
Hari ini adalah hari terakhir Naynay melaksanakan ujian, ia sudah dijemput oleh Ryan di depan gerbang dan tujuan selanjutnya adalah Cavin Group. Selama ujian, Naynay selalu diantar dan dijemput oleh Ryan dan selanjutnya akan dibawa ke tempat di mana CEO tampan sedang bekerja.
Staff di lantai paling kramat di gedung megah ini sudah tahu kalau Naynay adalah istri CEO mereka karena dulu sempat ikut andil dalam persiapan dan penyelenggaraan acara pernikahan mewah atasan mereka itu.
Seperti biasa, Naynay selalu memakai masker hitam yang menutupi wajahnya. Setelah Ryan membukakan pintu ruangan Afif, Naynay langsung masuk dan Ryan akan masuk ke ruangan yang berada di samping ruangan CEO.
Afif sedang berbaring di atas sofa dengan tangan terlipat di atas dada. Mata tajam itu terlihat terpejam, tapi Naynay tahu kalau suaminya itu tidak tidur. Bumil itu meletakkan masker serta tasnya di atas sofa dan berjalan menuju meja kerja Afif, duduk di kursi CEO dan memejamkan matanya. Sejak di dalam mobil tadi, dia sudah tidak sabar untuk mencoba tidur di kursi kebesaran suaminya.
Karena merasakan Naynay menjauh, Afif membuka matanya dan mengikuti langkah istri kecilnya itu yang menuju meja kerjanya. Karena setelah sekitar sepuluh menit, Afif tak kunjung mendapati Naynay membuka matanya. Dia menghampiri istrinya itu dan menusuk-nusuk pipi chubby itu dengan gemas.
"Secepat ini dia tertidur?" Menggeleng tak percaya sambil duduk di kursi yang ada di depan Naynay. Afif memutar laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia melirik laptop dan wajah konyol Naynay bergantian. Wanita di depannya itu membuatnya terlalu bersemangat hingga tak menyadari jam makan siang tiba.
Ryan masuk ke dalam ruangan dengan membawa makan siang untuk Tuan Muda dan Nona Mudanya. Ekspresi terkejut terpatri di wajahnya kala melihat Naynay duduk di kursi CEO dan Afif yang merupakan CEO itu duduk di kursi yang bersebrangan dengan Naynay.
"Aku tidak tega membangunkannya, tapi dia belum makan, kan." Afif berdiri dan membuka jasnya, sepasang mata elang miliknya menatap istrinya yang tidur dengan posisi duduk di kursinya.
"Lebih baik Anda membangunkan nona, Tuan Muda." Ryan menjawab karena perkataan Afif tadi merupakan bentuk meminta pendapat.
"Baiklah, kau boleh keluar." Perintah langsung dipatuhi, Ryan keluar dari ruangan itu dengan sesekali mengintip apa yang akan dilakukan atasannya itu.
Saat Afif mendekati Naynay, istrinya itu membuka mata dan meregangkan ototnya yang sedikit nyeri karena tidur dengan posisi duduk. Mau bagaimana lagi, ini yang sangat dia inginkan saat pulang sekolah tadi.
"Ayo makan siang." Afif berjalan terlebih dahulu menuju sofa.
Naynay berjalan pelan sambil mengusap-usap matanya. Dia duduk di samping Afif dan langsung menyantap makan siangnya. Dia ingin segera tidur lagi, makanya langsung ngebut agar makanannya cepat habis.
"Kau bisa tersedak kalau makan seperti itu."
Uhukk
"Nah, apa kubilang?" Afif menyodorkan air mineral dan langsung disambar oleh Naynay. Dia meneguk setengah botol air itu karena tenggorokannya terasa perih karena tersedak.
"Habiskan makananmu, tapi makan dengan pelan!" ucap Afif sambil melayangkan cubitan gemas di pipi Naynay.
Setelah makan siang selesai, Afif kembali berkutat dengan berkas dan laptopnya. Rambutnya sudah tidak se-rapi pagi tadi, tapi rambut acak-acakan seperti itu malah membuat ketampanannya bertambah.
Naynay merebahkan tubuhnya di sofa, bosan menunggu Afif selesai bekerja. Karena ponselnya masih disita, Naynay hanya bisa manyun sambil menatap langit-langit.
"Kak, Nay boleh pinjam hp Kakak, nggak?" Akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, dari pada nanti dia mati karena bosan.
"Di dalam saku jas." Afif melirik sekilas jasnya yang tersampir di kursi yang tadi didudukinya saat Naynay tidur.
Merasa mendapat izin, Naynay dengan semangat berlari kecil menuju kursi di depan meja Afif. Dia merogoh saku jas hitam itu dan tersenyum kala tangannya sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Setelah itu dia kembali merebahkan dirinya di atas sofa panjang tadi.
"Kak, pinnya?" Naynay mendongak menatap Afif sambil menggoyang-goyangkan hp yang dipegangnya.
"Tanggal pernikahan kita." Tanpa menatap wajah istrinya yang terlihat sedikit terkejut.
Akhirnya dia memutuskan untuk memutar lagu dari boyband idolanya. Perut kenyang membuat Naynay kembali merasakan kantuk yang sempat hilang karena tersedak tadi. Meletakkan hp di atas meja, Naynay memejamkan matanya.
Semenjak hamil, Naynay berubah menjadi pemalas. Kerjanya lebih banyak tidur, sangat berbeda dari dia yang dulu sangat aktif layaknya bayi yang baru bisa berjalan.
Afif hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya. Alasan dia membawa Naynay ke sini itu karena dia merasa begitu bersemangat bila melihat wajah imut menggemaskan Naynay. Saking semangatnya, dia bahkan menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya. Yang dulu pulang ketika langit sudah gelap, sekarang pulang bahkan ketika hari masih bisa disebut siang.
Pekerjaan selesai, Afif mendekati Naynay dan mematikan ponselnya. Dia membangunkan Naynay dengan cara menjepit kedua pipi chubby itu dan menggerakkannya hingga bibir Naynay mengerucut.
"Nay, kau mau aku tinggalkan di sini?"
Merasa tidurnya terganggu, Naynay mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa berat. Dia memandang jemari Afif yang masih setia mengapit pipinya.
"Lepuas dolou!" ucap Naynay kurang jelas karena bibirnya masih mengerucut akibat jemari Afif.
Naynay duduk dan mengusap wajahnya yang kusut sehabis tidur. Afif sudah memakai jasnya kembali dan rambutnya juga sudah dirapikan kembali.
"Kau mau langsung pulang atau mampir ke suatu tempat?" tanya Afif sambil merapikan rambut Naynay yang kusut.
"Langsung pulang aja, Kak." Naynay menjawab dengan dada yang berdebar tidak normal karena perlakuan Afif.
Naynay memakai maskernya kembali dan mereka keluar. Di lobi, Naynay selalu menjadi pusat perhatian para karyawan. Walaupun mereka hanya sekedar melirik diam-diam, tapi Naynay menyadarinya.
'Jika bukan karena perintah suami wajib dituruti, aku nggak akan pernah datang ke sini.' Naynay merasa jadi artis dadakan di sini.
Mereka masuk ke dalam mobil dan Ryan segera melaju menuju rumah dengan kecepatan sedang. Seperti biasa, hanya ada keheningan yang tercipta di sana. Afif yang memang dasarnya jarang berbicara dan Ryan yang hanya akan berbicara jika diberi pertanyaan, membuat Naynay pusing sendiri.
Mobil mereka tiba bertepatan dengan mobil box yang keluar dari gerbang rumah mewah itu. Naynay keluar dari mobil dan digandeng oleh Afif menaiki tangga menuju kamar mereka.
Pintu kamar dibuka dan Naynay terkejut seketika melihat begitu banyak dus paket bertumpuk di dalam sana.
"Mandi dulu sana, nanti kau akan tahu." Afif merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Naynay segera masuk ke kamar mandi, dalam hatinya dia masih bingung dengan keberadaan puluhan paket yang bertumpuk di dalam kamarnya.
.
.
.
.
.
Selamat membaca ♡