yang masih sibuk menempel kaos kaki itu.
"Lucu banget! Kalian jadi belanja baju bayi?"tanya Yasmin sambil memegang kaos kaki itu.
"Nggak, Ma. Ini Rania yang maksa buat beli, jadi daripada disimpan, Naynay tempel di sini aja biar imut gitu!" jelas Naynay sambil tersenyum lebar.
Ponsel Rania berdering, dengan cepat dia mengangkatnya. Ternyata yang menelepon adalah mamanya.
"Kenapa, Ran?" tanya Naynay setelah Rania menyimpan ponselnya kembali.
"Mamaku, nanyain aku pulang atau nggak. Aku jawab kalau mau nginap di sini lagi, nanti sopir yang nganter seragam buat sekolah besok," jelas Rania, yang membuat Naynay terdiam.
Hendrayan yang tahu apa pikiran Naynay pun membawa mereka semua masuk ke dalam kamar Naynay.
"Sekolah Naynay gimana?" tanya Naynay gang baru ingat kalau besok dia akan sekolah.
"Kamu sekolah aja seperti biasa, dua bulan lagi kamu kan lulus. Perut kamu belum terlihat membesar kok," ucap Yasmin menenangkan putrinya yang cemas.
"Nay nggak bisa langsung kuliah, ya, habis lulus nanti?" tanya Naynay sendu.
Yasmin menatap Hendrayan bingung. Jika Naynay sudah bersuami, itu bisa. Tapi ini berbeda, dia hamil diluar nikah dan pasti akan dipertanyakan oleh pihak kampus nantinya.
"Kamu jangan pikirkan tentang kuliah dulu! Setelah kamu lulus, Papa akan coba membicarakannya dengan pihak kampus di mana kamu kuliah nanti," ucap Hendrayan dan memeluk Naynay.
"Makasih ya, Pa, Ma!" ucap Naynay yang kembali merasa sedih.
"Nay, jangan nangis dong! Aku juga ikutan sedih nih," ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.
"Haha, ayo kita makan siang!" seru Yasmin sambil tertawa.
***
Afif yang selama satu bulan ini disibukkan dengan urusan pekerjaannya, ternyata selalu memantau kegiatan dan keadaan Naynay. Tentu bukan dia yang turun langsung, tapi anak buah Ryan yang mengawasi dan memberikan informasi kepada Ryan. Yang selanjutnya akan dia sampaikan kepada Afif.
Bukan perkara sulit bagi Ryan untuk mendapatkan semua informasi terkait tentang identitas Naynay. Hanya dalam satu jam, dia sudah mendapatkan semua informasi tersebut dan memberikannya kepada sang CEO.
Dan orang-orang yang menabrak Naynay di hari itu adalah suruhan Ryan untuk melihat tahilalat yang dimiliki Naynay. Selama satu bulan ini, dia mengawasi Naynay sesuai perintah Afif.
"Ada informasi terbaru?" Afif yang duduk di kursi kebesarannya menatap Ryan tajam.
"Kemaren, Nona Naynay pingsan dan Tuan Hendrayan memanggil dokter untuk memeriksanya. Tapi ada dua dokter yang datang, yang salah satunya adalah dokter kandungan di rumah sakit kita, Tuan Muda." Ryan menceritakan semua yang dia dapat dari anak buahnya.
Ryan yang melihat Afif menatapnya tajam, tentu tahu kalau Tuan Muda itu meminta penjelasan lebih.
"Pagi ini, Tuan Hendrayan dan Nyonya Yasmin membawa Nona Naynay ke rumah sakit. Mereka menemui dokter kandungan yang memeriksanya kemaren. Nona Naynay sedang hamil dan baru berusia empat minggu." Ryan melihat raut wajah Afif yang sedikit berubah terkejut, tapi hanya sebentar.
"Apa Tuan Hendrayan dan istrinya tidak marah mengetahui anaknya hamil?" tanya Afif sambil berjalan menuju kaca yang menampilkan pemandangan gedung-gedung tinggi lainnya.
"Tuan Hendrayan menampar Nona Naynay saat itu, tapi malam harinya, beliau dan istrinya menemani Nona Naynay tidur. Itu karena sahabat Nona Naynay yang memberikan rekaman suara Nona kepada Tuan Hendrayan." Ryan kembali menjelaskan.
Afif berjalan menuju sofa dan duduk di sana. "Dia masih sekolah, apa yang harus aku lakukan?" tanyanya tidak tahu berbuat apa. Afif merasa ini bukanlah dirinya.
"Saya mendukung setiap keputusan Anda," ucap Ryan tenang.
"Sepertinya, menikahinya adalah jalan terbaik. Setelah anak itu lahir, aku akan memikirkan apa yang akan aku lakukan kedepannya." Ucapan itu terlontar dari bibir laki-laki tampan tersebut.
Ryan yang sudah bersumpah akan melakukan setiap perintah Afif tanpa terkecuali, langsung paham apa yang dimaksud si Tuan Muda.
"Saya akan menyiapkan semuanya," ujar Ryan menganggukkan kepalanya dan keluar dari ruangan Afif.
Afif sudah membuat keputusan yang menurutnya tepat, tapi tidak ada yang tahu masa depan itu seperti apa. Tuhan dengan mudahnya membolak-balikkan perasaan manusia, tak terkecuali Afif tentunya.
.
.
.
.
.
Vote Favorite Rate Like ♡